Advertisement · 728 × 90
#
Hashtag
#hadashi
Advertisement · 728 × 90
Post image Post image

Barefoot happiness. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

0 0 0 0
Post image

Foot on glass. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

2 0 0 0
Post image

#barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets #barefoottraining

0 0 0 0
Post image

Random sketch. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

1 1 0 0
Post image

Summer vibes. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets #beach

3 0 1 0
Post image Post image

Love with #fountainpen #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #ink

1 0 0 0
Post image

Cold hike... #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

2 0 0 0
Post image

Barefoot at the beach. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art

1 1 0 0
Video

Little barefoot hike. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art

1 0 0 0
Post image

She loves to be barefoot. #forest #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art

3 0 0 0
Post image

#barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets #barefoottraining

0 0 0 0
Video

Early morning earthing. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art

1 0 0 0
Post image

Sunny feet. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

0 1 0 0
Post image

This morning. Finally some warmth. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography

0 0 0 0
Post image

Prettig weekend. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

0 0 0 0
Close up of bare toes in the shower.

Close up of bare toes in the shower.

Shower time. #barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #mood #baresoles #feetinart #art #blootsvoets

1 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 5 Chapter 4 **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena ** ** **Chapter 4 - Musim Semi Ke-N** Kelopak bunga sakura memenuhi pandanganku. Aroma bunga yang menyengat memenuhi udara, angin hangat musim semi membelai kulitku. ──Pemandangan ini terasa familiar. Sensasi seperti ini, aku jelas pernah mengalaminya sebelumnya. Ya, itu waktu… ketika aku pertama kali mengalami perjalanan waktu. Saat pertama kali memainkan piano bersama Makoto di ruang klub, dan kembali ke hari upacara masuk sekolah 3 tahun yang lalu── …Artinya, ini… Kenyataan bahwa aku ada di sini berarti… *Dokk Saat itu──sesuatu menghantam dadaku cukup keras. “──Ah, maaf!” Terdengar suara yang kukenal. “Kelopak bunga sakuranya banyak sekali, jadi aku tidak bisa lihat ke depan…” ──Itu suara yang sangat akrab. Suara gadis yang begitu berarti, yang pernah kupilih untuk berada di sampingku. Angin mereda, badai kelopak bunga sakura pun berhenti. Kelopak-kelopak bunga perlahan jatuh di sekitar kakiku, membuka kembali pandangan── Dan di depanku──dia berdiri di sana. Seorang gadis berambut hitam panjang, menahannya dengan tangan, menampilkan senyum di wajahnya yang cerah dan cantik. Lalu── “Salam kenal. Aku, Nito Chika…” Dengan wajah yang sedikit malu-malu, dia, Nito, berbicara padaku. Pemandangan yang pernah kulihat, kata-kata yang pernah kudengar. Kemudian dia sedikit menunjukkan ekspresi cemas, “Kamu… masih ingat aku, tidak?” Wajahnya terlihat takut, seolah sedang memastikan apakah benar-benar berhasil kembali atau tidak. Karena itu, aku berusaha menampakkan wajah selembut mungkin, “Tentu saja aku ingat.” dan menatapnya sambil mengangguk dalam-dalam. “Kamu adalah pacarku yang sangat berharga, Nito.” “…Syukurlah.” Dia menghela napas panjang, lalu menggenggam tanganku erat. “Berhasil juga, ya… kita benar-benar berhasil…” ──Berhasil. Ya──tidak salah lagi. ──Ini adalah 1 tahun yang lalu. Aku dan Nito, pada hari itu, 1 tahun yang lalu, kami berhasil kembali ke hari upacara masuk sekolah kami── Sambil tetap saling berpegangan tangan, kami menoleh ke sekitar. Kami berdiri di dekat gerbang utama sekolah. Gerbang tua berlumut khas sekolah negeri, dengan area parkir sederhana di dekatnya. Di sekitar, para siswa berseragam yang sama berkumpul, ditemani oleh orang tua mereka yang tampak seperti wali murid. Keriuhan yang penuh kegembiraan, mirip suasana festival── “Kalau begitu, dua orang lainnya juga──” “──Chikaaa!” Tepat pada saat itu, suara lantang memanggil dari arah lain. Suara ceria bernada tinggi, seperti berayun di udara. Sedikit lebih muda dari Nito, terdengar penuh percaya diri. Lalu, “Mone!” Nito memanggilnya, dan di saat bersamaan──seorang gadis muncul dari kerumunan. Dengan mata bulat seperti anak anjing, tubuh agak mungil, dan meski ini hari pertama masuk sekolah, seragamnya sudah sedikit berantakan. Dia adalah anggota penting klub astronomi kami, Igarashi Mone── “Hei, ini… berhasil, kan!?” Igarashi-san meraih tangan Nito, tubuhnya bergetar penuh semangat. “Kita benar-benar kembali, kan!? Ke hari upacara masuk sekolah!” “Ya… benar.” “Wah, jadi ini yang namanya ‘mengulang’… ternyata sungguhan, ya…” Sambil berkata begitu, Igarashi-san menunduk menatap tubuhnya sendiri. Baru saja beberapa waktu yang lalu, di masa setahun kemudian, tubuhnya tampak sedikit lebih dewasa. Tapi sekarang, dia mengenakan seragam barunya, “Seragamnya masih baru, sepatu loafers-nya juga masih keras… wah, ini sungguhan, ya…” “Awalnya memang bikin kaget, kan.” Aku tersenyum pada reaksinya yang polos dan lucu. “Rambut juga tiba-tiba berubah panjang-pendek.” “Iya… rasanya aneh sekali… haaah…” Sambil berkeliling menatap sekitar, dia berbisik, “Jadi ini… 1 tahun yang lalu… kita, benar-benar kembali ke sini…” “──Yoo, para siswa baru!” Tiba-tiba──terdengar suara berat dan mantap dari belakang. “Selamat datang di sekolah.” Kami menoleh, melihat sosok berambut pendek dengan wajah tegas. Wajah percaya diri, tubuh berpostur tegap. ──Rokuyou-senpai. “Kelihatannya kalian bertiga akrab sekali, ya. Bolehkan aku ikutan.” Satu-satunya anggota senior klub astronomi kami. Dia juga ikut ‘mengulang’ bersama kami, anggota terakhir. Sepertinya dia juga berhasil──kembali ke 1 tahun yang lalu. “…Terima kasih, Senpai.” Aku membalas senyumnya sambil menjawab, “Senpai sampai repot-repot menyambut kami di tahun ajaran baru begini.” “Ah, tidak masalah.” Rokuyou-senpai tertawa nakal, “Soalnya rasanya aneh, seperti baru ketemu kalian barusan. Padahal harusnya ini pertemuan pertama.” “Ahaha, iya juga.” “Aku juga merasa seperti itu, Senpai!” Nito dan Igarashi-san menimpali sambil tertawa. Percakapan santai itu membuat dadaku terasa hangat. Mengulang masa SMA bersama anggota seperti ini, bukan hanya aku sendiri, bukan hanya aku dan Nito, tapi juga bersama teman-teman ini. Pasti bisa. Dengan mereka semua, kami pasti bisa meraih masa depan di mana semuanya tersenyum. “Oh iya, apa kalian… tertarik untuk ikut klub?” tanya Senpai, sambil menunjuk ke arah gedung sekolah, ruang klub kami. “Sekarang ini klub astronomi sedang asik, loh. Ruangannya bisa kita pakai sesuka hati.” “Oh, kedengarannya menarik.” “Aku mau masuk!” “Aku sih pass, mau masuk klub teh.” “Eh, masuk klub astronomi saja dong!” Sambil tertawa seperti itu, kami berempat kembali menatap gedung sekolah itu sekali lagi. * Setelah itu──kami berempat berkumpul untuk membicarakan rencana ke depan. Segera setelah upacara masuk selesai, kami datang ke sebuah restoran keluarga. “Sebenarnya lebih enak membicarakan ini di ruang klub, sih.” Aku tanpa sadar berkomentar sambil memegang gelas minuman. “Soalnya ya… sudah sangat kebiasaan mengobrol di sana, rasanya sudah nempel.” “Ya ya, tidak apa-apa kok.” Nito tersenyum sambil sedikit mengernyit. “Kita baru masuk sekolah, kan. Kalau tiba-tiba berkumpul di ruang klub, nanti malah dicurigain.” Rambutnya kali ini panjang lagi setelah sekian lama, membuatku merasa agak nostalgia. Katanya sendiri sih, dia sudah terbiasa dengan gaya pendek, jadi akan segera dipotong lagi, mungkin hari ini adalah kesempatan terakhir untuk melihatnya seperti ini. Tetap saja, aku jadi teringat bagaimana dulu aku jatuh cinta pada Nito dengan rambut yang seperti ini. “Jadi, soal ke depannya kan?” Igarashi-san mengambil alih pembicaraan dariku. “Soal bagaimana kita menghadapi acara-acara yang akan terjadi nanti. Mau itu perekrutan anggota, atau festival budaya, kita semua sudah tahu kurang lebih apa yang akan terjadi… tinggal bagaimana kita bertindak di situ.” “Benar.” “Hmm, mau bagaimana ya…” Ya, itulah masalahnya. 1 tahun penuh yang akan kita lalui berempat, lagi. Di putaran pertama saja sudah banyak hal yang terjadi, jadi kali ini kami harus memikirkan bagaimana menghadapi setiap peristiwa itu. Untuk itu, aku ingin kita menyatukan pandangan sejak awal. “Yang paling mendasar, ini benar-benar hal yang utama,” aku membuka pembicaraan dengan nada tegas. “Aku ingin kita selalu mengingat prioritas untuk menyelamatkan Makoto.” Bagaimanapun, itulah yang terpenting bagiku. Mencapai masa depan di mana Makoto bisa selamat. Artinya──kita harus memastikan dia masuk ke SMA Amanuma, dan mengambil langkah-langkah untuk menuju itu. “Kurasa semua tindakan kita nantinya akan berdampak pada pilihan Makoto. Cara kita bicara padanya, suasana di ruang klub juga. Tentu aku tidak mau hidup hanya demi Makoto semata, tapi… menyelamatkan dia tetap harus selalu ada di pikiran.” “Ya, itu memang yang utama.” Nito mengangguk mantap. “Aku juga setuju, tidak ada bantahan.” “Tentu, kita lakukan itu.” “Ya.” Igarashi-san dan Rokuyou-senpai juga mengiyakan. “…Tapi,” Igarashi-san menatapku dengan sedikit cemas, “Makoto tidak masuk SMA waktu itu… gara-gara hubunganmu dengan Chika, kan? Maksudku… dia tidak tahan melihat kalian berdua begitu dekat.” Wajahnya menunjukkan jelas rasa khawatir. Wajah yang biasanya terkesan tegas itu, kini terlihat penuh kepedulian. “Karena kamu dan Chika sudah resmi pacaran, dan saling memahami perasaan, melihat itu mungkin menyakitkan buat Makoto…” “Ya, memang begitu.” Aku mengangguk jujur, mengakuinya. “Dia sendiri juga sudah bilang seperti itu… walaupun sampai sekarang aku sendiri masih sulit percaya dia punya perasaan seperti itu padaku.” Sulit rasanya membayangkan Makoto benar-benar menyukaiku, tapi──itulah faktanya. Makoto terluka melihat hubunganku dengan Nito, dan akhirnya menolak masuk ke SMA Amanuma. “Jadi mungkin…,” Rokuyou-senpai mengerutkan kening, “Apa kalian… berencana untuk tidak pacaran? Maksudnya, kalian mau jaga jarak demi dia?” Nada suaranya terdengar agak kesal. Itu wajar. Memang kalau mau benar-benar memastikan Makoto selamat, cara yang paling pasti adalah menjaga jarak dengan Nito, seperti di garis waktu di mana hubungan kami belum terlalu dekat. Tapi, “…Tidak, kami tidak berniat seperti itu.” Aku menggeleng pelan, lalu meneguk sedikit cola tanpa kalori di gelasku. Rasanya sudah encer karena es, meninggalkan rasa manis palsu di lidah. “Kurasa… itu malah akan terasa tidak jujur. Hubungan kami sudah sedekat ini, tidak mungkin untuk mundur lagi.” Berbohong pada perasaan sendiri, tidak akan bertahan lama. Makoto mungkin akan tahu kebenarannya suatu saat, dan aku maupun Nito akan tetap terluka. Itu bukan penyelesaian yang kami inginkan. Jadi, kami harus mencari cara lain. “Syukurlah…” Suara lega itu datang dari sebelahku──Nito. Dia merebahkan setengah badannya di atas meja, lalu menatapku dengan ekspresi yang benar-benar lega. “Aku sempat takut… kamu mau putus. Maksudnya, demi Makoto, kamu mau balikin hubungan kita ke orang asing lagi…” “Ah, iya ya, memang wajar kau berpikir seperti itu.” Aku menunduk menatapnya sambil tersenyum kecil. “Aku mengerti kok kau khawatir… maaf. Tapi intinya, tidak, aku tidak mau putus. Kita akan tetap bersama, dan sama-sama cari cara agar Makoto bisa masuk ke SMA Amanuma.” “Tapi… apa kamu sudah kepikiran cara pastinya?” Igarashi-san menimpali, “Kamu kan pasti tetap mau dekat dengan Makoto di garis waktu ini? Apalagi urusan pencarian asteroid, kalian pasti bersama lagi kan?” Memang, itu rencanaku. Di masa SMA pertamaku, aku hampir tidak pernah berinteraksi dengan Makoto. Baru setelah dia masuk SMA-lah, kami mulai dekat. Dengan kata lain──kalau setahun ini aku sama sekali tidak mendekatinya, kemungkinan besar Makoto otomatis akan masuk ke SMA Amanuma. Kalau mau aman, itu bisa jadi pilihan. Tapi… aku tidak ingin menghapus kenangan kami di Desa Achi, saat mencari asteroid bersamanya. Hari-hari saat kami berburu asteroid adalah memori yang tak tergantikan bagiku. Itu adalah sesuatu yang sangat berharga, yang tak ingin kuanggap tidak pernah terjadi. Meskipun kalau begitu, akan perlu penyesuaian ekstra agar Makoto tidak merasa sakit hati── “Sebenarnya… kupikir tidak sesulit itu,” aku akhirnya mengutarakan perhitunganku dengan jujur. “Maksudku… ya, waktu itu kan jujur saja, aku lumayan mesra di depan Makoto. Bahkan waktu pencarian asteroid, aku sering sekali menunjukkan betapa dekatnya aku dengan Nito…” Memang kalau diingat-ingat, benar begitu. Pertama kali Makoto ketemu Nito pun di kafe, sebelum festival budaya, waktu kami membicarakan soal perjalanan waktu. Saat itu… Makoto melihat sendiri kedekatan kami. Padahal di pengulangan pertama, aku selalu berinteraksi hanya berdua dengannya. Sekarang, Makoto sudah tahu aku pacaran dengan Nito, dan dia sempat bilang, “──Tapi, cuma berdua saja. Kalau aku bisa menghabiskan waktu berdua dengan Senpai… mungkin masa depan itu juga tidak buruk…” Sejak saat itu──mungkin dia sudah merasa berat hati. Perasaan itu belum terlalu jelas waktu itu, tapi garis menuju akhir yang buruk, garis yang membuatnya menolak SMA Amanuma, sudah mulai terbentuk── “Ah… iya juga, ya…” Nito menunduk, “Kalau diingat-ingat… aku jadi seperti menyakiti Makoto sekali…” “Tidak, itu wajar kok,” “Chika juga, pasti berusaha keras, kan.” Rokuyou-senpai dan Igarashi-san menenangkan Nito yang tampak muram. Memang, waktu itu tak bisa disalahkan siapa pun. Waktu itu, justru Nito-lah yang lebih terpojok. Kalau itu demi menemukan cara untuk bertahan hidup, dia pasti tak sempat memikirkan cara-cara yang baik atau buruk. Karena itu… apa yang terjadi saat itu, mau bagaimana lagi. Apa yang Nito lakukan waktu itu, sama sekali bukan hal yang kejam atau salah. “…Iya, terima kasih.” Dia berkata pelan, seperti berbisik, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kali ini kita harus hati-hati. Jangan sampai menunjukkan hubungan kita terlalu jelas di depan Makoto-chan. Kita tidak akan berbohong, tapi juga sebisa mungkin tidak mengatakan hal-hal yang bisa menyakiti dia.” “Benar. Lalu sambil melihat situasi, kita pikirkan langkah-langkahnya dengan fleksibel.” Kurasa itulah yang paling baik pada akhirnya. Berlaku seolah-olah kami tidak dekat, hanya karena ingin menjaga perasaannya, itu mungkin malah terasa menghina bagi Makoto. Faktanya, dia pernah bilang sendiri. “Aku tidak mau dikasihani seperti itu,” katanya. Jadi… aku ingin bisa mencari hubungan yang lebih baik dengannya. Di garis waktu ini, aku ingin menemukan hubungan baru antara aku, Nito, dan Makoto. “Kalau begitu, soal Makoto-chan, mari kita lakukan seperti itu.” “Lalu soal acara lain juga, kita harus serius menjalaninya.” “Kalau aku, untuk live konser ya langsung turun panggung tanpa latihan,” Begitu urusan tentang Makoto sedikit selesai, kami berpindah membicarakan hal-hal lain. Ada banyak hal yang akan terjadi. Mulai dari mengumpulkan anggota klub, membuat video pertama, pindahnya Nito, kencan dengan Mitsuya-san, lalu festival budaya. Dan tentu saja—pencarian asteroid. Tentu, hal-hal kecil akan kami diskusikan nanti sambil berjalan. Tetapi secara garis besar, sikap kami sudah jelas. “──Aku tidak ingin terlalu memanfaatkan pengetahuan dari pertama kali, untuk dapat keuntungan.” “──Benar. Karena itu aku juga sebisa mungkin hanya memakai lagu-lagu yang muncul di pikiranku pada percobaan pertama.” “──Festival budaya! Kali ini kita harus menang! Dan, lomba masak lawan Mone juga!” Sambil bersemangat begitu, kami menyatukan arah tujuan kami. Pertama, jangan terlalu memanfaatkan informasi yang kami dapat dari pengulangan sebelumnya. Banyak hal yang sudah kami ketahui cara untuk menghadapinya. Misalnya, seleksi masuk ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’. Atau pertunjukan apa yang diadakan di festival budaya. Atau bagaimana kelanjutan kencan dengan Mitsuya-san. Di momen-momen seperti itu—kami tidak ingin memakai pengetahuan di awal seenaknya. Di hadapan orang-orang yang benar-benar baru menjalani waktu ini, kami ingin sebisa mungkin menghindari segala trik curang. Setidaknya, di hati, kami ingin menyambutnya seperti pertama kali. Berikutnya—orang-orang yang pernah membantu kami. Chiyoda-sensei, Minase-san. Nishigami, Takashima, Okita. Lalu… Mitsuya-san, Azuma-senpai, dan Nanamori-san juga. Kami sepakat untuk tetap berhubungan baik dengan mereka kali ini. Mereka yang bersama kami di kehidupan SMA pertama. Kami tidak ingin melupakan rasa terima kasih itu, dan rasanya menyedihkan kalau sekarang tiba-tiba jadi orang asing. Kalau tidak memaksa, kami ingin tetap berinteraksi dengan mereka. Dan terakhir── “Di atas semua itu… ayo kita jalani 1 tahun ini sebaik mungkin.” Aku mengatakan itu, pada semua orang di sana, juga pada diriku sendiri. “Kita memang punya tujuan, tapi tetap saja ini adalah 1 tahun yang penting di hidup kita.” Aku tidak mau melupakan itu. Memang, menyelamatkan Makoto adalah prioritas utama. Untuk itu kami sudah memutuskan meninggalkan 1 tahun sebelumnya, dan memulai lagi dari awal. Tapi… tidak peduli berapa kali pun kami mengulanginya, yang dimulai ini tetap masa SMA yang tak tergantikan. Menjalani hari-hari dengan sepenuh hati. Bertemu dengan banyak orang dan banyak hal, dan terus berubah. Aku juga ingin merasakannya dengan baik. “…Mari jalani kehidupan SMA yang baik, ya.” Karena itu aku berkata pada anggota klub astronomi. Pada tiga orang di depanku, yang bisa dibilang berbagi takdir denganku. “Kali ini juga… berhasil atau gagal, kita jadikan ini masa SMA yang berharga.” * Dan begitu—hari-hari pengulangan kami pun dimulai lagi, penuh keributan dan kesibukan yang membuat kepala berputar── *** POV: Nito Chika “──Ah, pada akhirnya jadi begini juga ya.” “──Iya sungguh…” Kami, Nito Chika dan Sakamoto Meguri, saling bercakap begitu—tepat pada tanggal 1 Mei. Lewat tengah malam, di rumahku sendiri. Larut malam, hanya ada aku dan dia di rumah. Kami duduk bersebelahan di kursi, sesekali bertukar kata pelan-pelan. Kalau dilihat hanya sepotong saja… rasanya seperti situasi yang bikin deg-degan. Berduaan dengan laki-laki yang kusuka, di tengah malam. Apa pun yang terjadi, tidak ada yang akan tahu. Kalau dalam keadaan seperti ini… rasanya tidak aneh kalau sesuatu terjadi, kan? Seolah hubungan kami aman melangkah maju begitu saja… kan? Tapi── “Eh? File voice-over-nya mana? Narasi dari Rokuyou-senpai.” “Ehm, untuk bagian suara sudah aku kumpulkan di folder ini sih…” “Ah… tapi sepertinya ini masih kurang.” ──Kami sedang bekerja. Laptop yang Meguri bawa dari rumahnya. Kami menatap layar kecil itu sama-sama, tekun mengedit video. Untuk catatan aktivitas klub. Hal yang juga sempat jadi masalah di tahun pertama, kami ulangi lagi sekarang. Dan lagi-lagi──di tenggat terakhir. Berdua dengan Meguri, di kamarku, siap-siap lembur semalaman… “Fuuuh…” “Mataku perih sekali…” “Iya…” Kami sama-sama bergumam dengan suara rendah. “Mau beli obat tetes mata?” “Apoteknya sudah tutup kan…” “Benar juga…” Suara kami berdua sudah serak. Karena lelah, pikirannya melambat, ritme percakapan juga tersendat-sendat. Padahal tadinya kami tidak mau mengulangi kesalahan seperti ini. Bukan sengaja meniru keadaan di percobaan pertama. Kami benar-benar mau melakukannya dengan lebih baik kali ini… Faktanya, syarat keberlangsungan klub—yaitu mencari anggota—sudah selesai secepat kilat. Aku, Meguri, Mone, dan Rokuyou-senpai. Kami sudah punya empat orang sejak awal, jadi tidak khawatir kekurangan anggota minimal. Memang, sempat mencoba merekrut tambahan anggota lain, tapi akhirnya tidak dapat siapa-siapa. Yah, tidak masalah, jadi kami lanjut fokus menyelesaikan video. Lalu, begitu kami mau mengunggah data video yang sudah selesai ke situs—laptopku mengalami crash. File mentahnya yang tersimpan di cloud masih aman, tapi data video finalnya lenyap entah ke mana. “──Ah! Laptopku kan memang rusak hari ini!” “──Aaaaah! Benar sekali!!!” “──Kita benar-benar lupa…!” Semua anggota klub langsung memegang kepala. Padahal kami sudah pernah mengalaminya satu kali, laptopku rusak di tanggal ini. Tapi—kami benar-benar lupa. Empat orang ini santai saja membuat video sambil bilang “kali ini gampang sekali” atau “sepertinya terlalu curang kalau begini” dan semacamnya. “──B-b-bagaimana sekarang!?” “──Di rumahku ada laptop!” “──Kalau begitu, cepat mulai mengedit di sana!” Dan—akhirnya jadi begini lagi. Sama persis seperti di tahun pertama, terpaksa mengedit video sambil begadang. “…Yah, mungkin beginilah jadinya ya.” Meguri bergumam sambil mengklik-klik mouse. “Aku kira hari-harinya akan benar-benar berbeda dengan sebelumnya, dan sepertinya kita tidak akan mengulangi kesalahan yang sama… tapi ternyata tidak segampang itu juga. Seperti di cerita paralel begitu, jalannya suka ketarik balik, atau semacamnya…” “Aah…” Kata-kata Meguri membuatku teringat semua ‘pengulangan’ yang pernah kulewati. “Ya… macam-macam sih ya…” “Heh?” “Kadang memang berubah total. Contohnya, beberapa kali belakangan ini aku baru bisa dekat denganmu, Meguri. Sebelumnya, kita bahkan nyaris tidak pernah mengobrol, seperti orang asing.” “Oh, iya ya, kau pernah cerita juga…” “Tapi memang, ada juga kejadian yang hampir selalu muncul, setiap kali. Contohnya, apapun yang terjadi, Azuma-senpai selalu tampil di festival budaya dan membuat suasana pecah sekali.” Azuma Kirara-senpai. Seorang kakak kelas di SMA Amanuma, yang sering mengunggah video dance di platform short video. Wajahnya imut, gerakannya keren, sampai terkenal di dalam dan luar negeri. Tapi aslinya, dia itu tipe yang anak olahraga sekali (sedikit berandalan) dan semangatnya luar biasa. Di ‘pengulangan’ sebelumnya, aku benar-benar bertanding langsung dengan dia, dan nyaris kalah karena penampilan live-nya terlalu keren. Waktu itu, aku benar-benar merasa akan kalah. Meguri juga sepertinya sadar akan ketangguhan Azuma-senpai, “Hebat! Tangguh sekali orang itu!” Katanya sambil mengangkat wajah dari laptop, kelihatan senang. “Memang cocok sih, orang seperti dia pasti akan membuat suasana live entah bagaimana caranya, di kondisi apa pun…” “Iya kan, hebat sekali dia…” Ngomong-ngomong… ada juga ‘pengulangan’ di mana Azuma-senpai pacaran dengan Rokuyou-senpai, tapi itu rahasiaku sendiri untuk sekarang. Lalu, “Ya, tapi banyak juga hal yang berubah kok.” Aku bilang begitu, sambil menatap Meguri. Entah sejak kapan, dia berhenti mengetik, seolah kelelahan. “Yang paling penting, kita sendiri sudah beda dari sebelumnya kan…” Aku menatap wajahnya dari samping. Mulutnya yang sedikit rileks karena lelah. Pipinya yang mulus dengan warna kulit yang bisa membuat iri. Wajahnya lumayan rupawan padahal dia sendiri tidak sadar sama sekali── Ya, hubungan kami sudah berubah. Sekarang, Meguri ada di sisiku. Bukan cuma secara fisik. Dia sungguh mau berada di sampingku, menemaniku yang dulu selalu sendirian. Berdiri di sebelahku dengan kakinya sendiri. Karena itu… di garis waktu ini, aku merasa pasti bisa menikmati musik dengan bahagia. Bukan lagi terpojok seperti sebelumnya. Aku yakin bisa menikmati bernyanyi, menikmati menciptakan lagu── “Hmm, ya, benar juga…” Meguri menjawab sambil meregangkan badannya, tidak sadar kalau aku menatapnya. “Ya, aku juga senang kok…” Suaranya sangat pelan, hampir seperti sedang bicara sendiri. Makanya aku mencondongkan tubuh, mendekat padanya—lalu cepat-cepat mengecup pipinya. Pipinya yang halus dan lembut seperti anak kecil itu── “!?” Meguri langsung menoleh padaku seperti terkejut. Matanya membulat, pipinya merah merona. Melihat dia begitu, “…Ayo kita semangat bersama-sama ya.” Aku bilang, sambil ikut merasa malu sendiri. “Akan ada hal yang berat juga ke depannya… tapi kita akan menghadapi itu bersama-sama ya.” *** POV: Igarashi Mone “──Baiklah, ini pertandingan balas dendam!” Tepat di depanku—Igarashi Mone ini—Rokuyou-senpai, mengenakan ekspresi ganas, mengucapkan kata-kata itu. Di depanku, yang sedang memakai apron rumah tangga seperti biasa, dia tampak benar-benar bersemangat. “Waktu duel masak sebelumnya… kari rempah andalanku kalah telak dengan masakan rumah Mone… kehebatan rasa yang lahir dari pengalaman sehari-hari, tidak bisa disaingi oleh masakanku yang cuma belajar kilat…” Sambil menahan rasa frustrasi, Senpai menggigit bibir. Ekspresi wajahnya tampak benar-benar mengingat kembali pahitnya kekalahan waktu itu. Tapi—begitu ia menegakkan wajah, ia menunjukku lurus-lurus dengan mantap, “Tapi sejak saat itu aku juga sudah banyak berkembang! Kali ini, aku pasti menang!” Dengan wajahnya yang sangar, ditambah tubuhnya yang berotot, dia malah terlihat seperti tokoh dari manga anak berandalan. Kalau gadis lain yang menghadapi dia, mungkin akan sedikit gentar melihat auranya. Tapi── “Fufufu…” Aku membalas dengan senyum percaya diri. “Wah, berapi-api sekali. Yah, silakan saja berusaha semampunya, ya…” ──Dapur keluarga Rokuyou. Sudah lama sejak terakhir aku ke sini, dan tempat ini tetap luar biasa mewah seperti dulu. Bahkan kalau dua anak SMA sekaligus masak di sini, tidak akan berbahaya karena luasnya. Ada dua bak cuci, dan lima tungku kompor. Dapur keluarga Igarashi di rumahku jauh lebih sempit, jadi bisa masak di tempat seperti ini benar-benar membuatku bersemangat. …Yah, kali ini pun aku akan tetap sederhana. Menghadapi dia dengan masakan sehari-hari seperti biasa. “Baiklah, kedua peserta sudah sangat bersemangat!” Sakamoto, yang berperan sebagai komentator, menatap kami berdua sambil berkata begitu. “Pertarungan kali ini akan berakhir seperti apa, ya?” “Mone sepertinya sudah menyiapkan rencana beberapa hari lalu khusus untuk hari ini,” ucap Chika dengan gaya sok komentator juga. “Sebaliknya, Rokuyou-senpai pun sudah menyiapkan peralatan dan bahan-bahan yang cukup banyak. Ini pasti seru sekali──” ──Rokuyou Haruki VS Igarashi Mone, duel masak. Pertarungan yang dulu juga pernah diadakan di tahun pertama SMA, sekarang akan terjadi lagi. Meskipun, latar belakangnya kali ini cukup berbeda. Tujuannya pun berbeda, sekarang juga ada Chika di sini, jadi maknanya sama sekali tidak sama dengan waktu itu. ──Waktu itu, aku menantang duel masak dengan Senpai sebagai bagian dari pencarian mimpiku. Aku ingin melepaskan ketergantunganku pada Chika. Ingin bisa berdiri sendiri, menemukan mimpi yang membuatku bersemangat bersama Sakamoto. Di antara banyak hobi yang kucoba, karena memang aku suka memasak sejak dulu, aku sempat mempertimbangkan menjadikannya mimpi, lalu berdiskusi dengan Sakamoto. Entah bagaimana, Rokuyou-senpai malah menantangku—dan akhirnya jadi duel masak. Tapi sekarang── “Chika… Aku akan membuat masakan yang bisa bikin kamu semangat lagi, ya!” Aku menoleh pada Chika, yang sedang main-main jadi komentator, sambil bilang begitu. “Aku mau membuat makanan yang bisa menghapus lelahmu karena pindahan!” “Iya, aku tunggu, ya!” Chika langsung kembali lagi jadi dirinya yang ceria seperti biasa, sambil melambai dan tersenyum. “Semangat ya, Mone!” ──Chika yang sedang lelah karena urusan pindahan. Dari rumah orang tuanya di Ogikubo, dia sedang bersiap pindah ke asrama agensi. Sekolah, kerja, dan beres-beres kamar semuanya menumpuk, sampai-sampai kelihatan jelas kalau dia mulai kelelahan. Melihat dia begitu, aku pun sempat bilang, “Mau aku bawakan camilan atau apa begitu?” Waktu di ruang klub, aku menawarkannya. “Pasti kamu lapar waktu beres-beres, kan? Mau aku bawa makanan sambil bantuin?” “Eh, aku senang sekali! Datang ya! Sepertinya seru kalau mengerjakannya bersama-sama!” Mata Chika langsung berbinar mendengar itu. “……Heh.” Saat itulah—Rokuyou-senpai mengeluarkan suara rendah. “Membawakan makanan untuk orang yang sedang pindahan, ya…” Dia menyilangkan tangan, mengelus dagu, dan menatap kami dengan gaya seperti koki profesional. “Eh, Senpai juga mau ikut bawain makanan?” “Wah, silakan sekali! Bersama-sama saja!” “Yah… itu juga boleh sih, tapi…” Ucapnya, lalu menyeringai, “……Bagaimana kalau kita bertanding?” Dengan suara rendah, seolah menantangku. “Siapa yang bisa membuat Nito paling senang dengan makanannya, itu yang menang?” “Eh, kenapa mendadak sekali…” Aku jadi bingung dengan perkembangan yang tiba-tiba itu. “Apa tidak bisa langsung dimakan saja, begitu?” “Ya, soalnya akhir-akhir ini aku mulai rajin masak lagi. Dan, waktu itu aku kalah telak dengan Mone kan? Waktu duel masak di musim ini juga.” “Ah, iya… benar juga.” “Maka dari itu──” Senpai berdiri dari kursinya, “──Ayo kita adakan pertandingan balas dendam!” Dengan nada layaknya rival karakter anime, dia mengucapkannya padaku. “Mone──mari kita duel masak denganku sekali lagi!” Dan akhirnya, hari ini. Kami pun berkumpul di rumah Rokuyou, dan mulai menyiapkan makanan untuk Chika bersama-sama. …tapi, kalau dipikir-pikir dengan tenang, bukannya aneh? Sebenarnya ini kan cuma makanan untuk disantap di sela-sela pindahan, kenapa malah berubah jadi acara masak besar-besaran begini. Konsep awalnya benar-benar hilang, kan… Yah, setelah pertarungan ini selesai, rencananya kami berempat akan langsung ke rumah Chika buat bantu beres-beres pindahan. Lebih cepat kelar, lebih cepat bisa mulai bantuin. “──Kalau begitu, apa kedua peserta sudah siap?” Begitu aku dan Rokuyou-senpai selesai menyiapkan bahan-bahan dan peralatan masak, Sakamoto yang bertindak sebagai wasit pun berkata: “Oke!” “Di sini juga siap!” “Kalau begitu, mari kita mulai… masak dimulai!” Dan tepat di saat suara Sakamoto terdengar, aku dan Senpai mulai membuat makanan untuk dibawa sebagai bekal. * “──Baiklah, sekarang saatnya aku umumkan hasil penilaiannya.” Dan begitu proses memasak selesai, setelah kami semua mencicipi masakan masing-masing dan sempat berdiskusi sebentar, tibalah waktu pengumuman hasil. “Pemenang duel masak antara Igarashi-san dan Rokuyou-senpai adalah…” Sakamoto sengaja menahan ucapannya sejenak… “──Dengan suara bulat, kemenangan jatuh kepada Igarashi-san!” “Ya! Tentu saja!” “A-apa-apaan itu!? Kenapa aku kalah!?” Rokuyou-senpai langsung protes keras pada Sakamoto. “Masakanku kali ini enak, kan!? Bukankah itu cocok dengan situasi pindahan!?” “Ya, memang enak kok.” Chika menjawab dengan suara tenang, mengangguk pelan. “Dan memang rasanya juga cocok untuk suasana pindahan.” “Ya kan!?” Senpai tampak benar-benar tidak terima. Dia sampai berapi-api saat menyuarakan keberatannya. “Tapi… kenapa? Kenapa aku tetap kalah!?” “Itu karena…” Chika mengerutkan alis, tampak agak kesulitan menjawab, “──Waktu sedang sibuk pindahan, makan soba buatan tangan sendiri itu malah merepotkan…” Kami menatap Rokuyou-senpai, yang mengenakan pakaian kerja tradisional lengkap dengan ikat kepala. Dia benar-benar tampil seperti tukang soba profesional. ──Ya, kali ini Rokuyou-senpai benar-benar membuat soba sendiri dari nol, lalu menyajikannya sebagai ‘Soba Pindahan’ untuk Chika. Proses memasaknya… luar biasa. Dia menuang tepung ke mangkuk besar, menambahkan air, mengaduk, kemudian menggiling adonan jadi lembaran tipis dan memotongnya dengan pisau jadi helai-helai soba. Gerakannya cekatan, dan wajahnya benar-benar seperti tukang soba sejati. Memang, rasanya juga enak. Meski sepanjang makan dia terus mengoceh “Coba makan pakai garam” atau “Jangan digigit di tengah jalan!” sampai membuat berisik, tapi ya, sobanya memang enak sesuai usaha yang dia keluarkan. Namun, “Kan waktu pindahan, seluruh ruangan penuh dengan kardus.” Nito ikut menimpali sambil melirik peralatan soba yang bertebaran di dapur. “Jadi tidak bisa santai makan sambil menikmati begitu. Dan kalau boleh memilih, kami lebih senang makanan yang bisa langsung mengenyangkan.” “…Begitu ya…” Rokuyou-senpai menunduk, bahunya merosot jatuh. “Jadi… kurang cocok dengan situasinya, ya…” ──Oh, ngomong-ngomong. Masakan yang kubuat adalah set onigiri, tamagoyaki (telur gulung), dan kaarage (ayam goreng). Bahkan, kaarage dan tamagoyaki-nya itu sisa makan malam kemarin. Yang kubuat di tempat cuma onigirinya. Karena memang ‘kesan bekal’ seperti itu yang cocok. Mengenyangkan, memulihkan tenaga, cocok sekali buat dibawa ke tempat pindahan. Dan sepertinya Sakamoto dan Chika juga merasakan hal yang sama, karena mereka memujinya habis-habisan. Kalau dipikir-pikir, ini cara menang yang sama persis seperti waktu duel pertama kami. Senpai datang dengan masakan spesial, aku menang dengan masakan yang praktis. Sudah waktunya mungkin Senpai belajar, kalau masakan bukan cuma soal hobi, tapi juga soal bagaimana bisa membuat orang senang dalam keseharian. Saat aku memikirkan itu… “…Aku tidak akan menyerah lho.” Tiba-tiba Rokuyou-senpai berkata pelan, dengan suara dalam. Lalu dia mendongak dengan cepat── “Aku… aku tetap tidak akan menyerah begitu saja lho, Mone!” Seperti rival di anime, dia mendeklarasikan tekadnya. “Mulai sekarang, aku akan terus menantangmu untuk duel masak! Bersiaplah!” “…Iya iya…” Aku tertawa kecil, merasa kalau itu sebenarnya tidak buruk juga. Duel masak berkali-kali dengan Rokuyou-senpai, Chika dan Sakamoto ikut menemani kami. Ya… meskipun ini berbeda jauh dari tahun lalu, hari-hari seperti ini tidak buruk juga. Sambil berpikir begitu, aku melepas apron. “Tapi serius… kita sudah terlalu larut, tahu.” Aku menegur semua orang. “Kita kan masih harus bantuin pindahan, sekarang sudah hampir jam 3 sore.” “…Ah, benar juga!” Rokuyou-senpai melirik jam dinding dan buru-buru melepas ikat kepalanya. “M-maaf Nito! Aku keasyikan membuat soba!” “Ayo kita cepat berangkat!” “Kalau tidak, kita tidak akan sempat membereskan rak buku hari ini…” Sakamoto dan Chika juga buru-buru bangkit dan mulai bersiap. Sambil menatap mereka, aku kembali berpikir, Kalau mengulang waktu dan menjalani setahun lagi bersama mereka… ternyata memang menyenangkan juga. *** POV: Rokuyou Haruki “──Nah, kira-kira bagaimana hasilnya, ya…” Setelah Festival Langit Biru selesai. Di pusat komunitas. Aku, Rokuyou Haruki, sedang menunggu Meguri menyelesaikan perhitungan jumlah pengunjung. “Wah, deg-degan sekali…” “Sepertinya tadi pertarungannya cukup ketat, ya!?” “kalau perasaanku sih, kurasa kita menang…” Suara-suara seperti itu terdengar dari para staf panggung sukarelawan di sekitarku. Suasana pun mulai terasa gelisah, sampai-sampai bisa kurasakan di kulit. Sebenarnya aku sendiri juga sama saja. Jantungku berdegup kencang, tetapi aku berusaha menampakkan wajah tenang sambil menunggu laporan dari Meguri. ──Festival budaya yang kedua kalinya. Di acara yang terulang kembali karena ‘pengulangan’ ini, aku dan Nito kembali bertarung. Dia menjadi penanggung jawab panggung utama, sekaligus tampil sebagai bintang penutup di sana. Sedangkan aku mengurus panggung sukarelawan bersama Meguri dan Mone. Sama seperti sebelumnya, kami kembali bersaing soal jumlah pengunjung maupun jumlah penonton daring. Kali ini pun, aku mendapat perintah dari ayahku: “Kalahkan panggung utama.” Sementara di pihak Nito, ia mempertaruhkan kesempatan debut major di atas panggung festival ini, dan tampil sepenuh hati. Karena itu──beberapa bulan yang lalu: “──Akhirnya, ujung-ujungnya tetap jadi pertarungan antara aku dan Nito lagi, ya.” “──Ya, benar.” Di ruang rapat tempat para panitia festival budaya berkumpul untuk pertama kalinya, kami sempat saling menyebut begitu, lalu sekali lagi menyalakan api pertempuran. “──Kali ini, aku benar-benar akan menjatuhkanmu.” “──Akan kutunjukkan perbedaan level kita.” Bisa bicara seperti ini lagi dengan Nito, rasanya membuatku senang bukan main. Sama seperti waktu duel masak dengan Mone, mungkin memang dasarnya aku ini suka bertanding dengan orang lain. Saat aku teringat soal itu, “Hey, Haruki~” Tiba-tiba, seorang gadis di sampingku menyapaku. “Mau taruhan denganku, tidak?” Saat kulihat──itu adalah Azuma. Azuma Kirara. Gadis penari berambut kuncir kembar ini, juga tampil sebagai bintang penutup di panggung sukarelawan kali ini, dan ikut memeriahkan suasana. Dengan tangan bersilang, sambil menatap ke arah Meguri, dia bertanya padaku begitu saja. Aku sudah cukup lama mengenalnya. Sebagai teman, kami sudah beberapa kali bercakap. Sejak festival budaya dimulai pun, jarak kami jadi makin dekat. Karena lebih cepat meminta kerja sama para pengisi acara dibanding waktu ‘pengulangan’ sebelumnya, hubungan kami pun berjalan lebih lancar. Para pengisi acara bersatu penuh semangat untukku, dan di antara mereka, Azuma berperan seperti seorang pemimpin yang memandu keseluruhan panggung sukarelawan. Karena itu──sekarang dia sudah jadi semacam kawan seperjuangan bagiku. “Wah, taruhan apa?” Aku bertanya padanya dengan nada agak antusias. Soalnya di waktu festival sebelumnya, dia tidak pernah mengusulkan taruhan semacam ini. Jadi apa sebenarnya yang mau dia pasang taruhan? “Haruki juga, pasti yakin kan kalau panggung sukarelawan akan menang?” “Ya, tentu saja.” “Aku juga.” Azuma mengangguk mantap sambil tersenyum puas. “Aku yakin sekali kita akan mengalahkan Nito. Soalnya penampilan kita kali ini benar-benar luar biasa. Semua orang sangat keren.” “Ya, setuju.” Benar-benar panggung yang hebat. Energi para pengisi acara dan stafnya terasa sampai ke penonton. Penonton pun tampak jauh lebih semarak daripada festival budaya sebelumnya. Iya, pasti menang. Sebagai pemimpin panggung sukarelawan, aku benar-benar yakin akan hal itu. “Kalau begitu…” Azuma menatapku sambil sedikit membungkuk ke depan. “Menurutmu, menangnya selisih berapa orang?” “…Selisih, ya?” “Iya. Kalau aku rasa, sebenarnya tipis. Mungkin menang selisih 50 orang saja.” “Heh…” Entah bagaimana, aku mulai paham arah pembicaraannya. Jadi, dia ingin bertaruh pada prediksi. Hasilnya nanti akan diumumkan oleh Meguri, dan kami menebak jarak selisih kemenangannya, lalu siapa yang paling dekat tebakannya akan menang taruhan. Karena itu aku berkata, “Pasti selisih 100.” Aku menegakkan dada, sengaja bicara dengan percaya diri. “Pasti selisih segitu kita menang.” Aku sengaja bilang begitu. Karena para pengisi acara sudah mempertaruhkan banyak hal, dan menampilkan panggung terbaik mereka. Baik sebagai ketua panitia, maupun sebagai pribadi, aku tidak akan pernah cukup berterima kasih pada mereka. Jadi, demi menghargai semua itu, sebagai ucapan terima kasih juga, aku ingin memprediksi setinggi itu. “Penampilan kalian memang sehebat itu.” “Ahaha, gaya sekali, sih~” Azuma tertawa renyah, suaranya seperti lonceng kecil berdenting. “Tapi 100 orang itu, sepertinya terlalu nekat?” “Tidak, menurutku itu realistis.” “Ya sudah… kalau begitu…” Dia membersihkan tenggorokannya sedikit, lalu bilang, “Kalau begitu selisih 50 dan 100 orang, nanti yang paling dekat dengan hasil aslinya yang menang taruhannya, ya.” “Boleh. Lalu hadiahnya apa?” “Hmm, kalau Haruki yang menang, aku akan traktir makan siang seminggu penuh.” “Wah, mantap tuh. Terima kasih.” “Kalau aku yang menang…” Azuma mengalihkan pandangan ke arah Meguri, lalu berkata padaku, “…kamu akan berpacaran denganku.” “Oke.” “…Eh?” Dia mendadak bersuara heran. Padahal dia sendiri yang mengusulkan, tapi reaksinya malah gugup. “Eh, kenapa jawabannya cepat sekali. Padahal aku juga tidak pernah menyatakan perasaanku sebelumnya…” “Hmm, ya. Tapi sebenarnya aku sudah agak menduga, sih. Selama masa persiapan Festival Langit Biru, kita sering bersama juga.” “…Benarkah?” Azuma menatapku seperti ingin memastikan jawabanku. Melihat ekspresinya yang langka itu, rasanya aku hampir tertawa. Biasanya, dia selalu menampilkan dua sisi: “penari imut yang hobi otaku,” dan “gadis galak yang berani.” Kedua sisi itu sama-sama berakar pada karakter yang kokoh, dan jarang sekali dia terlihat panik atau kehilangan ketenangan. Bahkan Azuma, yang biasanya begitu percaya diri, kalau soal begini ternyata bisa gugup juga layaknya gadis seumurannya. “…Sebenarnya sudah kepikiran sih, mungkin akan begini.” “Ya. Soalnya kita sering bersama juga.” “Begitu ya…” Faktanya, selama masa persiapan festival ini, Azuma selalu ada di sisiku. Bersama-sama memikirkan cara untuk menarik penonton, merancang penampilan panggung, dan menyemangati para pengisi acara. Di tengah semua itu──aku cepat sadar kalau Azuma menaruh perasaan khusus padaku. Dan aku sendiri, juga mulai merasakan hal yang serupa. Sepertinya kalau bersamanya, aku bisa menjalani hubungan sebagai kekasih dengan cukup bahagia── “…Kalau begitu, sudah sepakat ya.” Dengan sedikit canggung, Azuma menegaskan, “Kalau Haruki yang menang, aku akan traktir makan siang seminggu. Kalau aku yang menang, kita akan berpacaran.” “Ya. Meski rasanya hadiahnya kurang seimbang.” “Itu benar juga, haha.” “Kenapa nilai diriku sebagai pacar seperti sama saja dengan makan siang gratis.” “Ya, tapi kan Haruki juga dapat pacar, lumayan kan.” “Kalau dipikir, iya juga sih.” Dan pada saat kami sedang bercakap begitu── “──Aaaaahhhhh!!!” Tiba-tiba suara teriak menggema. Semua orang langsung menoleh── suara itu datang dari Meguri, yang sedang menghitung hasil di depan laptop. “Hei, ada apa itu!” Refleks, aku berlari mendekat. “Hei Meguri, kenapa teriak kencang begitu?” Meguri membelalakkan mata sambil memegangi kepala. Yah, kadang orang ini memang suka teriak aneh kalau panik. Tapi tetap saja, ada apa kali ini? “Ha-hasilnya…” Di tengah sorotan semua orang, Meguri bicara, “Su-sudah keluar, tapi…” “Ya?” Mendengar itu, semua langsung menelan ludah serempak. Keheningan seperti ruang hampa memenuhi ruangan. Lalu, Meguri membuka mulut dengan sangat hati-hati── “Panggung utama, 8.921 orang… panggung sukarelawan, 8.912 orang…” ──Panggung utama, 8.921 orang. ──Panggung sukarelawan, 8.912 orang. Kalah… Panggung sukarelawan kalah lagi dari panggung utama. Sekeliling mendadak senyap. Semua orang menunduk, berusaha menerima kenyataan. …Sebenarnya, ini tidak jauh dari dugaanku. Walaupun barusan aku berkoar di depan Azuma, realitanya jumlah penonton di lapangan nyaris sama saja. Kalau begitu, yang menentukan hasil adalah jumlah penonton daring, dan di situ jelas Nito punya daya tarik yang jauh lebih kuat. Jadi──kemungkinan kalah telak sebenarnya selalu ada. Aku sudah menyiapkan diri kalau akhirnya tetap kalah. Tapi, “…Selisih 9 orang?” Meguri menyebutkan angka itu. Selisih antara panggung utama dan panggung sukarelawan. Dari total ribuan penonton, angka 9 itu rasanya seperti sekadar selisih yang tak berarti. “Cuma… 9 orang…” Aku mengulanginya pelan. Dan di dadaku, muncul dorongan yang tak bisa kubendung── “──Aaaah! Sialaaaan!!” Tanpa sadar aku berteriak. Berlutut di tempat, menggenggam tinju, dan menumpahkan semua emosiku begitu saja. “Serius cuma selisih 9 orang!? Itu tipis sekali! Sedikit lagi padahal!” Sedikit lagi── Kalau saja ada beberapa kelompok penonton tambahan datang ke panggung sukarelawan, hasilnya pasti lain. Fakta itu lebih mengejutkan daripada sekadar menyesakkan. Dengan selisih tipis itu, aku kalah lagi dari Nito. “Argh serius!? Siaaal, kampreeeet!!” Tapi──anehnya aku tidak merasa terlalu buruk. Bahkan ada perasaan lega. Kami sudah berjuang sepenuh hati. Hasilnya, meskipun kami hanya sekelompok amatir, kami berhasil menarik hampir 9.000 penonton. Itu jelas sebuah pencapaian yang luar biasa. Waktu festival pertama, kalau tidak salah, panggung sukarelawan cuma sekitar 5.000 penonton, sedangkan panggung utama mendekati 8.000. Kalah telak. Tapi sekarang, cuma selisih 9 orang. Dan keduanya berhasil meningkatkan jumlah penonton. Memikirkan itu──bulu kudukku merinding. Seluruh tubuhku terasa bergetar. Dan mungkin terbawa semangatku── “──Uwaah! Nyesek sekali!” “──Benar-benar sangat tipis hasilnya!” “──Wah, kalau tahu begini, aku ajak nenekku nonton juga!” Suara-suara serupa bermunculan di sekitarku. Ada yang menyesali, ada yang menghentak-hentakan kaki, bahkan ada yang rebahan tengkurap di lantai saking pasrahnya. Tapi── “──Tapi ini sebenarnya kemenangan juga, kan!?” “──Ya, aku juga pikir begitu! Lawannya kan level profesional!” “──Dan cuma selisih 9 orang… itu hampir menang!” Tak ada rasa putus asa di antara mereka. Sebaliknya, suasana justru semakin semangat. Saking dramatisnya hasil ini, orang-orang malah terpacu karenanya. Hanya satu hal yang sungguh jadi masalah──masa depanku. Ayah sudah memerintahkanku agar memenangkan panggung sukarelawan dari panggung utama. Kalau tidak, dia tidak akan mengizinkanku merintis usaha sendiri. Sama seperti festival sebelumnya, itulah alasan kenapa aku berjuang mengangkat panggung sukarelawan kali ini, dan kenapa semua orang ikut membantuku. Hanya saja… kali ini, setelah ayahku menonton penampilan panggungnya, ia akhirnya bisa menerima. Ia memutuskan untuk mengizinkanku mendirikan usaha sendiri. Karena itu──aku segera memberi tahu semua orang secara singkat. Bahwa kekhawatiranku sudah teratasi. Bahwa ayahku sudah mau memahami keinginanku. Hanya saja, aku sengaja tidak bilang kalau sebelumnya sempat berniat “ya sudah, coba saja bekerja dulu” atau “sekali saja belajar dulu.” Entah kenapa… setelah melewati Festival Langit Biru yang kedua ini, setelah sekali lagi memimpin proyek panggung sukarelawan bersama semua orang, hatiku mulai berubah sedikit demi sedikit. Soal wirausaha… rasanya tidak apa-apa langsung mencoba saja. Mumpung masih muda, mungkin tidak masalah melakukan tantangan yang kelihatan nekat, pikirku… “──Jadi… begitu,” Setelah aku selesai berbicara, Azuma di sampingku berbisik pelan. “Di atas panggung, kita memang kalah. Kalah dengan Nito, rasanya sakit sekali… tapi…” Ia mendongak menatapku, “Taruhan kita… aku yang menang kan?” Dengan sedikit tegang, dia mencondongkan kepala. “Angkanya, lebih dekat dengan prediksiku, kan…?” “Ya.” Memang benar kata Azuma. Aku sempat menebak akan menang dengan selisih 100 orang, sedangkan Azuma menebak menang dengan selisih 50 orang. Kami berdua sama-sama tidak terpikir “akan kalah,” tetapi tebakan Azuma lebih mendekati hasil akhirnya. Artinya, taruhan dimenangkan oleh Azuma. “Kalau begitu…” Azuma menundukkan pandangan, “Kamu… mau jadi pacarku, kan?” Dengan suara pelan, seperti ragu, dia bertanya begitu. “Kamu mau menepati janji kita, kan?” “Ya.” Aku mengangguk mantap, lalu tersenyum ke arah Azuma. “Mohon bantuannya untuk ke depannya, Azuma!” *** POV: Sakamoto Meguri Festival Langit Biru—sebelum panggung sukarelawan kalah tipis dari panggung utama. Beberapa waktu setelah masa persiapan dimulai── Aku, Sakamoto Meguri, sedang berhadapan dengan seorang gadis di kamarku. “A-ada… apa ya, sebenarnya…?” Gadis di depanku merapikan rambut hitamnya yang pendek dengan raut cemas. Tubuhnya kecil, bibirnya terkatup rapat dengan sikap waspada. Wajahnya tampak seperti kucing liar yang sulit dijinakkan, dengan mata sipit panjang yang tajam── Itulah Makoto. Akutagawa Makoto. Dialah kunci dari garis waktu ini, meski sekarang hanyalah siswi SMP biasa. Aku sedang berhadapan dengannya── Sebenarnya, di dunia ini kami sudah beberapa kali bertemu. Saat datang bermain bersama Mizuki, kami sempat bercakap singkat dan menjadi saling mengenal. Dan──hari ini. Di saat memasuki masa persiapan festival budaya ini, aku berniat menyampaikan satu hal kepadanya. “……” Padahal sebelumnya aku sudah melakukan hal yang hampir sama. Di garis waktu sebelumnya pun aku sudah berbicara soal ini, tetapi tetap saja ini membuatku tegang. Bahkan, mungkin sekarang lebih menegangkan daripada yang pertama kali. Tapi… ya, wajar saja. Melihatnya yang gelisah di hadapanku, aku mencoba menata pikiranku. Di garis waktu ini──semuanya bergantung pada bagaimana hubunganku dengan Makoto akan berubah. Apakah dia akan berakhir dalam tragedi atau tidak, tergantung seberapa dekat hubungan kami nantinya. Jadi, di sinilah titik penentuan dari garis waktu ini. Kesempatan kedua kami berempat untuk memperbaiki segalanya, baru benar-benar dimulai dari sini── Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan suara mantap, “Aku… datang dari masa depan.” Aku menatap Makoto di depanku sambil mengucapkannya jelas. “Aku datang dari 3 tahun ke depan. Dari masa depan di mana kau jadi junior-ku.” Mata Makoto terbelalak mendengar itu. Mulutnya terbuka, terlihat sama sekali tidak mengerti── “……Hah? Apa… maksudnya itu…?” Dia bertanya padaku dengan wajah yang benar-benar tercengang. “Dari masa depan? Maksudmu… bagaimana…?” Seperti rencana, aku memang berniat menjelaskan padanya di saat ini. Bahwa aku melakukan perjalanan waktu. Bahwa di masa depan, aku dan Makoto adalah seorang senior dan junior── …Sejujurnya, kenyataannya jauh lebih rumit dari itu. Tepatnya, aku tidak langsung datang dari 3 tahun ke depan. Aku sempat menghabiskan 3 tahun di sana, lalu melompat waktu lagi setelah 1 tahun berjalan, hingga kembali ke sini. Selain itu, di masa depan Makoto pun sebenarnya tidak sempat menjadi junior-ku—jadi ada bagian yang sedikit menyimpang dari kebenaran. Tapi untuk sekarang, aku sengaja melewatkan detail itu. Yang terpenting adalah membuat Makoto memahami kerangka besarnya. Bahwa aku datang dengan melompati waktu—dan dia mau mempercayainya. Itu prioritas utamaku. “……eh, eh, eh. Tunggu, tunggu. Ini seperti… semacam penawaran agama atau bagaimana, ya?” Makoto menanggapi dengan reaksi yang persis sama seperti di garis waktu sebelumnya. “Kalau begitu maaf, aku sedang sibuk. Permisi, aku pamit dulu…” “──VTuber Akuta Makoto, Mako Channel……” Aku langsung menimpali—sama seperti sebelumnya. Menyebut rahasia yang hanya diketahui oleh Makoto sendiri── “VTuber bertema iblis yang datang ke dunia manusia. Kontennya kebanyakan obrolan santai… dan penontonnya disebut ‘para iblis kecil’ (koakuma-tachi)…” Seketika ekspresi Makoto berubah drastis. Telinganya memerah, matanya melebar. “K-k-k-ke… kenapa kamu bisa tahu itu!?” Aku melanjutkan tanpa memberi kesempatan, “Kalau ada konsultasi cinta di siaranmu, kau akan langsung bersemangat, tapi kalau topik dewasa muncul kau akan kelihatan sangat panik. Lalu ketahuan juga kalau kau sebenarnya cukup paham istilah-istilah cabul, sampai fansmu bilang kau adalah iblis mesum yang malu-malu──” “──S-stop! Berhenti!” Makoto yang kebingungan buru-buru menutup mulutku dengan tangannya. “Berhenti! Aku percaya! Aku percaya, jadi tolong jangan dibicarakan lagi!” Bagus… berarti sekarang dia mau mendengarkan ceritaku. Mau membuka telinga untuk cerita anehku dengan sedikit rasa percaya. Aku berdeham kecil, lalu mulai menjelaskan. Hampir sama persis seperti di waktu sebelumnya—soal perjalanan waktu ini── “──Jadi… begitu, ya…” Setelah mendengarkannya sampai akhir, Makoto duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong dengan ekspresi seolah otaknya bekerja keras. “Untuk menyelamatkan teman-temanmu. Kamu ingin memperbaiki masa lalu…” Ada satu hal yang sengaja kuubah dari penjelasan kali ini dibanding yang lalu. Yaitu alasan kenapa aku memulai perjalanan waktu ini. Kalau dulu aku berkata “untuk menyelamatkan Nito”, sekarang aku bilang “untuk menyelamatkan teman-teman di klub”. Agar tidak hanya Nito, tapi juga Rokuyou-senpai dan Igarashi-san, itulah kenapa aku melakukan semua ini. Aku sempat merasa bersalah karena berbohong. Makoto adalah teman pentingku, dan kalau bisa aku mau jujur padanya. Tapi… aku tidak mau membuatnya merasa cemas berlebihan tentang kedekatanku dengan Nito. Tidak perlu membuatnya sakit hati dengan hal yang belum tentu terjadi. Jadi kupilih untuk menutupi sedikit fakta ini. …Lagipula memang Rokuyou-senpai dan Igarashi-san juga berhasil kuselamatkan. Bisa dibilang bohong demi kebaikan, dan masih bisa dimaklumi… kurasa. “Kalau dipikir-pikir… aku bisa membayangkan jadi juniornya Sakamoto-senpai.” Makoto akhirnya menunjukkan sedikit senyum tipis. “Soalnya, aku memang berencana untuk masuk ke SMA Amanuma. Syukurlah, berarti aku diterima nanti, ya?” “Ya, pasti keterima kok.” Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Secara nilai juga kau sudah aman kan? Tidak perlu khawatir.” “Kalau dari nilai sih, ya… benar. Tapi, tetap saja deg-degan. Ini kan masa depan hidupku.” “Ya… itu juga benar sih.” ──Makoto memang berencana untuk masuk ke SMA Amanuma. Benar juga, di tahap ini dia masih berpikir seperti anak SMP pada umumnya. Jujur, aku sempat ragu untuk mendekatinya. Karena sebenarnya kalau aku membiarkannya saja, dia pasti akan masuk ke SMA Amanuma dengan lancar. Artinya… mendekatkan diri begini, justru bisa menjadi awal tragedi itu sendiri. Tapi meski begitu── “……” Melihat wajah Makoto yang sedang berpikir, aku teringat pada momen di Desa Achi. Kali ini pun, aku berniat ikut berburu asteroid di sana. Dan aku ingin… Makoto juga ikut bersamaku di sana. Aku ingin menghadapi saat itu berdua dengannya, bagaimanapun caranya. Jadi, kalau akhirnya bisa menghindari masa depan buruknya, maka semua risiko ini layak dijalani. “Dari masa depan, ya…” Makoto menunduk seakan mencoba mencernanya. “Senpai, kamu datang dari 3 tahun ke depan…” Lalu ia menatapku lagi, dan berkata, “……Maaf, rasanya aku belum bisa benar-benar memahami semuanya. Rasanya masih tidak nyata…” Dia menambahkan lebih pelan, sambil tersenyum kecil── Untuk pertama kalinya di garis waktu ini, kurasa aku melihat Makoto tersenyum. “…Tapi, mungkin memang ada hal-hal yang seperti itu, ya. Aku… mulai merasa mungkin aku bisa percaya.” * Setelah festival budaya berakhir, aku masih sesekali berinteraksi dengan Makoto. Kalau dia datang main ke rumah, kami sempat ngobrol sebentar, dan kami juga saling bertukar pesan lewat LINE. Hubungan kami terasa agak santai, seperti senior dan junior pada umumnya. Hanya saja──sejujurnya, bahkan sampai di titik ini, masih ada hal yang belum benar-benar kutentukan. Yaitu soal perasaan Makoto terhadapku. “……Haah.” Di kamar, pada malam hari. Sambil menatap meja belajarku, aku memikirkan hal itu. Di putaran waktu sebelumnya, Makoto akhirnya menaruh perasaan cinta padaku. Dan sejujurnya──meski agak memalukan untuk diakui──rasanya perasaan itu cukup besar. Sampai-sampai dia pernah bilang, “Bagaimanapun cara kita bertemu, aku pasti akan tetap jatuh cinta padamu,” dan akhirnya itu pun jadi salah satu alasan dia memilih jalur pendidikannya. Kalau begitu…… kali ini, bagaimana aku harus bersikap padanya? Haruskah aku menjaga jarak agar dia tidak jatuh cinta──? “Hmm……” Aku mendesah pelan, menatap buku di depanku. Buku latihan yang baru kubeli di toko buku tadi sore—kumpulan soal untuk Ujian Sertifikasi Astronomi. Tapi tetap saja pikiranku kembali ke soal hubunganku dengan Makoto. ──Sepertinya akan sulit kalau aku memaksa mengambil jarak. Lagipula, waktu kami mencari asteroid di Desa Achi dulu, itu juga bisa berjalan lancar karena hubungan kami sudah dekat. Bekerja sama dan menginap beberapa malam bersama bukan hal yang bisa kulakukan dengan orang yang hubungannya dingin denganku. Kalau aku ingin mencarinya bersama Makoto lagi, berarti kedekatan kami harus tetap terjaga. Dan sebelum itu── “……Rasanya, membohongi perasaanku sendiri juga tidak enak.” Entah kenapa──akhir-akhir ini aku mulai merasa begitu. “Walaupun aku sudah tahu hasilnya dari pengalaman ‘pengulangan’ sebelumnya, bukan berarti aku harus mengubah tindakanku terlalu jauh……” Tentu saja, semua tergantung pada batasnya. Kalau aku tidak berbohong sama sekali, mungkin malah semua akan berantakan. Pada dasarnya kemampuan untuk mengulang waktu ini sendiri sudah semacam kecurangan. Tapi…… kalau kelewatan menutupi kebenaran, rasanya tujuanku juga bisa jadi kabur. Masa depan yang benar-benar ingin kucapai, justru akan menjauh setiap kali aku berbohong terlalu banyak. Jadi, “……Ya, kurasa yang terbaik tetap menyeimbangkannya.” Untuk saat ini, aku memutuskan untuk mengambil sikap yang netral. “Sambil melihat situasi, aku pikirkan secara perlahan……” Saat memikirkan itu──aku merasa diriku punya ruang berpikir yang lebih lapang dibanding dulu. Bahkan bisa tertawa kecil sendiri, menyadari bahwa sekarang aku ternyata sudah cukup dewasa untuk menimbang segalanya dengan tenang seperti ini. * Setelah itu──hari seleksi masuk Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang di Desa Achi pun semakin dekat. Aku dan Makoto mulai mempersiapkan diri untuk pencarian asteroid. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini akulah yang mengajak Makoto bergabung ke klub. Dulu, Makoto sudah memiliki perasaan padaku, jadi dia sendiri yang memutuskan ikut. Tapi sekarang, rasa sukanya belum begitu dalam. Makanya aku tidak menunggu dia yang mengajukan diri, dan langsung bertanya, “Mau ikut bersama?” Awalnya aku agak khawatir apakah dia mau atau tidak, tapi ternyata dia langsung mengiyakannya tanpa ragu. Lalu, seperti sebelumnya, dia mulai datang ke ruang klub SMA Amanuma untuk belajar bersama setiap hari. Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatan observasi bintang, produksi video yang dipimpin Makoto, dan interaksi dengan Nanamori-san juga dimulai. Ada satu hal yang berbeda dibanding waktu lalu── “──Eh, Makoto-chan ternyata pintar sekali, ya……” “──Nito-senpai juga, nilainya pasti bagus kan?” “──Ya lumayan sih, tapi waktu SMP aku tidak sampai segitu hebat.” Yakni hubungan antara Nito dan Makoto. Dulu mereka sering bercanda sambil saling menyinggung, bahkan terkadang sampai bertengkar kecil tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang, suasananya berubah. Nito mendekatinya dengan sikap seperti seorang kakak perempuan yang lembut, sementara Makoto juga kelihatan sedikit mengaguminya. Percakapan mereka pun lebih damai, terlihat seperti saudara perempuan yang akur, “──Tapi jangan terlalu memaksakan diri, ya. Kamu juga masih ada ujian masuk nanti.” “──Justru itu adalah kalimat yang cocok buat Nito-senpai. Kegiatan musikmu juga sibuk, kan?” “──Yah, itu sih karena aku memang suka, jadi tidak masalah.” Melihat kedekatan mereka sekarang, aku merasa sedikit optimis. Kalau hubungan mereka tetap hangat seperti ini, mungkin masa depan juga akan berubah ke arah yang lebih baik. * Lalu──Kelompok Penelitian di Desa Achi pun resmi dimulai. Setelah menghabiskan 5 hari 4 malam berburu bintang bersama, aku dan Makoto── “──P-permisi, numpang lewat…” Datang berkunjung ke ruang ganti konser tour Nagoya milik Nito. Ruangan sebesar ruang kelas itu dipenuhi staf, para pemain, dan orang-orang dewasa lain yang sibuk berlalu-lalang. Di sudut paling dalam──Nito yang sudah bersiap dengan kostum panggung dan riasannya berdiri menunggu kami. Begitu melihat kami datang, dia tersenyum lebar. “……O-oh!” Aku mengangkat tangan menyapanya, lalu cepat-cepat menghampirinya. Meski ini sudah kedua kalinya, tetap saja rasanya menegangkan datang ke tempat seperti ini. Orang-orang dewasa dengan setelan jas, para artis lain dengan kostum mencolok…… Buatku yang cuma anak SMA biasa, rasanya benar-benar membuat tubuhku kaku. ……Atau entahlah. Ada juga tatapan penuh rasa ingin tahu yang agak menusuk. Terutama dari para anggota band yang sepertinya memperhatikanku terus. Ya wajar juga sih. Pacarnya sang vokalis yang datang ke ruang ganti sebelum pentas, membawa seorang gadis lain lagi di belakangnya, pasti mereka berpikir, “Eh, itu bagaimana ceritanya?” “Lelah ya? Terima kasih banyak, sudah mau datang sampai ke sini sebelum tampil.” Aku berdiri di depannya dan langsung menyapa begitu. “Tidak apa-apa! Aku yang ingin ketemu kalian berdua, kok!” Dia berdiri dari kursinya, menatap kami dengan senyum sumringah. “Terima kasih ya, Meguri, juga Akutagawa-san, sudah datang!” “Tidak, justru kami yang berterima kasih sudah diundang……” “Jangan tegang begitu dong.” Ucapnya sambil menatapku dan Makoto bergantian. “Aku senang sekali. Hari ini, santai saja nikmati pertunjukannya, ya.” “Ya, aku benar-benar tidak sabar menunggu.” “Aku juga, deg-degan sekali sekarang.” Lalu──Nito mengambil jeda sejenak, dan berkata, “……Oh iya, kalian berdua juga pasti lelah, ya.” Dia berganti topik dengan tenang. “Kalian sudah berusaha keras mengamati, kan?” “Ah, terima kasih. Kami sudah berusaha sebaik mungkin.” “Ya, kami benar-benar sudah mengerahkan semua kemampuan.” “…Bagaimana, hasilnya?” Dengan suara yang nyaris tercekat karena gugup, Nito bertanya pada kami. “Bintangnya… berhasil kalian temukan?” Mendengar kata-kata itu—aku merasa, akhirnya saatnya tiba. Saat untuk melaporkan hasil kami pada Nito. Di ‘pengulangan’ sebelumnya, aku harus menyampaikan kenyataan yang menyakitkan. Bahwa kami sama sekali tidak menemukan asteroid baru, tidak ada satu pun objek yang jadi kandidat. Tapi justru karena itulah, aku dan Nito bisa tetap berdiri berdampingan. Tak diragukan lagi, itu menjadi titik balik bagiku dan Nito. Dan kali ini. Kali ini, aku dan Makoto── “Jadi begini…” Sambil bicara, aku merogoh tas. Tas yang kukalungkan di bahu. Dari sana, aku mengambil map bening, lalu beberapa lembar kertas. Yang tercetak di atasnya adalah—sekumpulan titik yang tak terhitung jumlahnya. Titik-titik hitam yang tersusun acak di atas kertas putih. Di sekelilingnya, hanya ada keterangan tanggal dan arah pandang yang ditulis sederhana. Dan di antara titik-titik itu, ada satu titik yang dilingkari dengan pulpen merah. “Ini… adalah kandidat objek yang kami temukan di malam pertama.” Sambil menunjuknya, aku memberitahu Nito. “…Eh?” “Lalu yang ini dan ini…” Aku menunjukkan dua lembar kertas berikutnya padanya. “Dua kandidat objek yang kami temukan di hari terakhir.” “…T-tidak mungkin…” ──Tiga. Kami menemukan tiga yang jadi kandidat objek. Itulah hasil dari Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang kali ini. Sejujurnya, tak ada yang menyangka bisa berhasil sejauh ini. Bahkan staf seperti Nagashino-san, Kanashino-san, dan Nokishita-san ikut bersemangat sekali. “──Aku tidak menyangka, di kegiatan pertama sudah sebanyak ini…!” “──Dengan jumlah ini, kemungkinan besar kalian akan dapat kode sementara!” “──Bisa jadi akan diakui sebagai objek baru!” Tentu saja Makoto juga tampak puas sekali. “──Kita berhasil, ya.” Setelah pengamatan terakhir selesai, dia bilang begitu dengan wajah yang kelelahan, matanya berat mengantuk. “──Kita berhasil mendapatkan hasil, aku dan Senpai…” Dan sekarang── Nito yang mendengar hasilnya dari kami. Mengetahui akhir cerita yang berbeda dari ‘pengulangan’ pertama. “…S-sungguh luar biasa…” Dia mulai menangis deras, suaranya bergetar menahan rasa haru. “Meguri… Makoto-chan… kalian hebat…” “Yah, meski begitu, kami belum dapat kode sementaranya,” kataku, mencoba tetap berhati-hati sambil sedikit tertawa. “Masih mungkin ternyata ini semua adalah objek yang sudah dikenal. Jadi, terlalu senang sekarang juga agak menakutkan.” “Meski begitu, tetap saja…” Nito menatap kami berdua, matanya menyipit lembut, penuh kasih. “Kalian sudah berusaha keras, benar-benar dengan sepenuh hati…” Lalu── “Selamat…” Dengan suara yang penuh getaran, dia mengucapkannya pada kami. “──Selamat ya, kalian berdua… sungguh-sungguh selamat!” * Setelah live Nito selesai, kami kembali ke Tokyo. Dalam perjalanan dari stasiun terdekat rumahku, Stasiun Ogikubo, menuju rumah Makoto── “Itu pengalaman yang luar biasa, ya.” “Iya, benar.” “Dapat hasil juga, dan live-nya Nito-senpai sangat keren.” “Benar, rasanya 5 hari ini benar-benar yang terbaik.” Kami berbincang begitu sambil berjalan di jalanan perumahan malam yang agak redup. Berbeda dengan waktu sebelumnya, perasaan bahagia yang meluap ini begitu jelas. Segalanya terasa berjalan mulus, benar-benar memuaskan. Maka—aku mendongak menatap langit. Menghitung jumlah bintang yang jauh lebih sedikit dibanding di Desa Achi, aku berpikir dengan mantap: ──Dengan ini, tidak apa-apa. Makoto pasti akan masuk ke SMA Amanuma. Masa depan yang menyedihkan, pasti bisa dihindari── Berbeda dengan ‘pengulangan’ pertama, kali ini Makoto belum sempat menembakku. Kalaupun dia masih punya rasa padaku, perasaan itu jauh lebih stabil. Dia juga tidak terlalu dekat secara khusus dengan Nito, dan pastinya tidak merasa tersakiti karenaku. Artinya, tidak ada alasan bagi Makoto untuk menghindar dari kami── Dan lebih dari itu… “Rasanya tidak akan pernah kulupakan seumur hidup…” “Iya.” “Benar-benar kenangan masa muda yang berharga…” “Mungkin, ini akan jadi kenangan terindahku.” Kami saling berbagi kata-kata itu. Dan—di dalam hati, aku menyadari sebuah rasa yang jelas. ──Persahabatan. Ya. Kali ini, kami berhasil menjadi teman dekat yang berharga. Lewat kegiatan pencarian bintang ini. Dengan hasil besar yang kami capai, terjalinlah persahabatan yang istimewa. Perasaan hangat yang kupunya pada Makoto, rasa percaya itu, memang bukan cinta, tetapi perasaan yang sangat menenangkan. Aku merasa sangat wajar, bahwa nanti pun kami pasti akan menghadapi banyak hal bersama lagi. …Ah, inilah jawabannya. Inilah hubungan yang seharusnya terjalin antara aku dan Makoto. Masa depan yang kucari di dalam ‘pengulangan’ ini. Itulah jarak yang pas—sebagai teman. “──Sampai sini.” “…Iya.” Saat aku berpikir begitu, Makoto berkata padaku. Ketika menoleh ke arahnya, di sana berdiri sebuah rumah satu lantai. Rumah biasa, kelihatan masih baru, tidak terlalu tua. Di gerbang depannya terpasang papan nama bertuliskan Egawa—rumah Makoto. Tempat yang sudah beberapa kali kukunjungi, pusat dari semua “masalah” Makoto selama ini. Tapi, sekarang aku merasa pasti akan baik-baik saja. Dunia Makoto sudah terbuka, sudah ada banyak orang dan tempat yang mau menerimanya. Karena itu, aku ingin dia bebas menikmati hidupnya sekarang. Dan aku, ingin terus menatap Makoto seperti itu di sisinya. “Senpai…” Dengan punggung menghadap pintu rumahnya, Makoto berbalik ke arahku. Lalu—dia menatapku sambil tersenyum penuh keakraban. Dengan ekspresi paling lembut yang pernah kulihat darinya, dia membuka mulut dan berkata, “Untuk selama ini… terima kasih banyak.” “Eh, eh, kenapa tiba-tiba jadi resmi begitu?” Nada bicaranya membuatku agak terusik, tapi entah kenapa aku tetap menanggapinya sambil tertawa santai. “Bukankah kita sudah cukup saling berterima kasih? Dari Desa Achi sampai ke sini, sudah sangat berkali-kali malah.” Sungguh, aku sendiri sampai tidak tahu berapa kali kami saling bilang terima kasih. Kalau dipikir-pikir, rasanya sudah cukup untuk beberapa tahun ke depan. Mengulangnya lagi terus-terusan rasanya malah bikin canggung. “Lagipula… ‘untuk selama ini’ maksudnya apa?” Karena Makoto terdiam, aku melanjutkan, “Kita kan masih akan berteman baik ke depannya. Makanya cukup bilang, sampai ketemu lagi.” Persahabatan kami pasti akan berlanjut. Baik setelah masuk SMA, maupun nanti kalau sudah dewasa. Tidak ada salahnya menutup satu bab, tapi aku sendiri sudah ingin menatap masa depan. “…jadi, kalau boleh dibilang…” Setelah sedikit berpikir, aku kembali menatap Makoto, “Mulai sekarang juga, aku mohon kerja samanya.” Kusampaikan kata-kata itu sambil menaruh seluruh perasaanku selama ini ke dalam suaraku. “Nanti setelah kita masuk SMA, aku juga senang kalau kau masih tetap menganggapku sebagai kakak kelas.” Aku ingin tetap berjalan di jalur masa depan ini. Setelah perjuangan panjang di banyak pengulangan, aku ingin melihat apa yang akan datang selanjutnya. ──Namun. “…Maaf.” Makoto mengucapkan itu—lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di depanku. Dan kemudian── “Aku pikir… kita sudahi saja di sini. Aku ingin menjadikan ini pertemuan terakhir kita.” “…Eh?” Suara itu akhirnya bisa keluar dariku, setelah jeda yang cukup panjang. “Su… sudahi… kenapa…?” Kata-kata itu hanya meluncur begitu saja tanpa menyangkut di pikiranku. Aku mengerti apa yang dia katakan, tapi tetap saja tidak bisa kupercaya. “Aku benar-benar… minta maaf.” Dengan wajah yang seolah berusaha menahan sesuatu, dia tersenyum sambil hampir menangis, dan berkata, “Kamu sudah sangat baik padaku, aku juga dapat banyak kenangan berharga. Tapi… maaf. Aku merasa, tidak mau lagi terus berada di dekatmu.” “…kenapa?” Suara serakku menahan emosi, lalu Makoto menoleh sedikit, “Senpai… pacaran dengan Nito-senpai, ya kan?” Dengan suara kecil, dia menanyakannya. “Memang tidak pernah bilang langsung, tapi kalian memang sudah jadi pasangan, kan?” “…Iya.” Karena kaget, aku langsung mengakuinya begitu saja. Hal yang selama ini memang tidak kusampaikan padanya secara terus terang. Sebetulnya aku ingin Makoto tidak tahu. Tapi, “Kenapa… kamu bisa tahu?” Aku menelan ludah, dan bertanya. “Kita sudah berusaha agar orang di sekitar tidak curiga…” “Kalau diperhatikan, kelihatan kok. Kalau benar-benar memperhatikan Senpai, ya mau tidak mau pasti kelihatan.” Makoto berkata begitu sambil tertawa getir. “Kalau dilihat, kelihatan sekali kalau kalian berdua punya ikatan yang dalam. Sudah lama saling kenal, sudah melalui banyak hal bersama. Di kelasku juga ada pasangan, tapi… hubungan Sakimoto-senpai dan Nito-senpai itu berbeda.” Tatapan Makoto menembusku lurus. “Yang ada di antara kalian… bukan cuma cinta, tapi rasa percaya yang jauh lebih dalam. Sudah terlalu stabil, terlalu menyatu. Makanya… aku putuskan cukup sampai di sini.” “…Kenapa sampai harus begitu?” Aku terlalu kalut, sampai bisa bertanya seperti orang bodoh. “Kenapa hal itu bisa jadi alasanmu untuk harus menjauh…” Padahal sudah tahu jawabannya, tetap saja ingin mendengarnya langsung darinya. “Kurasa…” Makoto menunduk, menatap ke arah kakinya, “Kalau begini terus… aku pasti akan jatuh cinta pada Senpai.” Nada bicaranya seperti orang yang sedang mengakui dosa, “Tidak, mungkin ini juga cuma alasan saja. Bisa jadi… sebenarnya aku sudah jatuh cinta. Karena rasanya… sesak sekali.” Makoto tertawa, seolah mengejek dirinya sendiri, “Kalau memikirkan Senpai dengan Nito-senpai, rasanya aku tidak bisa bernapas…” “…Kalau begitu,” Aku memberanikan diri menanyakannya, “Apa kau… tidak mau bergabung ke dalam klub astronomi?” “Iya.” “Lalu… lalu! Sekolahnya bagaimana…?” Aku menatapnya penuh harap, “Kau… akan tetap masuk ke SMA Amanuma, kan?” “…Maaf.” Entah kenapa, Makoto menampakkan wajah bersalah lalu meminta maaf. “Itu juga… aku minta maaf.” “Jadi kau mau ke sekolah lain…?” “…” Makoto tidak menjawab. Teman berhargaku itu tidak mau mengatakan apa yang akan dilakukannya. Di bawah langit dengan bintang yang jauh lebih sedikit dibanding Desa Achi, takdirku dan Makoto berpisah seperti itu—bercabang ke arah yang berbeda. * Cahaya berwarna merah muda memenuhi seluruh pandanganku. Kelopak cahaya seperti bunga sakura berputar di sekeliling tubuhku. Lalu perlahan melambat, dan pemandangan di depanku kembali muncul── “…Ah.” Aku memahami situasinya. Setelah semua yang terjadi dengan Makoto, aku kembali ke masa depan 3 tahun kemudian. Masa depan tempat kami semua melewati pengulangan waktu, pemandangan setelah kami lulus. Tempatku berdiri adalah ruang klub yang sudah akrab. Klub astronomi yang dulunya hanya sebatas kelompok penelitian, kini sudah naik tingkat menjadi klub resmi, penuh dengan peralatan bagus dan jejak kegiatan kami. “…Selamat datang kembali.” Nito ada di sana, duduk di depan piano di sampingku. Wajahnya sedikit lebih dewasa daripada saat pertama masuk SMA, menatapku dengan cemas. Dan, “…Untuk sekarang, selamat ya.” “Selamat sudah berjuang…” Di belakangnya berdiri Rokuyou-senpai dan Igarashi-san. Tapi—Makoto tidak ada di sana. Di antara teman-teman klub astronomi yang sudah biasa kulihat, sosok yang selama ini kucari tidak tampak. Itu artinya… “Gagal, ya.” Aku bergumam. “Di ‘pengulangan’ ini juga… gagal lagi ya.” Tidak ada yang bisa langsung menanggapi ucapanku, dan suaraku menghilang begitu saja di dalam ruangan klub yang sempit itu── **Previous Chapter** | **Next Chapter** Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 5 Chapter 4 Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Chapter 4 - Musim Semi Ke-N Kelopak bunga sakura memenuhi pandanganku. Aroma bunga yang menyengat memenuhi udara, an...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 5 Prolog **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena ** ** **Prolog** **So Much For My Happy Ending** Kelopak sakura yang tak terhitung jumlahnya menari tertiup angin musim semi. Berputar, berombak, mengalir bagai makhluk hidup, berwarna merah muda yang samar. Di tengah-tengah itu, aku berjalan menuju pintu masuk sekolah. Di telapak kaki bersol loafer, terasa kasar permukaan aspal. Udara yang kuhirup samar-samar berbau dedaunan. Di sekelilingku, ada teman-teman seangkatan yang mengenakan seragam sekolah. Mereka menggenggam tabung ijazah, korsase (hiasan bunga) merah di dada mereka, menampakkan senyum yang pantas menyertai “akhir sebuah kisah”. ──Apa sebenarnya arti dari perjalanan waktu ini? Tiba-tiba, pikiran itu muncul di benakku. Sesuatu yang sudah berkali-kali kulakukan demi meraih “hari esok”. Masa lalu yang diubah, peristiwa yang dibuat seolah tak pernah ada, kata-kata, perasaan. Apa sebenarnya semua itu? Makna apa yang dikandungnya? Aku melepas sepatu, masuk ke dalam gedung sekolah. Menyusuri koridor, lalu menaiki tangga di dekat situ. Rutinitas berangkat sekolah ini telah kuulang berkali-kali tanpa terhitung. Bahkan lebih banyak daripada murid biasa. Mungkin, kali ini akan menjadi yang terakhir. ──Di benakku, berkelebat banyak kenangan. Saat berjalan di sini bersama Nito, kebahagiaan yang memenuhi dadaku. Pertengkaran kecil dengan Igarashi-san sambil menaiki tangga. Kepanikan saat dikejar Rokuyou-senpai hingga terjatuh. Rasa canggung ketika pertama kali mengajak Makoto, yang masih SMP, ke sini. Hal-hal yang dulu terjadi, dan hal-hal yang sudah lenyap. Entah kenapa, rasanya mirip dengan kisah-kisah yang pernah begitu kusukai. Manga, novel, film yang pernah kubaca, yang karakternya masih membekas di hati sampai sekarang. Mungkin, pikirku sambil menaiki anak tangga menuju tujuan, baru saat menjadi lebih dewasa aku akan benar-benar memahami artinya. Ketika semuanya menjadi masa lalu, berubah jadi kenangan, bahkan rasa nostalgia pun pudar, barulah nilai sesungguhnya terlihat. Pasti, sama seperti masa remaja. Selama kita masih menjalani hidup sebagai tokoh utama, kita takkan mengerti artinya sebelum semuanya berakhir. Selalu begitu adanya. “…Haah.” Aku tiba di lantai empat. Menuju koridor penghubung antara gedung utara dan selatan. Gedung sekolah setelah upacara kelulusan dipenuhi keheningan yang sepi. Hanya ada suara langkah kakiku, dan langkah “dia” yang mengikutiku dari belakang, bergema seperti tetesan air. Anehnya, aku tidak menyesal. Aku juga tidak merasa salah langkah. “…Karena kita berhasil sampai di ‘saat ini’ seperti ini.” Begitu gumamku kecil saat sampai di gedung selatan. “Meski harus berputar jauh, kita tiba di ‘masa depan’ seperti ini…” Justru karena masa lalu itu ada, maka ada masa kini. Waktu yang terhapus, pemandangan yang hilang, semuanya terhubung dengan “sekarang”. Maka—pilihan yang kuambil, masa depan yang kami pilih bersama, aku ingin terus menapaki jalan itu. Dan di ujung hari-hari itu, aku ingin bertemu mereka lagi── Sementara aku memikirkan itu, aku pun tiba di tujuan. Di hadapanku ada sebuah pintu. Pintu ruang klub Astronomi. Kuhulurkan tangan ke gagangnya, lalu menoleh ke arah “dia”. Wajahnya tampak sangat cemas, tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Maka aku tersenyum padanya, “Tidak apa-apa kok.” Aku mengangguk untuk meyakinkannya. “Kita pasti akan baik-baik saja.” “…Iya.” Ia mengangguk balik, masih kelihatan cemas, tapi juga terlihat ada tekad di wajahnya, “Ayo, kita pergi──” Aku menggenggam gagang pintu lebih erat. Lalu, sama seperti sebelumnya, menjejakkan kaki ke balik pintu itu── **Previous Chapter** | **Next Chapter** Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 5 Prolog Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Prolog So Much For My Happy Ending Kelopak sakura yang tak terhitung jumlahnya menari tertiup angin musim semi. Berputar, ...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 4 **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena ** ** **Chapter 4 - Pertempuran Di Museum** POV: Sakamoto Meguri ──Hari Ujian “Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang.” Ruang rapat di sebuah museum di Tokyo ditetapkan sebagai lokasi pelaksanaannya. Lewat sedikit dari pukul 9.30 pagi. Setelah beberapa kali berganti kereta, aku dan Makoto tiba di Stasiun Ueno, tak jauh dari lokasi ujian. Beberapa menit sebelum waktu berkumpul, kami memasuki ruang rapat tengah di lantai empat museum yang telah ditentukan. “Jadi ini tempatnya…” “Kelihatannya begitu…” Ruangannya didominasi oleh warna putih, mengingatkanku pada ruang audiovisual di sekolah. Ukurannya sedikit lebih luas dari ruang kelas biasa. Di depan, ada papan tulis putih besar, dan di sekitar meja panjang putih yang berjajar, tampak para pelajar—yang sepertinya peserta hari ini—duduk di sana. “Tempat duduk SMA Amanuma…” “Ah, ini dia.” Kami menemukan tempat duduk yang telah ditentukan dan duduk berdampingan. Saat menengok ke sekitar, para peserta lain terlihat menghabiskan waktu masing-masing dalam suasana yang khas—ada yang memandangi buku teks dan soal latihan, ada pula yang memainkan ponsel. ──Akhirnya, ada enam sekolah yang mengikuti ujian kali ini. Total 10 peserta akan bersaing untuk bisa bergabung dalam kelompok penelitian ini. Dan dari mereka, hanya satu sekolah, dua orang saja, yang akan benar-benar berangkat ke Nagano. Aku pernah dengar bahwa tidak banyak peserta yang berniat serius, tapi melihat langsung seperti ini, semua tampak menatap ujian ini dengan sungguh-sungguh, membuat detak jantungku yang mulai tak menentu, terasa seakan dicekik oleh kesadaran. Lalu… “──!” Pintu di depan ruangan ujian terbuka. Seorang siswa laki-laki yang familiar masuk dari balik pintu itu. ──Rambut hitam lurus yang indah. Wajah tajam yang menunjukkan kecerdasan, dilengkapi kacamata. Berseragam SMA Harue—dia adalah Nanamori-san. Dengan tenang, dia berjalan ke tengah ruangan dan menemukan tempat duduk yang dialokasikan untuknya. Tepat di sebelah kanan kami, dekat sekali dengan SMA Amanuma. Tentu saja… dia pun menyadari keberadaan kami. “……” Dengan senyum samar yang tampak sepi, dia menundukkan kepala sedikit. Kami juga membalas dengan anggukan kecil, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. ──Aku tak lagi merasa terguncang. Aku mengerti bahwa Nanamori-san datang ke sini dengan perasaan yang sangat tulus. Aku juga memahami bahwa dirinya… sedikit banyak mirip dengan Nito. Meski begitu… aku tidak akan ragu. Ada tempat yang ingin kucapai. Ada orang yang ingin terus berada di sisiku. Dan aku ingin terus mengikuti perasaan itu, yang kini begitu nyata di dalam diriku. “──Selamat pagi. Aku Nagashino, staf dari Observatorium Desa Achi, lembaga milik negara.” Tepat waktu, seorang wanita staf naik ke podium. “Terima kasih telah berpartisipasi dalam seleksi ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’ hari ini. Hari ini, kami akan mengadakan ujian tertulis selama satu setengah jam mulai pukul 10 pagi. Setelah istirahat makan siang, wawancara akan dilaksanakan mulai pukul 1 siang. Kami mohon kerja samanya.” Setelah sambutan selesai, ujian tertulis pun dimulai. Kertas soal dan lembar jawaban dibagikan, semuanya masih dalam posisi tertelungkup menunggu waktu mulai. ──Aku bisa melakukannya. Sekali lagi, aku menyemangati diriku sendiri dalam hati. Dalam semua latihan dan simulasi sejauh ini, baik aku maupun Makoto sudah hampir selalu mendapat nilai sempurna. Bagian penting sebenarnya adalah wawancara nanti. Karena itu, yang perlu kulakukan sekarang hanyalah tetap tenang dan menunjukkan kemampuan seperti biasa. “…Yosh.” Dengan suara kecil, aku bergumam. Lalu, agar hanya dia yang bisa mendengarnya, aku berbisik pada gadis di sebelahku, “Ayo kita mulai, Makoto.” “Iya.” Wanita staf itu mengangkat suara, “Silakan mulai.” Di saat yang sama, semua peserta membalikkan kertas soal masing-masing. Dan dengan begitu── pertarungan kami pun dimulai. * “──Yosh, yosh, sepertinya kita berdua dapat nilai sempurna.” “Sampai sejauh ini, semuanya berjalan sesuai rencana.” Setelah ujian tertulis selesai──waktu makan siang. Aku dan Makoto duduk di bangku taman Ueno, baru saja menghabiskan bekal yang kami bawa, sambil memeriksa hasil ujian dengan penilaian sendiri. Isi ujiannya, secara keseluruhan, sesuai dengan yang kami prediksi. Tentang gerakan semu planet, pemahaman mengenai lubang hitam, kehidupan di alam semesta, dan evolusi bintang di diagram H-R—semuanya masih dalam cakupan materi yang kami pelajari. Berkat itu, aku dan Makoto menilai diri kami dengan hasil yang sempurna. Untuk permulaan, kami saling memberi apresiasi atas usaha yang telah kami lakukan. “Syukurlah, aku tidak jadi beban buat Senpai. Walau bagaimana pun, Senpai punya pengetahuan astronomi yang luar biasa. Aku terus merasa cemas, lho.” “Eh, jangan begitu. Justru Makoto juga luar biasa, tahu.” Aku meminum satu teguk milk tea yang kubeli dari mesin penjual otomatis, lalu tertawa. “Kau bahkan belum pernah menyentuh materi yang seperti ini sebelumnya, tapi bisa dapat nilai sempurna hanya dalam sebulan. Itu luar biasa sekali, kau terlalu pintar…” Jujur saja, aku tak bisa tidak ketawa. Makoto, yang bahkan masih SMP, bisa menyelesaikan soal-soal yang bahkan anak SMA bisa kesulitan. Aku benar-benar merasakan bakat di dalam dirinya, dan kalau hanya soal potensi, aku yakin dia jauh melebihiku. Tapi… “Yah, sebenarnya… aku juga lumayan ngotot belajarnya sih.” Makoto mengakui itu sambil tersenyum pahit. “Dibanding ujian masuk SMA, aku jauh lebih serius belajar untuk ini. Soalnya ujian masuk SMA, ya… kelihatannya sih aku bakal lulus juga walau belajar sekadarnya. Tapi yang ini, aku benar-benar memberikan semuanya.” “…Kau sampai segitunya, ya…” Aku menggenggam kaleng minuman di tanganku dengan erat, merasakan rasa terima kasih dan rasa bersalah sekaligus. “Terus terang, waktu kau bilang mau ikut juga, aku tidak menyangka kau akan serius sampai segini. Terima kasih, ya.” Aku jadi berpikir, bagaimana kalau Makoto tidak ikut? Kalau aku datang ke ujian ini sendirian, menjalani wawancara seorang diri… Mungkin aku tetap bisa lulus, tapi bisa juga aku gagal tanpa disangka-sangka. Bahkan sedikit saja terguncang karena Nanamori-san, bisa membuatku kehilangan keseimbangan dan semua jadi kacau. Kalau kupikir-pikir, bisa pulih dari keterpurukanku waktu itu pun, karena Makoto juga. …Ya. Aku benar-benar bersyukur dia ada di sisiku. Setidaknya selama sebulan terakhir ini, aku merasa sangat senang karena ada Makoto di sampingku. “…Tapi, ngomong-ngomong.” Aku kembali ke pertanyaan yang sudah lama ada di benakku. “Kenapa, kau sampai membantuku sejauh ini? Kenapa tiba-tiba memutuskan buat ikut ujian juga?” Iya, dia belum pernah menjelaskan itu. Setelah pengamatan bintang waktu itu, mungkin dia memang jadi tertarik pada langit dan bintang-bintang. Aku masih ingat bagaimana Makoto begitu tersentuh melihat bulan melalui teleskop. Mungkin itu salah satu titik balik yang memotivasi dia. Tapi sebelum itu── Kenapa dari awal dia memutuskan untuk ikut ujian ini? Kenapa dia mau mengejar tempat di kelompok ini bersamaku? “Sepertinya… sudah waktunya kau kasih tahu aku?” “Hmm, benar juga…” Makoto memasang ekspresi berpikir. Namun, setelah beberapa saat, dia tersenyum padaku dan berkata: “…Tapi aku tetap belum mau kasih tahu sekarang.” “Eh, kenapa?” “Soalnya, aku mau bilang itu saat wawancara nanti. Kalau memang ada pertanyaan seperti itu, aku akan menjawabnya langsung dari hati. Jadi, tunggu saja sampai nanti, ya.” “Hmm… begitu, ya.” Kalau begitu, aku akan menunggu. Masih ada sekitar 2 jam sebelum wawancara kami dimulai. Sudah menunggu selama sebulan, masa 2 jam saja tidak bisa sabar? Saat aku sedang memikirkan itu… “──Hai.” Sebuah suara yang familiar terdengar dari sebelah kanan. “Jadi kalian di sini.” Itu suara Nanamori-san. Sepertinya dia baru saja makan. Dengan mantel dan syal, dia berjalan mendekati kami. “…Halo.” “Selamat istirahat…” Kami menyapanya dengan sedikit rasa tegang. Hubunganku dengannya sebenarnya tidak seburuk itu. Memang dia pernah bilang dia tidak suka dengan tujuanku, tapi kami tetap berteman. Aku sendiri masih punya perasaan positif terhadapnya. Makanya… meski bingung, aku tidak bisa bersikap dingin padanya. “Bagaimana tadi ujiannya?” Dengan nada agak hati-hati, dia bertanya. “Kalian sudah coba nilai sendiri?” “Ya, kira-kira begitu…” “Dua-duanya… nilai sempurna?” “Sepertinya begitu.” “Wah, hebat sekali, kalian.” Nanamori-san mengangguk sambil tersenyum. Itu ekspresi murni penuh kebahagiaan, tanpa maksud tersembunyi. “Kalau kau sendiri, Nanamori-san?” “Ah, aku juga nilai sempurna.” “Sudah kuduga.” Tentu saja. Dia pasti dapat nilai sempurna juga. Pengetahuan dan semangatnya dalam bidang astronomi tidak kalah dengan siapa pun. Tak mungkin dia kalah dari kami. “Ngomong-ngomong, peserta dari sekolah lain…” Dengan senyum santai, Nanamori-san melanjutkan, “Ada banyak yang bilang soalnya sulit, atau mereka salah di sana-sini. Setidaknya, dari semua peserta, aku yakin kita bertiga ini berada di peringkat atas.” “Begitu ya…” Kalau begitu── Berarti di wawancara nanti, kami bertiga akan benar-benar bersaing. Siapa yang akan lolos bergabung dengan kelompok penelitian, siapa yang akan dapat kesempatan mencari asteroid. Di sanalah pertarungan terakhir akan ditentukan. “Sudah tahu mau bicara apa nanti saat wawancara?” Nanamori-san bertanya lagi. “…Iya.” Aku menatap langsung dan menjawab dengan tegas. “Aku akan bicara semua yang ada di hati.” “…Begitu ya.” Nanamori-san tersenyum kecil. Senyum itu──terlihat sangat menyedihkan. Bukan karena strategi atau manipulasi—murni senyum yang sepi. Dan karena itu… aku bisa merasakan dengan jelas bahwa orang ini sungguh menganggapku teman. Bahwa dia ingin tetap menjadi temanku. “Kalau begitu…” Kata Nanamori-san sambil melambaikan tangan dan pergi. “Kita sama-sama berusaha, ya.” Aku menyahut pada punggungnya yang menjauh, “…Iya.” Dengan suara yang terdengar seperti salam perpisahan, dia menjawab: “…Benar juga.” * “──Dari SMA Amanuna , Sakamoto-san, Akutagawa-san.” “Y-ya…!” “Sekarang giliran kalian. Silakan ke ruangan ini.” Waktu giliran kami untuk wawancara tiba kira-kira 20 menit setelah jadwal seharusnya. Sepertinya wawancara peserta dari sekolah lain berjalan cukup sengit. Siswa-siswa yang baru selesai wawancara di ruang tunggu tampak sulit menahan rasa lega dan kegembiraan saat mereka bersiap untuk pulang. Nanamori-san sudah menyelesaikan bagiannya dan telah kembali ke rumah. Aku penasaran, apa yang dia bicarakan? Apa yang dia sampaikan pada para pewawancara? Dengan perasaan gelisah, kami keluar dari ruang tunggu dan mengikuti staf yang memandu kami. Kami menyusuri koridor yang terasa seperti rumah sakit, lalu berhenti di depan ruangan bertuliskan “Ruang Resepsi.” Inilah──ruang wawancara. Tempat yang akan menentukan nasib kami. Aku dan Makoto mengetuk pintu sesuai dengan tata krama yang telah kami pelajari, dan setelah mendengar jawaban dari dalam, kami masuk. Di dalam ruangan──telah duduk tiga orang dewasa. Dua laki-laki dan satu perempuan. Di hadapan mereka terletak papan nama kecil, menunjukkan bahwa mereka adalah staf dari Balai Desa Achi dan pegawai observatorium. ──Detak jantungku langsung melonjak. Padahal sebelumnya saja jantungku sudah berdetak kencang, kini makin terasa menggila, tanganku mulai gemetar, dan keringat dingin pun mulai mengalir. “Tenang saja, kalian tidak perlu terlalu gugup.” Pria paruh baya dari balai desa, Nokishita-san, berkata sambil mempersilakan kami duduk. “Ini bukan forum yang kaku. Anggap saja ini kesempatan untuk saling mengenal lewat obrolan.” “Terima kasih banyak…” Setelah memperkenalkan diri, kami menjelaskan bahwa aku adalah anggota Klub Astronomi SMA Amanuma, dan Makoto adalah siswa SMP. Kami menjawab pertanyaan tentang kegiatan sehari-hari klub dan apa saja yang telah kami lakukan sejauh ini. Sesuai dengan kata-kata Nokishita-san, suasana wawancara sangatlah hangat dan ramah. Rasanya seperti sedang berbincang dengan paman dari pihak keluarga. Kami bercerita tentang bagaimana kami berhasil menyelamatkan klub dari ambang pembubaran, dan video-video yang kami buat pun mendapat tanggapan positif. “Hee~… Itu menarik sekali.” Kata Nagashino-san, wanita dari observatorium yang juga menjadi pengawas ujian tulis tadi pagi, sambil matanya berbinar. “Bolehkah aku lihat videonya sekarang, di ponselku?” “Tentu saja!” Aku mengangguk dengan senang hati karena melihat antusiasmenya. “Kalau dicari di YouTube dengan kata kunci ‘Klub Astronomi SMA Amanuma’, seharusnya langsung muncul.” “Hmm… Oh, iya benar.” Tampaknya videonya sudah muncul. Nagashino-san menunjukkan layarnya pada pria di sebelahnya sambil beberapa kali menyentuh layar. “Wah, ada yang sudah ditonton puluhan ribu kali… videonya juga bagus!” “Oh, ada kerja sama juga dengan SMA Harue, ya.” Pria satu lagi dari observatorium, pria berusia 30an bernama Kashino-san, ikut bersuara. “Barusan juga wawancara dengannya, lho. Nanamori-san yang muncul di video ini.” “Dia juga sangat antusias. Bagus sekali kalau kandidat-kandidat kuat bisa saling mengenal dan bekerja sama.” ──Kandidat kuat. Kata-kata yang terucap spontan dari mulut Nokishita-san. Nada suaranya terdengar tulus dan jujur, membuatku sadar bahwa kami adalah salah satu peserta yang cukup mereka harapkan. Jantungku kembali berdegup kencang. Wawancara pun berlanjut. Pertanyaan bergeser ke masa lalu kami dan momen pertama kali kami tertarik pada bintang. “──Waktu itu, dalam perjalanan pulang dari liburan keluarga.” “──Di jalan menuju rumah, saya menatap langit malam dan ayahku menjelaskan banyak hal padaku.” “──Saya mulai merasakan bahwa saya bagian dari alam semesta ini melalui pengamatan bintang bersama Sakamoto-senpai.” “──Dengan mencari bintang baru, saya merasa bisa melihat diriku sendiri secara lebih objektif.” Respon mereka terhadap jawaban-jawaban itu sangat positif. Ketiganya tersenyum, sesekali mengangguk penuh perhatian mendengarkan cerita kami. Tanpa terasa, waktu wawancara yang dijadwalkan mulai mendekati akhir. Pertanyaan yang diajukan mulai berfokus pada ‘apa yang akan terjadi ke depan’. Dan akhirnya── “Begitu ya. Terima kasih. Kalau begitu…” Nokishita-san berkata begitu sambil menarik napas panjang. “Sakamoto-san, Akutagawa-san──kenapa kalian ingin bergabung dengan Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang?” Akhirnya──pertanyaan itu pun datang. “Lewat pencarian asteroid ini, apa yang kalian harapkan akan terjadi?” Ketiganya kini menunjukkan ekspresi serius. Nokishita-san, Nagashino-san, dan Kashino-san menegakkan tubuh, dan atmosfir yang tadinya santai berubah menjadi fokus dan khidmat. Dari sikap mereka, aku bisa merasakan betapa pentingnya pertanyaan ini. Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya hanyalah pembuka jalan, untuk mencairkan suasana dan menggali niat sebenarnya dari peserta. Dan kini──saat itulah, aku mulai bicara. “……Saya…” Saat mulai berbicara──sejenak aku ragu. Apakah aku benar-benar boleh mengungkapkan semuanya? Pembicaraan tentang Nito, yang tidak ada hubungannya dengan astronomi. Jika dipikir-pikir… itu hanya cerita cinta biasa. Apa pantas aku menyampaikannya? ──Tapi yang mengejutkan… Jawabanku muncul begitu saja, tanpa banyak keraguan. “Saat ini──saya sedang menjalin hubungan dengan seseorang.” Dengan jelas, aku memulai dari sana. Dan entah kenapa──aku merasa bahagia saat mengatakannya. Seolah-olah, aku memang ingin membagikan cerita ini. “Anak itu… benar-benar luar biasa. Sekarang, dia mulai dikenal banyak orang lewat kegiatannya. Mungkin kalian juga sudah pernah mendengarnya.” Ya──aku hanya ingin menyampaikan. Kepada orang-orang yang mungkin akan memberiku kesempatan untuk ikut dalam pencarian asteroid ini. Kepada orang-orang yang mungkin akan memberiku satu-satunya peluang dalam hidup. Aku ingin mereka tahu yang sebenarnya. Apa yang aku pikirkan, apa yang aku kejar──aku hanya ingin menceritakannya. “Anak itu akan terus menjadi sosok yang semakin jauh. Dia akan terus bersinar, dicintai banyak orang… dan menjadi seorang gadis yang sangat istimewa.” Sambil berbicara, aku menggigit bibirku. Aku teringat pada masa lalu──saat aku hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh, di kehidupan SMA pertamaku. Jalannya sudah jelas. Selama Nito masih hidup, dia akan terus naik ke puncak tertinggi. Cahayanya begitu terang, sampai membuatku tak bisa bergerak. Namun── “Tapi… justru karena itulah,” Aku tersenyum pada para pewawancara. “Saya ingin menempuh jalan yang kutuju, secepat dirinya.” Di hadapanku, sudah ada jalan terbentang. Jalan yang berbeda dari Nito. Jalan yang benar-benar kuinginkan. Satu-satunya cara untuk tetap berada di sisinya──adalah dengan terus berlari bersamanya. “Seperti yang tadi sempat saya katakan… saya ingin suatu hari nanti bisa menamai sebuah bintang. Saya juga ingin menjadi seorang astronom. Itulah sebabnya, saya ingin terus melangkah maju, bahkan di saat ini pun. Agar saya tidak tertinggal darinya. Dan──” Setelah berkata demikian, aku mengangguk dan melanjutkan: “──itulah alasan kenapa saya ingin menemukan bintang.” ──Keheningan singkat menyelimuti ruang resepsi. Saat kulirik… Nokishita-san tersenyum lembut, tampak sangat senang. Nagashino-san menatapku dengan ekspresi “hoh…” yang tampak kagum… sementara Kashino-san bahkan terlihat sedikit berkaca-kaca. ──Tersampaikan. Aku bisa merasakannya dengan jelas. Perasaanku, harapanku, telah benar-benar tersampaikan kepada ketiga pewawancara itu── “……Terima kasih banyak.” Ucap Nokishita-san dengan suara yang mengandung kepuasan mendalam. “Kalau begitu, selanjutnya… bagaimana dengan Akutagawa-san? Kali ini kalian adalah kombinasi yang cukup langka, seorang siswa SMA dan siswa SMP, tapi kenapa kamu memutuskan ingin bergabung dengan Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang?” Mendengar kata-kata lanjutan darinya──aku menghela napas lega. ──Kami bisa bersaing. Tanpa ragu──kami bisa bersaing setara, bahkan lebih baik, dibanding para kandidat lainnya. Memang, aku tidak tahu cerita seperti apa yang disampaikan oleh Nanamori-san ataupun siswa-siswa dari sekolah lain. Mungkin saja ada orang yang ceritanya lebih menyentuh. Tidak bisa dibandingkan secara pasti. Namun setidaknya, hal-hal yang aku khawatirkan tidak terjadi. Yang jelas, kami adalah kandidat yang diperhitungkan── “──Karena saya suka padanya.” Makoto tiba-tiba mengucapkan kata-kata itu. “Saya suka──pada Senpai yang duduk di sebelahku ini.” ──Suka. Itu di luar dugaan. Sungguh, kata-kata yang sama sekali tidak aku duga akan muncul. “Dari yang kalian dengar barusan, kurasa kalian bisa memahaminya,” ucap Makoto melanjutkan. “Orang ini—betapa canggung dan lurusnya dia. Seberapa besar dia memikirkan orang lain dengan serius dan betapa dia menghargai mereka.” Kata-kata Makoto membuat para pewawancara terbelalak. Mereka benar-benar terpaku oleh arah pembicaraan yang tak terduga ini. Dan aku pun… tak bisa mencernanya. Kata-kata sesederhana itu, tapi tak peduli bagaimana aku mencoba, aku tetap tak mampu memahaminya sepenuhnya. “Bukan cuma pada pacarnya. Pada semuanya. Termasuk saya dan teman-teman lainnya. Senpai yang seperti itu—saya suka padanya.” Saat aku menatapnya… setetes air mata jatuh dari mata Makoto. Namun ia tetap menegakkan tubuh, bibirnya tersenyum, dan dengan jelas mengucapkan kata-katanya. “Saya benar-benar menyukainya.” Aku mencoba menenangkan diri sejenak. Rasa suka bisa berarti banyak hal. Suka sebagai kekasih, suka sebagai keluarga, suka sebagai teman, suka sebagai manusia. Aku tak tahu mana yang dimaksud Makoto. “Senpai seperti itulah yang mengajariku betapa menyenangkannya melihat bintang. Dan sekarang, dia mencoba menemukan bintang baru sendiri.” Lalu Makoto menatap para pewawancara dan tersenyum. “Itu… sudah jelas, ‘kan, kenapa saya ingin ikut bersama?” Ia mengatakannya seolah sedang berbicara dengan teman dekat. “Sudah jelas, ‘kan, kalau saya ingin melihatnya dari tempat yang paling dekat?” ──Perasaan yang Makoto arahkan padaku. Rasa suka. Kekaguman. Rasa sayang. Aku bisa merasakannya dengan jelas, dari ekspresinya, dari kata-katanya, dari nada suaranya. Aku masih belum tahu apa-apa. Mungkin aku belum sepenuhnya memahami maknanya… tapi ada kehangatan yang tumbuh dalam dadaku. Dia adalah sosok yang menjadi semakin berarti, baik di kehidupan SMA pertamaku, maupun yang kedua ini. Perasaannya membawa kehangatan lembut dalam hatiku. “Itulah sebabnya──” ucap Makoto, menegakkan tubuhnya. “Saya… sangat ingin ikut dalam kelompok penelitian ini.” Seperti sebuah deklarasi, ia mengatakannya lantang. “Saya ingin mencari asteroid bersama Senpai──!” * Setelah wawancara selesai──kami kembali ke ruang tunggu. Dengan tubuh terkulai di kursi, “…Seperti yang kuduga, lelah juga ya,” ucapku. “…Iya,” jawab Makoto. “Ujian tulis dan wawancara… dari tadi kita benar-benar tegang terus.” “Benar, betul sekali…” Tubuhku terasa benar-benar lelah, seolah-olah akan ambruk kapan saja. Bahkan berdiri saja terasa berat, dan pikiranku pun tak bisa berjalan dengan lancar. Energi hari ini sudah habis total. Aku harus segera pulang dan tidur. “Sebelum benar-benar tidak bisa jalan, lebih baik kita pulang…” “Iya…” Dengan malas kami mengemasi barang, lalu bangkit dari kursi. Kami mengucapkan salam kepada siswa dan staf di sekitar, lalu keluar dari museum. Saat menengadah──di balik pepohonan Taman Ueno. Langit yang jauh lebih luas dibanding di Ogikubo, kini dihiasi warna biru keunguan dari cahaya senja. Tanpa sepatah kata pun, aku berjalan perlahan di samping Makoto. ──Kurasa, begini saja sudah cukup untuk sekarang. Apa yang dikatakan Makoto dalam wawancara tadi. Arti dari kata “suka”. Akan jadi bohong kalau aku bilang aku tidak penasaran. Begitu mengingatnya, jantungku jadi berdebar. Dan Makoto yang ada di sampingku pun terasa seperti gadis yang berbeda dari biasanya. …Namun tetap saja. Sejak wawancara selesai hingga sekarang, dia sama sekali tak menyinggung soal itu lagi. Kalau begitu… begini saja sudah cukup. Hubungan kami ini, kurasa tak ada yang salah. Aku pikir… ini sudah cukup baik. “…Fuhh.” Aku mengembuskan napas, lalu sekali lagi menatap langit. Awan tipis melayang, dan langit timur mulai berwarna biru tua. …Aku ingin mengingat warna ini. Entah kenapa, aku tiba-tiba berpikir begitu. Sebagai momen singkat masa remajaku yang tak ingin kulupakan. Sebagai kenangan yang tak akan pernah hilang. Aku ingin menyimpannya dalam diriku. Hari ini pasti… adalah hari yang penting, bagiku dan Makoto── * “──Sensei, ini kuncinya.” “Ya, terima kasih. Sudah kerja keras.” Minggu berikutnya. Aktivitas klub astronomi kembali seperti biasa. Seperti biasa juga, aku pergi ke ruang guru untuk mengembalikan kunci ruang klub kepada Chiyoda-sensei. “Kalau begitu, saya duluan ya.” “Ah, tunggu sebentar. Ada yang harus kuberikan padamu.” “Hm? Diberikan…?” Apa ya? Mungkin lembar tugas untuk pelajaran? Saat aku berpikir seperti itu… “Nih, ini ringkasan tentang penelitian, lalu ini peta lokasinya.” Sensei mengambil satu bundel berkas cetakan dan mulai menyerahkannya satu per satu. “Ini jadwal keseluruhannya, lalu ini hal-hal yang perlu disiapkan sebelumnya. Ini formulir persetujuan yang perlu diisi orang tuamu, dan ini dokumen terkait data pribadi, ya?” “…Hm?” Aku menerima berkas-berkas itu, dan saat melihat tulisan di atasnya… “Ringkasan Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang” “Akses ke Observatorium Desa Achi” “Persiapan Awal Penelusuran Asteroid” “…I-ini, maksudnya…” “Ya.” Chiyoda-sensei mengangguk kepada diriku yang mulai memahami situasinya. “Kalian lolos.” Dengan senyum lebar di wajahnya, Sensei berkata, “Kalian berdua—Sakamoto-kun dan Akutagawa-san—terpilih sebagai peserta Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang.” “──YEEEESSSSSSSSSSSSSSS!!” ──Aku berteriak. Kabar baik yang datang tiba-tiba membuatku secara refleks mengeluarkan suara besar. Para guru di sekitarku menoleh dengan kaget. Tapi, aku tak bisa menahan rasa bahagia ini. Aku mengepalkan tangan, berteriak, dan bahkan sampai melompat-lompat di tempat. “YES! YES! Dengan ini… aku bisa mencari bintang! Aku bisa menyusul Nito!” ──Kami terpilih. Aku dan Makoto, dipilih oleh para pewawancara. Itu… membuatku nyaris menangis bahagia. Kesempatan untuk mencari asteroid. Bukti bahwa semua usaha kami tak sia-sia. Dan juga, rasanya seperti kami diakui. Di dalam wawancara itu, kami memperlihatkan diri kami apa adanya. Dan kami dihargai untuk itu. Seolah keberadaan kami sendiri diakui. Seolah harapan kami—diri kami—diterima. “Selamat ya, Sakamoto-kun.” Chiyoda-sensei tersenyum padaku tanpa sedikit pun berusaha menghentikan sikapku. “Kamu benar-benar sudah berusaha keras. Aku juga ikut senang.” “Ya… terima kasih banyak!” Setelah menerima penjelasan tentang dokumen, aku membungkuk sekali lagi dan keluar dari ruang guru. Lalu──dalam perjalanan menuju pintu masuk utama. Aku tak tahan lagi. Aku pun meraih ponselku. Memang dilarang menelepon di dalam sekolah, tapi hari ini pengecualian. Aku tak bisa menunggu. Aku ingin memberitahu kabar ini padanya—secepat mungkin. Dengan tergesa aku membuka LINE dan menelepon Makoto. Setelah beberapa nada sambung, Makoto segera mengangkat. 『Halo?』 Suaranya terdengar agak bingung dari ponsel. Ini pertama kalinya kami bicara lewat LINE di lini waktu ini. Tak heran dia agak kaget. “Hei, kita lolos!” 『Eh?』 “Kita lolos! Ujian ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’!” Sejenak keheningan. Waktu singkat seolah dia mencerna kenyataan ini. Dan lalu… 『Begitu ya.』 ──Suaranya terdengar jauh lebih tenang dari yang kuharapkan. 『Syukurlah.』 “Eh—eh, kau kok tenang sekali, Makoto.” Perbedaan reaksi kami membuatku tertawa sendiri. “Boleh kan, lebih senang sedikit?” 『Aku senang, kok. Sangat senang. Tapi…』 Dia sempat berhenti sejenak, lalu melanjutkan, 『Aku memang sudah yakin kita akan lolos sejak awal.』 Suaranya terdengar penuh percaya diri saat ia berkata demikian. 『Jadi, aku tidak merasa itu adalah hal yang mengejutkan.』 “…Begitu ya.” Entah kenapa, aku tertawa saat menjawab. Ternyata dia bisa sepercaya diri ini juga, ya. Di kehidupan SMA keduaku ini, aku terus menemukan sisi-sisi baru dari Makoto. Seberapa banyak hal yang kulewatkan di kehidupan pertama, ya? Baru sekarang aku sadar betapa ruginya diriku dulu. 『──Ayo kita temukan.』 Dengan suara dalam dan mantap, Makoto berkata. 『Kita berdua. Aku dan Senpai. Pasti akan menemukan asteroid.』 Nada suaranya yang tenang terdengar seakan yakin sepenuhnya dengan masa depan itu. Seolah-olah… ia sudah bisa membayangkan dengan jelas kami menemukan asteroid bersama. “…Iya, pasti.” Dengan senyum kecil yang tak bisa kucegah, aku mengangguk pada suara dari balik ponsel. * ──Malam itu. Sebuah pesan LINE datang dari Nanamori-san. Nanamori Takuya: “Aku dengar hasil ujian kalian.” Nanamori Takuya: “Katanya kau dan yang lain lulus, ya.” Nanamori Takuya: “Selamat.” Meguri: “Terima kasih banyak.” Meguri: “Umm, mungkin kedengarannya agak menyebalkan kalau aku bilang ini…” Meguri: “Tapi aku sungguh merasa kami bisa sejauh ini juga berkat Nanamori-san…” Meguri: “Jadi, terima kasih banyak…” Nanamori Takuya: “Ahaha, tidak kok. Itu semua karena kemampuan kalian sendiri.” Meguri: “Apa benar…” Nanamori Takuya: “Makanya, pastikan kalian menemukannya, ya.” Nanamori Takuya: “Asteroidnya.” Meguri: “Aku akan berusaha semaksimal mungkin!!!” Lalu, setelah beberapa menit… Nanamori Takuya: “Aku juga.” Nanamori Takuya: “Akan coba memikirkan ulang banyak hal.” Meguri: “Begitu ya…” Nanamori Takuya: “Jadi, kalau kau tidak keberatan…” Nanamori Takuya: “Aku akan senang kalau suatu hari nanti kita bisa mengamati bintang bersama lagi.” Membaca pesan itu──aku tak bisa menahan senyum lebarku. Sambil berguling-guling di atas tempat tidur, aku pun membalas dengan sepenuh hati, huruf demi huruf: T-e-n-t-u-s-a-j-a-! **【Introduction 8.4】** POV: Nito Chika “──Bukan, bukan! Bagian tadi, bisa coba dimainkan lagi sebentar?” Studio tempat kami latihan sebelum tour diliputi suasana yang berat. Ansambel bagian ritmis sama sekali tidak selaras. Padahal lagunya berdansa dengan beat empat per empat, tapi nuansa ritmenya terasa terlalu halus seperti enam belas per ketuk—dan sama sekali tak bisa buat menari. Saat rekaman dulu, bagian drum dimainkan orang lain. Tapi untuk tour ini, kami tak punya pilihan selain meminta drummer yang sekarang. Aku tetap duduk di depan piano, sambil memberi instruksi. “Mulai dari fill sebelum bagian reff pun tak apa. Ayo, lanjutkan sampai reff-nya.” “…Baik.” “Maaf, ya.” Drummer dan bassist menunduk dengan wajah tak nyaman. Aku tahu mereka merasa tidak enak. Aku pun merasa bersalah telah memintanya seperti ini. Aku baru 17 tahun. Baru masuk kelas 3 SMA. Sementara mereka berdua sudah akhir 30an. Usia yang mungkin sudah cukup untuk jadi orang tuaku. Pasti tidak menyenangkan menerima arahan dengan nada keras dari gadis muda seperti ini. Namun──aku tak punya jalan lain. Aku sudah mengulang-ulang waktu ini berkali-kali, dan aku tahu pasti. Jika tour ini gagal, maka reputasiku akan mulai menurun sejak saat itu. Jumlah pemutaran dan penjualan akan anjlok dengan cepat, dan proyek Integrate Mag tak bisa lagi dilanjutkan. Dan akibatnya… lagu-lagu… Aku tak akan bisa lagi memperdengarkan lagu baru ke dunia. Itu sama saja seperti tidak hidup. Karena musiklah, aku bisa bertahan hidup. Karena musiklah, aku merasa bisa menghadapi hidup ini. Maka, agar aku bisa tetap menjadi diriku sendiri, satu-satunya pilihan yang kupunya── “──Stop, stop!” Begitu mereka baru saja mulai masuk ke bagian reff, aku langsung menghentikan permainan mereka. “Maksudku… ini beat empat per empat! Dokk, takk, dokk, takk! Fokuskan pada ritmenya yang kuat! Jangan keluarkan groove-groove kecil itu! Bass drum-nya tolong lebih maju sedikit, snare-nya justru agak ke belakang—kalau tidak, malah jadi vibe enam belas beat yang biasa kalian mainkan──” ──Bukan seperti ini yang kuinginkan. Aku tak ingin menyalahkan orang lain seperti ini. Diriku yang dulu ingin aku jadi… bukanlah orang yang seperti ini. Tapi entah kenapa, aku merasa inilah satu-satunya cara yang tersisa untukku saat ini. Pandanganku menyempit, pikiranku mengeras, dan aku tak bisa menemukan cara lain. “──Ulang dari awal! Semuanya!” Sambil meletakkan tangan di atas tuts piano, aku berkata, “Kita akan terus latihan sampai bisa. Mulai dari hitungan.” Dengan ekspresi kaku, drummer mulai menghitung. Begitu empat kali stik terdengar, semua langsung memulai permainan. ──Sakamoto Meguri. Dia, yang sekarang hampir tak pernah kutemui lagi. Namun sampai sekarang pun, aku belum bisa melupakannya. Dia tetaplah sosok yang amat berharga bagiku. Tolong──setidaknya dia. Setidaknya dia, kumohon, tetaplah bahagia── Itulah yang aku doakan dalam hati. ** ** **Previous Chapter** | Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 4 Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Chapter 4 - Pertempuran Di Museum POV: Sakamoto Meguri ──Hari Ujian “Kelompok Penelitian Astronomi Desa Lang...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 2 **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena ** ** **Chapter 2 - Belajar Serius SEKARANG!** POV: Sakamoto Meguri “──Sejujurnya, kupikir kita tidak punya pilihan selain menargetkan nilai sempurna.” Setelah jam sekolah, di ruang klub astronomi. Aku menjelaskan hal itu kepada Makoto yang duduk di kursi seberang. “Waktu aku bertanya pada Chiyoda-sensei, katanya mulai ada beberapa SMA lain yang juga ingin ikut. Dan kabarnya, ada yang cukup serius juga persiapannya.” “Begitu ya…” Makoto mengangguk serius sambil menggenggam erat pena di tangannya. “Soal-soal ujian yang akan keluar itu setingkat pelajaran geosains SMA. Kalau klub astronomi yang serius, seharusnya bisa lolos tanpa masalah. Artinya… kita juga harus punya tekad untuk bisa menjawab semuanya dengan benar.” “Eeh, tapi Makoto-chan masih SMP, lho?” “Itu sih… berat juga, ya.” Igarashi-san dan Rukuyou-senpai yang juga ada di sana menimpali dengan nada prihatin. “Aku anak IPS, jadi sama sekali tidak mengerti soal geosains.” “Katanya memang ada sekolah yang bahkan tidak menyentuh materi itu di kelas, sih.” Memang, apa yang mereka bilang itu ada benarnya. Geosains bukanlah mata pelajaran yang akrab bagi semua siswa SMA. Bahkan di kalangan siswa SMA pun, cukup banyak yang tidak terlalu mengenalnya. Apalagi, Makoto sekarang masih kelas 3 SMP dan sedang mempersiapkan ujian masuk SMA. Kabarnya nilai-nilainya sangat bagus, bahkan sudah jauh melampaui ambang batas penerimaan sekolah incarannya, SMA Amanuma. Tapi tetap saja, itu pasti beban yang besar baginya. Meskipun begitu, “Tidak apa-apa, ini memang keinginanku sendiri…” Dengan wajah agak tegang dan kaku, Makoto tetap berkata dengan gagah. “Toh aku juga sudah diundang seperti ini, jadi aku ingin memberikan yang terbaik…” ──Hasil dari konsultasi dengan Chiyoda-sensei. Pihak penyelenggara, yaitu Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang, menyetujui keikutsertaan pasangan siswa SMP dan SMA. …Syukurlah, mereka tidak menolak. Jujur saja, aku akan merasa kesepian kalau harus ikut sendirian. Aku benar-benar senang waktu Makoto menawarkan diri, dan sempat menantikan hal ini juga. Selain itu, pihak SMA Amanuma juga memberikan izin bagi Makoto untuk datang dan menggunakan ruang klub astronomi. Dengan begitu, kami bisa belajar bersama sepulang sekolah di ruang klub, melakukan pengamatan bintang, membuat video, dan beragam kegiatan lainnya. Rokuyou-senpai dan Igarashi-san juga menyambut kehadiran Makoto dengan hangat. Mereka memandang kami berdua dengan tatapan ramah. Namun… ada satu hal yang mengganjal. “Hee~, jadi kamu teman Mizuki-chan dari SD, ya?” “Iya, benar.” “Kalau dengan Sakamoto, sudah kenal sejak kapan?” “Kalau main ke rumahnya, baru sekitar 2 tahun terakhir ini.” “Begitu ya, jadi sejak 2 tahun yang lalu…” Nito. Yang jadi masalah adalah Nito, yang datang ke ruang klub di sela-sela latihan. “Kalau dilihat-lihat… dari semua yang ada di sini, aku yang paling lama kenal dia, mungkin.” “Iya sih. Tapi, bukan berarti makin lama kenal makin bagus juga, kan.” “Dibanding pendek, panjang itu lebih baik kok.” “Begitu…” “Iya…” …Eh? Kok sepertinya suasananya tegang? Entah kenapa… percakapan antara Nito dan Makoto terasa agak kaku? Yaa, mungkin cuma perasaanku saja. Secara isi, percakapan mereka biasa saja, dan tidak ada yang membentak atau meninggikan suara juga. Tapi entah kenapa… atmosfernya terasa sedikit menegang. Bahkan senyum khas Nito juga terasa agak kaku… Tolong kumohon… Makoto sudah berani datang sejauh ini, jadi aku harap mereka bisa akur. Kalau bisa sih, bersikap ramah sedikit padanya, setidaknya jangan buat dia merasa tidak diterima… “Hmm… ‘Persamaan Drake’… ‘Paradoks Fermi’… Jadi begitu ya…” Sementara aku cemas sendiri, Makoto terus serius membaca buku teks ujian Sertifikasi Astronomi. Pandangan matanya fokus dan penuh semangat, sampai-sampai aku terkejut dia bisa menunjukkan ekspresi seperti itu. Waktu aku pertama kali sekolah dulu, aku cuma pernah lihat dia main game santai atau menonton video. Mungkin ini pertama kalinya aku lihat dia benar-benar belajar. Setelah selesai mempelajari satu bab tentang peradaban luar angkasa, kami memutuskan untuk coba kuis kecil. Makoto pun mulai mengerjakan soal-soal dari buku latihan bagian tersebut. Begitu dia selesai menjawab semuanya, aku memeriksa jawabannya dengan melihat kunci jawaban. “…Eh, hebatttt.” Tanpa sadar aku mengeluarkan suara takjub. “Semuanya benar, tanpa ada satu pun yang salah…” Nilainya sempurna. Padahal ini soal yang baru saja dia pelajari, dan isinya cukup sulit… tapi Makoto menjawab semuanya dengan benar seolah itu hal biasa. “Makoto… kau sebenarnya jenius, ya?” Aku bertanya dengan sedikit gentar, dan dia menjawab ringan, “Aku tidak tahu juga kalau soal jenius atau tidak. Tapi di SMP, aku biasanya selalu peringkat 1 di tiap ujian.” “Serius!?” “Serius.” Oh… jadi begitu ya… Waktu aku pertama kali sekolah dulu, aku tidak pernah punya kesan dia anak pintar. Aku bahkan sempat berpikir dia sama sepertiku, anak yang agak tertinggal… tapi ternyata beda jauh. Entah kenapa… aku merasa sedikit terpukul. Kupikir kami senasib sepenanggungan, ternyata dia jauh di atasku. “…Tapi ya, memang bikin tenang juga sih.” Aku juga berpikir begitu, jujur saja. “Awalnya kupikir ini akan berat sekali… tapi mungkin, kita benar-benar bisa lolos.” Geosains tingkat SMA pasti berat bagi siswa SMP. Materinya cukup luas, dan waktu menuju ujian cuma sebulan. Awalnya aku merasa ini misi mustahil. Bahkan sempat berpikir, paling ujung-ujungnya aku harus ikut ujian sendirian. Tapi kalau dia bisa sejauh ini… Kalau dia bisa menunjukkan kemampuan sehebat ini… itu benar-benar meyakinkan. “Oke! Kalau belajar teori aman, sekarang saatnya…” Begitu sesi belajar hari pertama selesai, dan bel tanda pulang sekolah berbunyi, aku berkata kepada Makoto, “Kalau lihat perkembangan sejauh ini, seharusnya kita bisa menyelesaikan semua materi sebelum ujian. Masih belum boleh lengah, tapi setidaknya untuk sekarang kita bisa lega sedikit.” “Iya, aku juga senang mendengarnya.” Sambil membereskan alat tulis, Makoto menghela napas lega. “Sebenarnya aku juga agak khawatir, sih.” “Ya lalu, meski kita lanjut belajar teori, ada hal lain juga yang harus kita jalani secara paralel…” Sambil bicara, aku menunjuk ke sudut ruang klub, ke arah teleskop yang terletak di sana, “Latihan langsung.” “Maksudnya pengamatan bintang?” “Iya. Aku ingin Makoto ikut juga dalam pengamatan selanjutnya! Dan juga…” Aku mengangkat laptop di tanganku, “Aku ingin kau juga ikut dalam pembuatan video yang biasa kita lakukan──” * “──Jadi, ya. Sesuaikan dulu bagian viewfinder-nya ini…” “Yang kenop di sini, ya?” “Benar. Itu bisa buat penyesuaian halus, jadi arahkan objek yang ingin dilihat ke tengah tanda silang…” Beberapa hari setelah Makoto bergabung dan persiapan ujian benar-benar dimulai, kami berkumpul di atap SMA Amanuma saat hari sudah benar-benar gelap. Aku, Makoto, Rokuyou-senpai, dan Igarashi-san. Nito tidak ikut, tapi Chiyoda-sensei juga hadir sebagai guru pembimbing. “Kalau melihat dari kalender lunar, hari ini usia bulan kira-kira 14 hari ya.” Sambil menatap ke arah timur, melihat bulan yang hampir purnama, aku berkata pada Makoto. “Kali ini, sesuai dengan status pemula, kita lihat bulan dulu saja. Itu pun, aku rasa tetap bisa membuat terkesan.” “Begitu ya…” “Di dekatnya juga ada Jupiter dan Subaru (gugus bintang Pleiades), jadi nanti bisa coba lihat juga. Nah, mulai besok, kita akan rangkai semua ini jadi video…” ──Pengamatan bintang dan pembuatan video. Itulah kegiatan utama Klub Astronomi SMA Amanuma. Keduanya sudah kami lakukan beberapa kali dalam sebulan, dengan ritme yang stabil, hanya berempat sampai sekarang. Awalnya, semuanya canggung, tak tahu harus mulai dari mana. Tapi sekarang sudah lumayan terbiasa. Rokuyou-san, Igarashi-san, dan Nito juga, sekarang sudah bisa merakit teleskop dan mengunggah video sendiri-sendiri. Aku tidak menuntut Makoto sampai sejauh itu, tapi aku ingin dia melihat bintang secara langsung, dan merasakan sendiri pesonanya. “Karena nanti juga ada wawancaranya, kan.” Makoto mengangguk, tampak mengerti. “Memang benar sih, kalau tidak punya pengalaman seperti ini, omongan kita nanti kurang meyakinkan.” Waktu menunjukkan lewat pukul 19.00. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, dan cahaya kota hampir tak sampai ke sini. Ada sedikit awan, tapi sepertinya tidak terlalu mengganggu pengamatan. Hanya saja, dinginnya agak menusuk. Karena itu, semua sudah bersiap dengan perlindungan masing-masing. Sedikit menjauh dari kami, Rokuyou-senpai, Igarashi-san, dan Chiyoda-sensei sedang mengatur teleskop tambahan yang baru dibeli, sambil bercakap dengan semangat tentang perlengkapan baru. “Ingin coba pakai equatorial mount (dudukan penyangga) juga, ya.” “Aku itu kagum sekali dengan fitur auto-tracking, lho. Kira-kira bisa beli pakai dana klub tidak ya?” “Yang begitu mah, tidak akan cukup dananya!” Mereka pun, awalnya mungkin tak terlalu tertarik pada pengamatan bintang. Karena ini adalah klub astronomi, mereka ikut hanya karena aku mengajaknya. Tapi sekarang… mereka terlihat menikmatinya. Dengan cara mereka sendiri, mereka ingin melihat bintang. Karena itu, aku ingin Makoto begitu juga. Gadis ini, yang akan ikut ujian bersamaku, semoga bisa merasakan pesona dunia ini lewat pengalamannya sendiri. “Haa… sulit juga ya ternyata.” Makoto di depanku bergumam sambil mengutak-atik viewfinder. “Aku pikir… cukup bawa ke atap, intip sedikit, lalu bintangnya langsung cling! Begitu.” Kelihatan sedikit kehilangan semangat. Tentu saja, aku tak merasa motivasinya menurun. Walaupun dia bicara seperti itu, dia tetap berusaha keras mengatur teleskop agar bisa menangkap bulan di viewfinder. Tapi mungkin karena udara dingin dan pekerjaan yang belum terbiasa, semangatnya sedikit menurun… …Hmm, ini agak gawat. Kalau begini, Makoto mungkin tidak akan menikmati pengamatan malam ini. Setelah cukup lama menghabiskan waktu bersamanya, aku tahu betul sifatnya. Terlihat tegas dan ceplas-ceplos, tapi sekali dia kehilangan mood, biasanya sulit untuk bangkit kembali. Karena itu juga, saat main FPS pun performanya tidak stabil. Begitu kehilangan ritme, sulit mengembalikannya—sering kejadian seperti itu. …Padahal aku ingin dia menikmatinya. Kalau bisa, aku ingin pengamatan pertama ini jadi momen di mana dia merasakan keindahan bintang dan luar angkasa… “Y-ya… kalau sudah terbiasa, semua ini akan terasa gampang, kok!” Aku buru-buru mengucapkan kata-kata yang bahkan tak terdengar meyakinkan. “Awalnya semua juga sulit, kan? …Jadi bagaimana? Sudah berhasil disesuaikan?” “Ya, coba lihat ini bagaimana?” “Coba kulihat… oh, itu bagus.” Aku mengintip ke viewfinder dan memastikan bulan ada tepat di tengah. “Sudah oke kok. Perbesarannya juga… segini cukup.” Sudah cukup lama sejak dia mulai melakukan penyesuaian. Matanya pun pasti sudah mulai terbiasa dengan kegelapan. Bisa dibilang, ini adalah kondisi terbaik. Tapi yah… kali ini, aku akan mencoba untuk tidak berharap terlalu banyak. Sambil menatap Makoto yang sedang mengintip lensa, aku mengembuskan napas. Kalau Makoto sudah begini, agak sulit membayangkan dia akan memuji atau merasa tersentuh. Dia mungkin tak akan sampai berkata “Biasa saja” dengan nada sinis, tapi kemungkinan besar dia akan mengakhiri ini dengan perasaan “Oh, cuma segini ya.” Tapi tidak perlu terburu-buru. Untuk lulus ujian, sebenarnya tidak harus “suka sekali dengan bintang.” Selama dia dapat pengalaman dan pengetahuan dasar, kita bisa pikirkan jalan keluarnya nanti… “…Makoto?” Sampai di situ pikiranku, dan aku menyadari sesuatu yang aneh. “Kenapa? Ada apa?” Makoto masih menatap ke dalam lensa. Sudah lebih dari satu menit sejak dia mengambil posisi itu. Namun, dia tak bergerak sedikit pun. Seolah terkena sihir penghenti waktu, tak bergerak barang 1 mm pun. “Hei, ada apa sebenarnya…?” Merasa khawatir, aku menyentuh punggungnya. “Kalau sulit untuk melihatnya, pengaturannya bisa kita ubah──” ──Dia menoleh. Makoto menoleh ke arahku. Lalu, “Ini…” Dengan wajah sangat serius, dia bertanya, “Yang terlihat lewat teleskop ini… itu memang bulan yang asli, kan?” “…Eh, ya… tentu saja?” “Bukan video atau foto, ini memang bulan yang ada di sana, sekarang, kan? Dalam waktu yang nyata?” “Ah, iya… ya, kurang lebih begitu.” Aku mengangguk, lalu mengingat sesuatu dan berkata, “Sebenarnya, butuh sedikit waktu bagi cahaya untuk sampai ke sini, jadi ada delay sekitar 1,3 detik. Tapi, ya, itu bulan asli, kok.” Setelah aku menjawab begitu, Makoto menyatukan kedua tangannya di depan dada. Dan── “…Waaah…” ──Di matanya, cahaya bagaikan galaksi berkelip. Wajah yang biasanya kaku kini melunak, dan dengan suara lembut dia berkata: “Indah sekali…” Makoto kembali menatap ke dalam lensa teleskop. “Jadi ini… bulan yang benar-benar ada di sana, saat ini…” ──Suaranya menggema. Aku merasakannya dengan jelas. Nada suaranya, ekspresinya, sorot matanya yang sedikit berkaca-kaca… Pemandangan yang dilihat lewat teleskop itu telah menyentuh hati Makoto. “Indah sekali… bisa sejelas ini…” …Aku pun pernah merasakan hal yang sama. Saat melihat langit malam di Ogikubo bersama keluargaku. Hari itu aku menatap bintang, dan hati ini diguncang oleh sesuatu yang luar biasa. Makoto pun sekarang, pasti merasakan hal yang sama seperti yang dulu kurasakan── “…Kita juga bisa ubah perbesarannya, lho.” Dengan menahan rasa senang yang memuncak, aku berusaha untuk tetap bersikap tenang dan berkata: “Kalau diperbesar sedikit lagi, kita bisa melihat kawah-kawahnya juga.” “Aku mau coba!” Makoto menjawab penuh semangat. Aku pun membantu mengatur ulang teleskop. Dan ketika dia kembali menatap ke dalam lensa── “…Ooh.” Sambil menghela napas panjang, dia berbisik begitu. “Permukaannya… terlihat jelas sekali. Ada benda seperti ini di luar sana…” ──Aku bisa merasakan kekagumannya dengan begitu nyata. Segala hal tentang luar angkasa, yang sudah dipelajari berkali-kali lewat video, ensiklopedia, atau pelajaran di sekolah. Tentang planet-planet, bintang-bintang, satelit-satelit, dan waktu yang telah mengalir begitu lama. Namun semuanya terasa seperti kisah khayalan. Seolah itu hanyalah dunia yang terpisah sepenuhnya dari kehidupan sehari-hari. Seolah tidak ada hubungannya dengan diriku sendiri. Tapi──pengamatan bintang mengajarkan satu hal. Bahwa alam semesta itu terbentang luas di atas kepala kita. Bahwa kita, hanyalah satu bagian kecil dari alam semesta yang luar biasa ini. Dan mungkin, perasaan itu… kadang cukup kuat untuk mengubah hidup seseorang── “…Haaah…” Makoto mengangkat wajahnya dari lensa, menghela napas dalam-dalam. Lalu, seperti kehilangan kekuatan, dia duduk bersimpuh di tempat. “…Aku mungkin belum bisa bilang kalau aku benar-benar mengerti perasaan itu,” gumamnya lirih tanpa menatapku. “Baru sekali melihat bulan, belum pantas juga bicara besar…” Kemudian dia mendongak, menatap ke arahku. Senyuman kecil mengembang di wajahnya. Senyum itu—sama seperti yang dulu pernah dia tunjukkan padaku, dalam kehidupan SMA pertama kami. “Aku rasa… aku bisa sedikit membayangkan, kenapa Senpai ingin menemukan bintang.” “…Begitu ya.” Hatiku dipenuhi rasa bahagia yang meluap, dan aku mengangguk padanya. “Kalau begitu… aku senang. Terima kasih.” “Sama-sama.” Sambil saling menatap, kami berdua pun mendongak melihat bulan bersama-sama. Tiba-tiba saja, aku merasa yakin akan satu hal── Bahwa pemandangan seperti ini. Pemandangan yang tampak biasa tapi penuh makna seperti ini, akan menjadi kenangan yang sangat berharga untuk diriku di 10 atau 20 tahun mendatang. * ──Mulai keesokan harinya. Kami langsung mulai menyusun video dari rekaman pengamatan bintang malam sebelumnya. Itu pekerjaan yang sudah biasa, dan aku memang berniat mengajarkannya perlahan pada Makoto. Tapi──sesuatu yang tak terduga terjadi. “──Bagaimana kalau kita menegaskan kembali tujuan proyek ini pada penonton?” “──Selain mencari bintang, bagaimana kalau kita angkat juga tema partisipasi dalam ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’?” “──Untuk pengeditan videonya, kurasa bisa dibuat lebih menarik lagi.” “──Lihat ini, channel yang ini bisa dijadikan referensi.” ──Makoto mulai menunjukkan bakatnya. Tiba-tiba saja, dia mengusulkan berbagai ide penyutradaraan pada kami. Dan semuanya adalah saran yang bagus. Begitu direalisasikan, kualitas video kami meningkat drastis. Kalau orang awam melihatnya, mereka mungkin akan mengira ini buatan seorang kreator video profesional tingkat menengah. Saat kami menonton hasil jadinya bersama-sama, “Eh, kualitasnya naik drastis sekali, ya…” “Makoto-chan kamu sangat hebat sekali…” Bahkan Rokuyou-senpai dan Igarashi-san sampai tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Dan memang… dari sudut pandangku sendiri, hasilnya sangat mengejutkan. Ritmenya pas, tidak terlalu cepat atau lambat, dengan teks (subtitle) yang disisipkan dengan rapi dan jelas. BGM gratis yang digunakan juga berhasil memperkuat suasana, dan yang paling menonjol adalah narasi Makoto sendiri. Suaranya yang sedikit serak tapi lembut dan manis, sangat cocok dengan gambar bulan dan bintang yang ditampilkan. “Mendapat pujian seperti ini… aku jadi malu…” Makoto menggeliat canggung, menundukkan kepala dengan ekspresi tegang. Sepertinya dia agak malu mendengar pujian. “Aku senang kalau bisa sedikit membantu…” “Kurasa… video ini akan dapat banyak penonton.” Sambil menyilangkan tangan dan menatap ke arah layar, aku bergumam. “Sampai sekarang, video kita paling banyak ditonton 200 kali. Kebanyakan yang menonton pun kenalan sendiri… Tapi kalau seperti ini, bisa-bisa mulai menarik penonton sungguhan…” Selama ini, jumlah penonton video kami sangat terbatas. Video itu hanya semacam laporan kegiatan, agar pihak sekolah tahu bahwa klub kami masih aktif. Namun… dengan kualitas seperti ini, kalau ke depannya kami terus membuat video sebagus ini, mungkin kami bisa benar-benar menjangkau orang-orang yang memang menyukai konten bertema luar angkasa── “──Giiiriittt…!” ──Tiba-tiba terdengar suara tak menyenangkan. Suara mencurigakan datang dari belakang, mengusik suasana yang damai. Penuh firasat buruk, aku perlahan menoleh ke belakang. “……Hii!” ──Tentu saja. Di sana berdiri Nito. Seperti biasa, dia menyempatkan diri datang di sela-sela jadwal latihan. Wajahnya masam seolah baru saja mengunyah serangga. “…Y-ya, cukup bagus juga, kan!?” Dengan nada tinggi dan sok percaya diri, Nito berseru. “Editing-nya? Lumayan oke, sih. Suaranya juga imut, cocok-cocok saja, kan?” ……Ada apa sebenarnya dia!? Apa dia lagi-lagi merasa harus bersaing? Kenapa selalu harus bertarung dengan Makoto!? Dari kemarin kenapa sikapnya begini terus!? Tidak perlu bersaing segala juga bisa, kan!? Meski begitu, Makoto tetap Makoto. “…Terima kasih.” Tanpa menoleh sedikit pun ke arah Nito, dia menjawab dengan wajah datar. Lalu menambahkan, “Membuat video ternyata tidak sesulit yang aku kira, ya.” Secara tak terduga, Makoto malah mulai berkata sesuatu yang terkesan menyindir. “Setelah menonton video-video buatan Nito-senpai, aku pikir pembuatannya pasti merepotkan. Tapi ternyata, malah lebih gampang dari yang kuduga.” “…Be-begitu ya?” Dengan wajah setengah kesal, Nito mencoba tetap terlihat tenang meski jelas tersinggung. “Y-ya, mungkin memang begitu!? Tapi skalanya beda ya!? MV-ku yang pertama itu, sekarang penontonnya hampir tembus 10 juta, tahu!?” “Tapi bukankah itu dibuat oleh staf profesional?” “Aku juga kasih masukan, tahu! Aku bilang, ‘aku mau nuansa seperti ini’, dan segala macam!” “Fufu… Kalau begitu, tetap saja bukan buatan sendiri, kan…” “Stop, stop!” Igarashi-san menyela di antara mereka berdua. “Ya ampun, Chika, Makoto-chan, tenang dulu! Sekarang itu bukan saatnya saling sikut seperti ini!” “…Mm, mmm.” “…Ya, maaf.” “Dan kamu juga, Sakamoto!” Igarashi-san lalu menoleh ke arahku. “Ini semua salahmu, jadi tanggung jawablah buat beresin!” “…Eh? Aku!?” Aku tak bisa menahan diri untuk mengeluarkan suara kaget. “Kenapa ujung-ujungnya malah salahku!?” “Bukankah itu sudah jelas!” “Ini mah cuma kecelakaan yang menyeretku saja, kan!?” Yah… sebenarnya aku juga agak sadar sih. Nito mungkin jadi kesal karena aku terlalu banyak memuji Makoto. Dan Makoto, entah kenapa, malah membalas sindiran Nito tanpa menahan diri… Tapi apa iya itu semua salahku? Rasanya terlalu berat sebelah… “Yah, anggap saja begitu kalau aku yang bicara.” Dengan senyum akrab, Igarashi-san melanjutkan. “Ini kan aku, sahabatmu yang bilang. Jadi tolong pikirkan sedikit, ya.” “Ugh…” “Aku juga setuju,” tambah Rokuyou-senpai yang tiba-tiba ikut bicara. “Bisa bersikap bijak dalam situasi begini, itu juga bagian dari tugas partner-ku.” “Ughhh…” “Pasti akan sulit, tapi semangat, ya.” Seperti biasa, tuntutan mereka berat sekali. Aku yang biasanya kurang peka, merasa ini agak di luar kemampuan. Tapi kalau dua orang ini yang bilang, entah kenapa aku merasa harus menuruti. Mereka memanggilku ‘sahabat’, ‘partner’—dan entah kenapa, hatiku jadi hangat mendengarnya. “…Yah, baiklah akan kucoba.” Aku menghela napas dan menjawab begitu. Mereka berdua ini memang benar-benar tahu cara memperlakukanku… * Dan tentu saja──video yang diproduksi oleh Makoto pun meledak. Dalam sekejap, jumlah penontonnya menembus 1.000, dan beberapa hari kemudian sudah mencapai 1.800. Kolom komentar yang sebelumnya kosong, kini mulai dipenuhi tanggapan dari para penonton. Ini bagus, pikir kami semua, dan semangat kami pun melonjak. Minggu berikutnya, kami langsung melakukan pengamatan bintang lagi. Video hasil dari pengamatan itu juga mendapat sambutan hangat, dan proyek ini terus berkembang makin besar. Lalu──beberapa malam setelah itu. Beberapa menit lewat tengah malam. “Meski begitu… tetap saja, ini luar biasa ya…” Sendirian di kamar, aku duduk di depan komputer sambil memutar ulang videonya. “Gaya editing-nya, ritmenya… tidak kelihatan kalau itu buatan orang yang baru pertama kali buat.” Sebagai penonton biasa pun, aku bisa menikmatinya. Padahal aku bagian dari tim produksi, tapi aku merasa video ini benar-benar menarik sebagai sebuah konten. Ini pertama kalinya aku merasakan hal seperti itu. Tapi… “…Hmm… rasanya, ada sesuatu yang aku lupakan, ya…?” Dia memakai pakaian tidur model one-piece yang berbulu lembut—penampilannya benar-benar gaya santai untuk di rumah. “Mizuki sudah tidur duluan, tapi aku masih belum mengantuk. Boleh aku di sini sebentar?” “Oh, tidak masalah. Aku juga belum tidur kok.” “Terima kasih.” Hari ini──Makoto sedang menginap di rumahku. Dia sedang menginap di rumahku untuk main, seperti saat-saat dulu. Kalau diingat-ingat, waktu aku masih menjalani kehidupan SMA pertamaku, dia juga pernah datang menginap seperti ini. Waktu itu kami belum sedekat sekarang, jadi dia tidak pernah sampai datang ke kamarku seperti ini. “…Terima kasih, ya.” Entah kenapa, aku merasa senang, lalu mengucapkannya pada Makoto. “Karena sudah berteman baik dengan Mizuki. Dia itu anaknya suka bengong, jadi kalau punya teman sepertimu, aku juga lebih tenang.” “Ah, tidak… justru aku yang harusnya berterima kasih.” Sambil duduk di ranjang dan membuka manga dari rak bukuku, Makoto tersenyum dan menggeleng pelan. “Bahkan hari ini pun, aku merasa Mizuki yang menolongku. Dia yang bilang, ‘Kamu menginap saja,’ dan memikirkan perasaanku.” “…Perasaanmu?” “Aku… agak kurang betah di rumah,” ujar Makoto sambil tersenyum kecil dan mengembuskan napas pelan. “Kadang, Mizuki suka mengajakku keluar seperti ini…” Ngomong-ngomong, dulu Mizuki juga sempat cerita soal itu. Tentang rumah Makoto, yang katanya “begitulah”, atau semacamnya. Selama ini aku tidak pernah benar-benar menyentuh urusan keluarga Makoto. Bahkan di kehidupan SMA pertamaku pun, dia tidak pernah bicara soal orang tua atau keluarganya. Mungkinkah ada masalah? Meski secara kasat mata, Makoto tak tampak seperti seseorang yang sedang memikul beban berat… Dia hanya terlihat seperti gadis otaku yang agak kaku dan tak terlalu ramah. Memang, kadang tindakannya sulit ditebak, tapi… “…Hm?” Sampai di situ pikiranku berhenti. Kata “tindakan sulit ditebak” memicu sesuatu dalam ingatanku──dan saat itulah aku sadar. “Ah iya…!” Aku berdiri dari kursi dan berteriak. “Aku tahu sekarang! Kenapa Makoto bisa sehebat itu dalam editing video!” “…Hah?” Ya, ada alasannya. Alasan yang sangat jelas──dan entah kenapa, aku sempat melupakannya. Tapi itu jelas-jelas sesuatu yang pasti telah membentuk dirinya sekarang. Aku menatap Makoto yang terlihat bingung dan menunjukkan senyum penuh keyakinan. “──Akuta Makoto!” Aku menyebutnya lantang. “──Itu dia! Vtuber ‘Mako Channel’ Akuta Makoto!” Tidak salah lagi. Itu adalah sesuatu yang diceritakan oleh Makoto dari masa depan padaku. Bahwa sebenarnya, dia pernah diam-diam menjadi seorang VTuber. Dan kalau aku menyebutkan itu, versi masa lalunya—Makoto yang sekarang—akan percaya bahwa aku benar-benar melakukan perjalanan waktu. “Itu alasannya! Kenapa kau sudah terbiasa dengan editing video…” Makoto pernah mengedit video. Bukan hanya itu──dia pernah mengunggah video sebagai seorang VTuber, bagian dari tren paling kekinian di YouTube. “Dengan pengalaman itu, kau bisa membuat video dengan kualitas tinggi dan sesuai tren sekarang…!” Rasanya benar-benar memuaskan. Seperti teka-teki yang akhirnya terpecahkan. Eureka (aha)! Ini benar-benar momen “aku mengerti!” yang menggembirakan. Namun… “…Makoto?” Saat aku melihat ke arahnya, Makoto sedang duduk di atas tempat tidur, menunduk, dan tubuhnya sedikit gemetar. “…T-tolong… jangan bilang-bilang…” Ujarnya dengan suara bergetar. Lalu──dia mengangkat wajahnya dan menatapku. “Masalah VTuber itu… tolong jangan pernah menyebutkan itu lagi!” “Eh? Kenapa!? Bukankah itu hebat? Kau dapat skill dari situ!” “Tapi itu… itu bagian dari masa laluku yang kelam! Aku tidak mau mengingatnya lagi!” “Eh, tidak begitu juga! Banyak orang yang ingin mencoba jadi VTuber, tahu!” “Justru karena itu aku malu!” “Tapi, kau sudah mencobanya kan! Itu keren! Harusnya kau bangga──” “──Ugh, sudah cukup! Diam!” teriaknya sambil berdiri dengan wajah yang nyaris menangis. “Kalau kamu menyebutkan itu lagi──aku akan berhenti ikut ujian!” Kata-katanya itu membuatku langsung bungkam. Mengejar partisipasi ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’ sendirian akan terlalu sepi. “…Maaf…” Dengan suara kecil dan penuh penyesalan, aku berlutut dan membungkuk padanya. “Jangan berhenti ikut ujiannya, ya… kumohon…” * Beberapa waktu setelah kejadian itu── Sore hari di hari sekolah, tak lama sebelum matahari terbenam. Aku dan Makoto sedang berjalan di sekitar Stasiun Ichinoe di Jalur Toei Shinjuku, sambil sesekali memeriksa peta di ponsel. “A-agak gugup juga ya rasanya…” “Aku juga…” “Pertama kali datang ke daerah ini, dan masuk ke sekolah lain pula. Jarang sekali kejadian begini…” “Kita juga tidak mengenal siapa-siapa di sana, kan…” Kulihat sekeliling, dan langsung terasa perbedaan suasana dibandingkan Ogikubo, tempat kami tinggal. Jalanan lebar terbentang di sisi kami, diapit bangunan-bangunan kotak yang berdiri dengan jarak rapi. Berbeda jauh dengan kampung halaman yang terasa berantakan, di sini semuanya terlihat rapi, bahkan sedikit dingin. Mungkin itu sebabnya aku merasa sedikit gugup, seolah tanah yang kupijak terasa kurang stabil. ──SMA Negeri Harue. Karena suatu alasan, hari ini kami sedang menuju sekolah tersebut yang katanya terletak di daerah ini. Beberapa hari yang lalu, kami mendapat komentar dari ketua klub astronomi SMA Harue di salah satu video kami. Komentarnya seperti ini: “Salam kenal. Aku Nanamori, ketua Klub Astronomi SMA Negeri Harue. Kami juga sedang menargetkan untuk ikut serta dalam ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’, jadi aku meninggalkan komentar ini. Video kalian sangat bagus! Sebagai sesama yang punya tujuan yang sama, mari saling mendorong dan berkembang bersama!” ──Aku benar-benar kaget saat itu. Ini kali pertama ada orang asing—bukan kenalan—yang meninggalkan komentar seperti itu. Ya, sih, pernah juga dapat reply dari orang asing di Twitter (sekarang X), tapi itu soal game mobile, dan hanya saling membalas reply sebentar, itu pun tanpa tahu siapa sebenarnya lawannya. Apalagi, waktu itu cuma saling menyindir saja. Makanya komentar ini terasa berbeda. Mengejutkan sekaligus bikin senang. Butuh waktu puluhan menit buatku membalasnya… dengan gugup. Lalu entah bagaimana, aku dan Nanamori-san jadi tukar kontak LINE. Setelah beberapa kali mengobrol santai, dia pun mengundang kami: “Kalau mau, main saja ke sekolah kami.” “Ah, itu dia,” kataku. “Wah, jadi itu bangunannya?” sahut Makoto. Dari balik celah bangunan di seberang jalan, terlihat gedung sekolah SMA Harue. Gedung tua yang warnanya menguning, mirip seperti SMA Amanuma. Dinding krem pudar dan penopang tambahan untuk penguatan gempa terlihat menempel di beberapa sudut. Aku merasa sedikit lega. Sekolah Negeri, dari luar sih rata-rata bentuknya mirip-mirip. Tapi──di antara bangunan itu, ada satu fasilitas yang benar-benar tak biasa. “…Wah, itu kubah observatorium!” “Itu dia…!” Nada bicara kami langsung naik penuh semangat. ──Kubah observatorium. Bangunan berbentuk setengah bola yang digunakan untuk pengamatan langit. Dan ternyata, SMA Harue benar-benar punya fasilitas itu. Kami sudah tahu keberadaannya dari situs sekolah mereka. Waktu itu, kami hanya bisa iri dan bilang, “Wah, enak sekali ya…” Tapi sekarang, melihat langsung dengan mata kepala sendiri, rasa irinya jadi berkali-kali lipat. Gugh… gugh…! “Aku penasaran seperti apa di dalamnya…” Makoto tampak masih cemas saat melangkah menuju sekolah. “Klub astronomi SMA Harue lumayan besar, ya? Seperti apa ketua klubnya…” Menurut Nanamori-san, jumlah anggota klub astronomi mereka ada 31 orang. Dengan kata lain… delapan kali lipat dari klub kami yang cuma berempat di SMA Amanuma. Besar sekali, kan!? Selain itu, katanya kegiatan mereka juga aktif, dan pertunjukan planetarium saat festival budaya selalu ramai. Fasilitasnya lengkap, bahkan ada alumni yang dikenal di kalangan astronomi amatir. Pokoknya, mereka itu klub astronomi elite, bisa dibilang begitu. “Iya, seperti apa orangnya ya…” Aku mengangguk, mengingat gaya tulisannya. “Kalau dari cara penulisannya sih, kesannya seperti otaku astronomi yang ramah dan sopan…” Tulisan Nanamori-san memang terasa lembut. Tapi di balik kelembutan itu, terasa juga ketegasan dan pengetahuan yang dalam. Dia bukan cuma orang biasa──dan jujur saja, dia adalah rival kami. ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’ hanya menerima yang benar-benar serius. Kami akan bersaing untuk masuk, jadi dia juga… bisa jadi lawan kami. Menyenangkan sih, tapi entah kenapa, jantungku tetap berdebar-debar tak karuan. * “──Selamat datang di SMA Negeri Harue!” Ternyata, orangnya jauh lebih ramah daripada yang kukira. “Aku Nanamori Takuya, ketua klub astronomi yang pernah meninggalkan komentar di videomu.” Kami diterima di pintu masuk khusus tamu. Nanamori-san, yang datang menyambut bersama beberapa anggota klub, adalah siswa laki-laki yang memberi kesan seperti kakak laki-laki tipe anak IPA yang lembut. Dia siswa kelas 2. Artinya, 1 tahun di atasku, tapi sama sekali tidak memberi kesan menekan. Berkacamata hitam tebal dengan potongan rambut mash lurus. Kulitnya putih, wajahnya halus, dan ekspresinya memancarkan kesan cerdas. Dengan alis yang tampak tegas, ia menunjukkan ekspresi sedikit menyesal. “Dari Ogikubo, lumayan jauh, ya?” tanyanya dengan sopan. “Maaf sudah merepotkan kalian untuk datang jauh-jauh…” “Ah, tidak, kami juga sangat ingin berkunjung balik kok!” Aku buru-buru menggeleng dan menjawab seperti itu. “Terima kasih banyak sudah mengundang kami! Aku Sakamoto Meguri, kelas 1 dari SMA Amanuma… dan ini, Akutagawa Makoto dari kelas 3 SMP Shimendou.” “Salam kenal…” “Hm hm, jadi kalian Sakamoto-kun dan Akutagawa-san, ya,” kata Nanamori sambil melihat wajah kami satu per satu lalu mengangguk senang. “Kalau begitu, langsung saja, aku akan mengantar kalian. Ayo!” “Y-ya!” “Mohon kerja samanya!” Dan begitu, kami mulai berjalan mengikuti Nanamori-san. “──Wah, senang sekali ya, bisa bertukar pengalaman dengan klub astronomi sekolah lain.” Saat menaiki tangga menuju ruang klub, Nanamori-san menoleh ke arah kami. “Jarang sekali kami punya kesempatan seperti ini, jadi aku dari dulu ingin sekali mengobrol dengan anak-anak dari sekolah lain…” “Ah, iya juga, ya.” Aku mengangguk-angguk mendengar itu. “Soalnya kan tidak ada turnamen rutin atau semacamnya. Jadi sulit buat bisa interaksi dengan klub dari sekolah lain, ya.” “Makanya, saat menemukan videomu itu aku senang sekali! Editannya sangat bagus, dan ternyata kita juga punya tujuan yang sama.” “Terima kasih banyak!” Lalu Nanamori-san menoleh ke arah Makoto. “Yang mengedit video itu, Akutagawa-san, ya?” “Ah, iya. Walau masih belajar sih…” “Nanti ajari aku ya, soalnya channel kami belum begitu aktif…” Sambil bercakap-cakap begitu, kami pun sampai di tempat tujuan. Kami berhenti di depan sebuah kelas di lantai empat, gedung utara tempat ruang-ruang klub berada. “Kalau begitu, selamat datang di klub astronomi kami.” Katanya begitu sambil mempersilakan kami masuk ke ruangan. “W-wow…” “Luar biasa…” Kami berdua tak bisa menahan kekaguman yang tumpah begitu saja. ──Ruangannya penuh semangat. Itulah kesan pertama yang paling kuat. Berbeda jauh dengan ruang klub kami yang sempit, ruang ini luas seperti ruang kelas biasa, dan dipenuhi banyak siswa. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok, ada yang mengutak-atik komputer, ada yang merawat peralatan, dan ada pula yang sedang berdiskusi serius. Di dinding tergantung banyak dokumen dan catatan, dan papan tulis penuh dengan jadwal kegiatan. Di atas meja dekat kami, beberapa foto benda langit tersusun rapi—sepertinya hasil jepretan para anggota klub. “…Beda sekali, ya.” Tanpa sadar, aku berbisik begitu. Berbeda jauh dengan kami yang cuma kumpul-kumpul di ruangan sempit sambil malas-malasan. Suasana, pemandangan, segalanya terasa sangat berbeda. Dengan semangat dan ketegangan yang terasa jelas, mereka tampak benar-benar seperti ‘klub budaya unggulan’. “Klub kami dibagi dalam beberapa tim,” jelas Nanamori-san sambil berjalan di antara para anggota. “Ada tim planet, tim bintang variabel, tim matahari… semuanya dibagi sesuai minat riset masing-masing. Tapi ya tidak seketat itu, kok. Ada juga yang pindah-pindah atau gabung beberapa tim.” Sambil menyimak penjelasan itu, beberapa anggota yang menyadari kehadiran kami menyapa dengan “Selamat datang!” sambil tersenyum. Suasana yang penuh sambutan itu entah kenapa membuatku duduk tegak tanpa sadar. “Peralatannya seperti ini.” “Wah, hebat…” Kami dipersilakan masuk ke ruang penyimpanan peralatan, dan diperlihatkan satu per satu isinya. Teleskop refraktor dan reflektor kualitas tinggi. Equatorial mount dengan pelacakan otomatis. Sleeping bag, matras, teropong. Laptop, software, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk pengamatan bintang—semuanya lengkap. “Wahh… ini hebat…” Aku tak bisa menahan suara kagum dan agak miris. “Klub kami itu alatnya masih sangat kurang. Ini dibeli dari dana klub, ya?” “Ah, ada juga yang dari itu sih… kami punya banyak alumni yang sangat peduli.” Nanamori-san mengambil majalah klub lama dari rak, sekitar 10 tahun lalu, dan berkata, “Dari klub kami, kadang ada yang jadi peneliti astronomi atau pengamat amatir terkenal. Orang-orang itu sering memberi donasi rutin ke klub. Bahkan biaya perawatan kubah observatorium di atap juga mereka yang tanggung…” “Eh!? Alumni!?” “Hebat, ya…” “Benar-benar tidak cukup kata-kata untuk mengungkapkan rasa terima kasih ini.” Ucapnya penuh rasa syukur, sambil bersikap bercanda sedikit dan menangkupkan tangan ke arah buku-buku lama di rak. Gerakan konyol dari orang yang serius ini malah membuatku dan Makoto tersenyum kecil. “SMA Amanuma, klub astronominya baru dibentuk, ya?” “Ah iya, lebih tepatnya kami membentuk ulang sih…” Aku pun menjelaskan situasi kami pada Nanamori-san. Saat aku masuk sekolah, aku satu-satunya anggota. Dengan susah payah mencari teman dan membangun kembali klub sebagai sebuah kelompok resmi. Sejak itu, kami mulai aktif melakukan pengamatan dan kegiatan, lalu tahu tentang ‘Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang’ dan ingin ikut bergabung. “……Aku paham. Keren sekali, ya.” Dengan suara bersemangat, Nanamori-san mengangguk dalam-dalam. “Bertemu orang-orang yang punya semangat seperti itu, aku benar-benar senang sekali.” “Begitu juga kami.” “Ngomong-ngomong… sepertinya matahari sudah tenggelam, ya.” Aku baru sadar saat dia mengatakannya—langit di luar jendela sudah benar-benar gelap. Waktu sudah lewat pukul 16:30. Karena sekarang sudah masuk Desember, memang segelap ini di jam segini. “Kalau begitu… ayo kita pergi.” Nanamori-san berkata begitu dengan senyum penuh makna. “Pergi? ke mana?” tanyaku. “Tentu saja──” Dia menunjuk ke langit-langit, dan menjawab dengan suara yang terdengar penuh kebanggaan: “──Ke kubah observatorium, untuk melihat bintang bersama-sama.” * Kami akhirnya sampai di atap SMA Negeri Harue. Di sana berdiri kubah observatorium, dan aku serta Makoto sama-sama tak bisa menyembunyikan rasa gembira. Kubah itu berdiameter sekitar 3 m. Sebuah ruang yang dibangun semata-mata untuk mengamati bintang. Aku dan Makoto bergiliran mengintip ke dalam teleskop. Lingkungan seperti ini tidak ada di sekolah kami. Begitu pula dengan peralatannya. Gambaran permukaan planet yang tak terlihat biasanya, galaksi dan nebula yang jauh── Sungguh, aku bersyukur kami bisa datang ke SMA Harue. Senang bisa mengenal Nanamori-san… Karena aku benar-benar merasakan hal itu dari lubuk hati, aku pun bertanya padanya: “…Kenapa, kalian memperlakukan kami sebaik ini?” Makoto sedang asyik mengintip teleskop, tak terganggu dunia sekitarnya. Sementara itu, Nanamori-san menatapnya dari belakang dengan senyum lembut. Aku bertanya padanya. “Ada klub astronomi lain juga kan, yang mengunggah video? Bahkan ada yang lebih besar dari kami.” Faktanya, aku juga sering melihat video-video dari klub lain. Ada beberapa klub yang jelas-jelas lebih aktif daripada kami di SMA Amanuma. “Jadi kenapa, dari semua itu, kalian justru mengundang kami?” Dari yang kudengar, mereka belum pernah mengundang sekolah lain untuk kerja sama. Lalu kenapa memilih kami…? “Hmm… begitu ya.” Nanamori-san tampak berpikir sejenak. “Kalau harus jujur… pertama yang menarik perhatianku adalah kualitas videonya. Video buatan anak SMA biasanya sederhana. Tapi video kalian dibuat dengan sangat baik, itu menarik sekali, dan jadi pintu awalnya.” “Ah… ya, memang.” Tentu saja. Kalau ada daya tarik utama dari video kami, itu pasti soal kualitas editing. Bahkan di antara sekolah unggulan sekalipun, aku belum pernah lihat yang sekeren video kami. Aku mengerti alasannya. “Tapi,” lanjut Nanamori-san, “Dari situ, aku menonton semua video kalian, dari awal sampai akhir. Video pertama, laporan kegiatan pengamatan harian, bahkan obrolan-obrolan ringan di antaranya, semuanya.” “Wah, sungguh? Terima kasih banyak…!” “Dan Sakamoto-kun, kau pernah bilang, kan?” Sambil menatap langit, dia berkata: “Kau pernah bilang, waktu kecil kau sangat terkesan melihat langit berbintang. Bahwa kejutan itu masih tertanam dalam dirimu… dan karena itu kau ingin memberi nama pada bintang.” ──Langit malam yang kulihat sewaktu kecil. Ya, aku memang pernah mengatakan hal itu di salah satu video. Sebenarnya, bukan karena ada alasan kuat. Hanya karena ingin mengisi durasi video, begitu kesannya saat itu. Tapi, “Aku juga… punya pengalaman yang sama.” Nanamori-san mengalihkan pandangannya padaku. Dengan suara tenang, seolah berbicara pada sahabat lama, ia melanjutkan: “Waktu itu, di malam hari saat perkemahan sekolah. Aku menatap langit berbintang dan merasa begitu takjub. Saat itu aku berpikir: ‘Aku ingin jadi orang yang paling memahami bintang ini di dunia.’” Saat mendengarnya──pemandangan langsung muncul dalam benakku. Nanamori-san kecil, saat masih SD. Menatap langit malam di pegunungan. Mata kecil yang bersinar dalam kegelapan. “Itulah sebabnya… aku tahu ini mungkin terdengar agak akrab atau lancang…” Dia menggaruk pipi dengan malu, “…Tapi aku merasa, aku telah menemukan… seorang teman.” Dengan suara pelan, ia melanjutkan tanpa menatapku secara langsung: “Di dunia yang luas ini, aku merasa seperti telah menemukan teman yang istimewa…” “Begitu ya…” Kata-kata itu──membuat dadaku berdegup aneh. Jantungku rasanya tidak pada tempatnya. Aku senyum-senyum sendiri karena senang, tapi juga malu karena tak bisa menatap wajah Nanamori-san. “Aku senang mendengarnya… sungguh…” “Tidak, aku juga… maaf ya, jadi cerita yang aneh…” “Eh, tidak! Itu bukan cerita yang aneh kok, sama sekali tidak…” “O-oh, begitu ya…” Sementara kami masih saling berbicara canggung seperti itu── “…Hm?” Makoto menoleh ke belakang dengan ekspresi heran. “Ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bertingkah aneh?” “Ti-tidak, tidak ada apa-apa!” “Be-benar, Akutagawa-san…” “Hmm…” Makoto masih menatap kami dengan mata menyipit curiga. Lalu, pandangannya mengarah padaku, dan ia bertanya: “…Jangan-jangan, selingkuh? Kamu sudah punya Nito-senpai tapi kamu malah… selingkuh, ya?” “M-mana mungkin!!” Suara teriakku menggema di langit SMA Harue. “Ini bukan… bukan hal yang seperti itu, kok!” Dan di sebelahku── Nanamori-san masih memalingkan wajah sambil memainkan jari-jarinya, terlihat semakin malu. * “──Kurasa, nanti akan jadi duel antara kita.” Di depan stasiun, tempat kami diantar sampai pulang. Nanamori-san menatap lurus pada kami dan berkata: “Katanya sih, ada sekolah lain yang juga ikut mendaftar. Tapi sepertinya mereka bukan klub yang terlalu aktif. Jadi kemungkinan besar, seleksinya nanti tinggal antara SMA Harue dan SMA Amanuma saja.” “Wah, begitu ya…” Lampu-lampu di sekitar Stasiun Ichinoe memberi kesan agak dingin dan tak bernyawa. Tapi di bawah cahaya itu, wajah Nanamori-san tampak penuh semangat. “Jadi lawan kita nanti kalian, ya… wah, musuh berat, nih…” Aku mengusap kepalaku sambil tertawa kecil. Tapi, aku sama sekali tidak merasa buruk. Memiliki lawan yang kuat. Seseorang yang cukup menyenangkan hingga bisa dianggap teman. Kalau di manga atau anime, ini pasti digambarkan sebagai dilema. Tapi bagiku, jujur saja, ini justru membuatku bersemangat. Aku akan menghadapi orang ini… di saat yang sangat penting dalam hidupku. Dan yang berdiri tepat di hadapanku saat itu, adalah dia. Kurasa Nanamori-san juga merasakan hal yang sama. “Menyenangkan, ya…” Katanya dengan suara pelan, seolah tak sabar menanti. “Aku senang kalau lawannya kalian.” “Aku juga, merasa begitu.” “Ujian tinggal sebulan lagi. Semoga kita bisa saling mendorong dan berkembang sampai hari itu tiba.” Lalu Nanamori-san mengulurkan tangannya padaku. “Salam kenal dan semangat ya!” Aku menggenggam tangannya erat, lalu membalas senyum itu. “Ya, aku juga! Semangat!” **【Introduction 8.2】** POV: Nito Chika “──Nee… belakangan ini, kamu tidak menggunakan teleskop lagi?” 3 tahun masa SMA yang kuhabiskan di dekat Meguri, akhirnya pun dimulai. Di ruang klub astronomi, beberapa minggu sebelum festival budaya. Hari itu, aku kembali ke sini setelah sekian lama, dan dengan hati-hati bertanya padanya. “Meguri, dulu kamu bilang ingin jadi astronom, kan? Apa kamu sudah tidak pernah lihat bintang lagi… sekarang?” “…Ah, yah, begitulah.” Meguri menjawab dengan suara serak, matanya masih tertuju ke konsol game di tangannya. Tanpa sekalipun melihat ke arahku, ia berkata pelan. “Hal-hal seperti itu… kurasa sudah cukup.” “Kamu sudah tidak tertarik lagi?” Aku kembali bertanya, karena ia menjawab dengan nada ragu. “Apa astronomi… sudah tidak seru lagi?” Setelah terdiam sejenak, ia pun bergumam lirih: “…Bukan, bukan karena itu sih.” ──Ada yang aneh. Meguri di garis waktu ini, ada yang berbeda darinya. Di garis waktu saat aku tidak menjadi temannya, dia seharusnya ikut serta dalam acara pencarian asteroid di akhir tahun, dan berhasil menemukan sebuah bintang baru. Karena berharap akan sosok Meguri yang seperti itu, aku pun mencoba mendekatinya. Aku mencarinya sebelum upacara penerimaan siswa baru, lalu menunggunya di ruang klub astronomi. Dengan pura-pura kebetulan, aku menjalin hubungan dengannya, dan akhirnya menjadi orang yang selalu menghabiskan waktu bersamanya di ruang klub. ──Kupikir, aku bisa menyaksikan Meguri yang sedang aktif. Mengamati bintang, mempelajari rasi-rasi, dan melihatnya dari dekat saat ia benar-benar hidup dalam dunia itu. Memang, saat musim semi tiba, ia sempat menunjukkan sisi seperti itu. Bahkan, suatu hari, ia menyatakan perasaannya padaku. Aku yang sudah lama jatuh cinta padanya pun menerimanya, dan kami resmi menjadi sepasang kekasih. Jujur, aku tak pernah membayangkan jarak kami bisa sedekat ini, bahkan sejak awal melakukan pengulangan waktu. Aku menjalani hari-hari dengan rasa bahagia yang membuatku ingin melompat kegirangan setiap saat. Namun… setelah beberapa waktu berlalu, Meguri perlahan kehilangan semangatnya pada bintang. Frekuensi observasinya berkurang. Ia tak lagi membicarakan bintang. Dan pada akhirnya──nilai akademisnya pun mulai merosot drastis. …Aku rasa, aku tahu apa penyebabnya. “…Apa ini… salahku?” Dengan hati-hati, aku bertanya padanya. “Karenaku… Meguri jadi tertekan?” Perubahan sikap Meguri. Hilangnya semangatnya──terasa seolah berjalan seiring dengan aktivitasku. Setiap kali aku merilis MV baru, setiap kali jumlah penontonnya meningkat drastis, setiap kali ada tawaran dari label atau agensi, kilau di matanya perlahan menghilang. Dalam pengulangan yang telah kujalani berkali-kali selama 3 tahun ini. Aku telah melihat pemandangan itu… entah sudah berapa kali. Mone, atau Rokuyou-senpai. Tak hanya mereka──aku telah menyakiti begitu banyak orang. Apa… semuanya akan terulang lagi? Apa hanya dengan menjadi diriku sendiri, aku justru membuat orang lain terluka? “…Bukan, bukan karena itu.” Suara itu menyadarkanku. Saat kulihat, akhirnya ia mengangkat wajah dan menatap ke arahku. “Aku… cuma begini karena aku sendiri yang memilihnya.” Dengan nada datar dan kaku──ucapan yang tidak biasa darinya. Tapi seolah baru menyadari hal itu, Meguri buru-buru menutupi mulutnya dengan tangan. “…Y-ya, maksudku! Aku ini kan sangat pemalas, haha…” Sambil tertawa canggung, ia berdiri dari kursinya. Dengan ekspresi sedikit cemas, ia mendekat ke teleskop. “Yah, memang sih. Sepertinya sudah waktunya mulai lagi… observasi bintang!” “…Iya.” “Sudah lama juga tidak melakukan itu…” “Benar juga…” ──Pasti, akan baik-baik saja. Sambil menatapnya seperti itu, aku meyakinkan diriku sendiri. Meguri itu orang yang hebat. Dia menemukan asteroid saat masih SMA, dan nanti akan melanjutkan studi astronomi di universitas. Aku yakin, dia bisa benar-benar menjadi seorang ilmuwan. Tidak mungkin… semua itu akan gagal hanya karena aku… “…Semangat, ya.” Karena itu, aku pun berkata padanya: “Aku tidak bisa ikut observasinya karena harus kerja… tapi, semoga kamu menikmati waktu lihat bintangnya, ya.” **Previous Chapter** | Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 2 Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Chapter 2 - Belajar Serius SEKARANG! POV: Sakamoto Meguri “──Sejujurnya, kupikir kita tidak punya pilihan se...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 1 **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena **Chapter 1 - Orang Yang Melihat Bintang** POV: Sakamoto Meguri “──Hee~ Tour keliling, ya……” 『Iya, begitulah』 Seperti biasa, di ruang klub setelah jam pelajaran berakhir. Di layar smartphone yang kuletakkan di atas meja, Nito sedang tersenyum. 『Rencananya akan keliling seluruh Jepang dari awal tahun. Jadi sedang sibuk sekali, persiapan dan latihan terus~』 Mata bulat penuh rasa ingin tahu, pipi halus dan lembut. Alis yang sedikit mengerut seolah bingung, dan bibir tipis. Rambut semi-long yang dulu jadi ciri khasnya, kini sudah dipotong pendek seminggu yang lalu. Tapi tetap saja terasa segar dan baru, dan cara potongan itu begitu cocok dengannya sampai membuat jantungku berdebar. “Y-ya, jangan terlalu dipaksakan, ya……” Sedikit grogi, aku menyambung kata-kataku. “Nanti kalau sampai sakit kan gawat… belakangan ini juga dinginnya makin parah……” 『Iya, aku bakal hati-hati!』 ──Beberapa waktu telah berlalu sejak festival budaya yang penuh gejolak. Kami pun kembali ke kehidupan sehari-hari seperti biasa. Pagi pergi ke sekolah, ikut pelajaran sampai sore, lalu pulang setelah aktivitas klub astronomi. Tapi──ada banyak hal yang telah berubah. Rokuyou-senpai dan Nito sekarang tampaknya semakin akrab sebagai rival yang baik. Hubungan antara Igarashi-san dan Nito pun terlihat jauh lebih stabil dibanding sebelumnya. Nito sendiri, sejak festival budaya, rasanya telah mengalami perubahan besar. Rambut pendek dan ekspresi yang lebih cerah. Aura murung dan berat yang dulu samar-samar terasa darinya kini telah memudar, dan keseluruhan dirinya memancarkan semangat positif. Dan──aku. Perubahan terbesar mungkin terjadi pada diriku. Festival budaya itu jadi titik balik yang membuatku sadar akan hal yang seharusnya kulakukan. Berkat itu, aku merasa makna dari hari-hariku kini sangat berbeda. 『Oh ya, jadi mungkin aku tidak bisa ke ruang klub untuk sementara~』 Nito melanjutkan dari seberang layar. 『Sampai tour selesai, aku bakal agak sibuk sekali……』 “Eeh~ itu jadi membosankan~” Igarashi-san, yang sedang melihat layar bersamaku, ikut berkomentar. “Kalau cuma ada dua laki-laki dan aku saja, aku tidak bisa ngobrolin hal-hal sesama perempuan.” 『Iyaa~! Aku juga sedih sekali!』 Nito mengibas-ibaskan tangan dengan ekspresi manja dari layar. 『Kadar Mone-ku menipis! Harus segera diisi ulang!』 “Ahaha, kamu memang sangat menyukaiku ya.” 『Aku memang suka! Aku ingin ketemu kamu tiap hari!』 Nito berteriak seperti anak kecil, sementara Igarashi-san tersenyum geli, tampak tidak keberatan. Mereka memang akrab, itu bagus sih… Tapi rasanya agak… rumit juga melihat mereka mesra lewat ponselku. Soalnya, aku ini… ya, pacarnya Nito, tahu……? “Jadi sekarang kau sedang di studio, ya?” Rokuyou-senpai yang sedari tadi mengamati ikut bertanya sambil melihat ke layar dengan penuh minat. “Waktu festival budaya kemarin kau tampil sendiri. Tapi sekarang kau pakai band pengiring, ya?” 『Betul sekali!』 Nito mengangguk dan menggeser badannya sedikit untuk menunjukkan latar belakang. Ruangan besar dengan alat musik dan peralatan studio. Ada juga para musisi studio yang akan tampil bersamanya. Dan di kejauhan, sepertinya itu Minase-san, sang manajer. 『Aku dan staf sedang mengobrol, ini bakal jadi puncak dari semua penampilan sebelumnya』 Dengan dada dibusungkan dan semangat membara, Nito berkata, 『Sedang mempersiapkan semuanya agar jadi konser terbaik! Konser terakhirnya bakal diadakan di Tokyo, jadi kalian harus datang, ya!』 “Pastilah, aku pasti datang.” “Aku juga tidak sabar~” Rokuyou-senpai dan Igarashi-san mengangguk. Lalu, pandangan Nito beralih padaku. 『Kalau Meguri……』 Dia memanggil namaku dengan suara senang, 『Hari ini kamu juga masih lanjut persiapan buat cari bintang, ya?』 “Iya, benar.” Aku tersenyum dan mengangguk padanya. “Masih tahap awal sekali, sih. Tapi ya… bakal aku usahakan.” ──Mencari bintang. Mencari asteroid baru yang belum pernah ditemukan siapa pun. Sejak hari festival budaya, aku menjadikan itu sebagai tujuanku. Secara spesifik, aku mulai belajar metode observasi dengan bantuan Igarashi-san dan Rokuyou-senpai. Membaca buku-buku tentang astronom amatir, belajar dasar-dasar tentang asal-usul dan sifat asteroid. Aku bahkan tak melupakan hal-hal mendasar seperti teori pembentukannya. …Rasanya seperti kehidupan SMA-ku yang dulu itu cuma mimpi belaka. Tak kusangka aku bisa menjalani hari-hari seaktif ini. 『Begitu ya… semangat ya!』 Dengan senyum bahagia, Nito mengangguk. 『Kita sama-sama semangat, ya……』 “Yup.” Tepat saat itu, terdengar suara dari arah Nito. Dia menoleh—sepertinya ada yang memanggilnya. 『──Maaf, sepertinya sebentar lagi aku mulai, nih!』 Dia kembali menghadap layar dan berkata, 『Nanti aku hubungi lagi, ya! Kalau bisa, aku juga bakal mampir ke ruang klub!』 “Oke, sampai ketemu!” “Sampai nanti~” “Dadah!” Kami saling berpamitan, dan panggilan pun terputus. Keheningan kembali menyelimuti ruang klub, dan kami bertiga menarik napas lega bersama. Setelah jeda sesaat, “……Yosh, kalau begitu, mari kita mulai lagi.” Aku meluruskan punggung dan berkata pada Rokuyou-senpai dan Igarashi-san. “Kalau kalian bisa bantu lagi hari ini, aku akan sangat terbantu.” “Tentu, serahkan saja pada kami!” “Oke, ayo mulai!” Kami saling mengangguk, lalu masing-masing membuka smartphone, laptop, dan majalah astronomi── dan memulai kembali pembelajaran kami tentang cara menemukan “asteroid baru”. * ──Menemukan sebuah asteroid baru. ──Memberi nama sendiri pada bintang itu. Melalui festival budaya, dan setelah membaca surat dari Nito yang berasal dari masa depan, aku akhirnya memahami apa yang harus kulakukan di garis waktu ini. Dalam surat yang ditunjukkan kepadaku di kantor polisi, Nito menuliskan hal-hal seperti ini: 『──Sebetulnya, Meguri itu orang yang hebat.』 『──Sebelum bertemu denganku, dia memang begitu.』 『──Dia sudah menunjukkan hasil dalam bidang astronomi, bahkan kuliahnya pun di jalur itu.』 『──Tapi begitu bersamaku, dia menyerah pada jalan hidupnya itu.』 『──Aku yakin, aku yang membuatnya berubah.』 『──Karena itu, selamat tinggal.』 『──Maaf ya.』 3 tahun kehidupan SMA yang diulanginya berkali-kali sendirian. Dalam semua itu, dia pasti telah melihat berbagai versi dari kejadian-kejadian yang sama. Hubunganku dengannya pun, mungkin tidak selalu seperti sekarang—sebagai sepasang kekasih. Mungkin di beberapa pengulangan, kami hanya teman sekelas yang tak terlalu akrab. Mungkin bahkan tak pernah mengobrol sama sekali. Di beberapa masa itu, aku mungkin telah mencapai sesuatu. Dan di masa ketika aku bertemu dengannya—aku justru gagal mencapainya── Aku pun teringat akan “kehidupan SMA pertamaku”. 3 tahun yang berlalu sia-sia karena kemalasan, dan berakhir tanpa pencapaian apa pun. Tapi, sejujurnya──pasti ada hal yang ingin kulakukan. Pasti ada impian yang pernah kuagumi dan ingin kuwujudkan── Begitu kupikirkan, jawabannya langsung kutemukan. ──Aku ingin memberi nama pada sebuah bintang. Itu adalah tujuan yang sama dengan yang kami nyatakan saat membuat video sebagai klub astronomi. Impian kecil yang dulu kupeluk saat masih anak-anak: menemukan sebuah bintang baru yang belum dimiliki siapa pun. Jika aku ingin mewujudkan sesuatu──maka itulah satu-satunya impian. Agar aku tetap menjadi diriku sendiri di sisi Nito, agar aku bisa bersama dengannya tanpa kehilangan arah, aku harus mewujudkan impianku sendiri── “……Haa” Menghela napas, aku menatap ke langit dalam perjalanan pulang sendirian. Saturnus menggantung di langit barat daya, dan bulan bersinar di langit timur. Mungkin bulan sudah memasuki usia hari ke-12 dalam kalender lunar. Karena cahaya kota, bintang lain nyaris tak terlihat. ──Mencari bintang. Aku sudah memutuskan untuk memulainya, tapi masalahnya banyak. Pertama-tama, aku tak tahu harus mulai dari mana. Meski kegiatan klub astronomi berjalan secara sederhana, begitu memutuskan ingin menemukan bintang baru, aku malah bingung sendiri. Apa yang harus kupelajari secara spesifik? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara untuk benar-benar mewujudkannya? Yang memberikan bantuan di saat aku bimbang itu──adalah Rokuyou-senpai dan Igarashi-san. “Sungguh, aku berhutang sekali pada mereka……” Sambil memandangi langit yang tak begitu meyakinkan, aku bergumam pelan. “Tanpa mereka, aku pasti merasa sangat kesepian……” Begitu tahu aku sedang galau ingin menemukan bintang, mereka langsung menawarkan bantuan seolah itu hal yang wajar. “──Oke, kami bantu, ya” “──Untuk awal-awal, mari kita cari tahu dulu ya” Sejak itu──kami mengumpulkan informasi lewat internet dan majalah. Kami terus mencari tahu: bagaimana caranya seorang siswa SMA bisa menemukan bintang baru. Dan hari ini, “……Observasi di Okinawa, ya” Aku bergumam saat melihat sebuah situs dari smartphone. Itu adalah laman pengumuman acara yang ditemukan oleh Igarashi-san hari ini. “Sepertinya, ini pilihan paling realistis, ya……” Observatorium Nasional Jepang di Okinawa. Salah satu sistem observasi terbaik di dunia, dan setiap tahun mereka mengadakan observasi pencarian asteroid khusus untuk siswa SMA. Kabarnya, beberapa peserta sebelumnya benar-benar menemukan asteroid baru selama acara dan mendapat kesempatan menamainya, sampai-sampai masuk berita. “Karena sudah terbukti hasilnya, mungkin ini pilihan terbaik untuk siswa SMA sepertiku……” Sebenarnya, aku sudah tahu soal acara ini sejak dulu. Beberapa kali disebut dalam majalah astronomi, bahkan pernah jadi bahan dalam anime bertema klub astronomi. Aku selalu mengaguminya. Dulu aku sempat berpikir, “Suatu hari nanti, aku juga ingin ikut!” Karena itu, rasanya sudah kuduga kalau acara ini akan masuk dalam daftar pilihanku. Hanya saja── “Tapi ini terlalu jauh, ya waktunya……” Acara itu akan diadakan pada awal bulan Agustus. Sementara sekarang, masih akhir bulan November. Jadi, itu masih sekitar 8 bulan lagi. Tentu saja, menargetkan ke sana dan mulai mempersiapkan diri bukanlah ide yang buruk. Bagi klub astronomi kecil seperti kami, masa latihan selama itu mungkin memang dibutuhkan. Tapi tetap saja── “Sekarang motivasiku sedang tinggi-tingginya, aku jadi ingin memulainya dari sekarang……” Perasaan tak sabar ini sulit untuk dikendalikan. Aku ingin cepat-cepat menemukan bintang! Ingin segera mulai bergerak! Tapi karena tujuan masih jauh di depan, jadi rasanya sedikit menyebalkan. “Yah, mau bagaimana lagi……” Aku menghela napas dalam-dalam dan menjatuhkan bahu. “Toh aku juga tidak mungkin bisa melakukannya sendirian……” Memang, aku merasa kemampuanku masih belum cukup. Untuk ikut acara di Okinawa, kita harus lulus ujian seleksi terlebih dahulu. Klub astronomi SMA Amanuma kami ini, jika dibandingkan dengan klub dari sekolah-sekolah besar, jelas kurang dari segi pengetahuan dan pengalaman observasi. Kalau dipikir-pikir, kami memang perlu memperkuat dasar-dasarnya selama masa ini…… “Untuk sekarang, mari kita mulai dari hal-hal yang sederhana, ya” Aku bergumam sendiri, lalu menyalakan kamera di smartphone. Mengarahkannya ke langit malam, memotret bulan, lalu mengirim fotonya ke Nito lewat LINE. Bersama pesan: “Jangan terlalu memaksakan diri, ya~” Setelah itu, aku kembali melangkah menuju rumahku. * “──Terima kasih atas kerja kerasnya~ Ini catatan hariannya~” “Ya, terima kasih.” Beberapa hari kemudian, saat jam istirahat siang. Di ruang guru yang ramai oleh para guru dan murid. Sebagai petugas hari ini, aku menyerahkan catatan harian, dan Chiyoda-sensei menerimanya dengan senyum. “Ah, maaf, sedang makan siang, ya?” “Ya, tapi tidak apa-apa. Jangan khawatir.” Kotak bekal di atas meja guru terlihat cukup besar. Chiyoda-sensei bertubuh mungil—lebih pendek dari Rokuyou-senpai, aku, bahkan dari Nito dan Igarashi-san. Ternyata orang ini cukup doyan makan ya… saat aku sedang berpikir begitu, “……Suamiku yang selalu memasakkannya.” Katanya sambil menunjukkan ekspresi agak malu. “Sudah dibilang berkali-kali, tapi selalu dibuat sebanyak ini. Makanya, aku jadi makin gemuk……” Eh, tapi sama sekali tidak terlihat gemuk, kok… Rambut pendek bob hitam dengan mata panjang seperti kucing. Bibir yang tampak bijaksana dan hidung yang tinggi dan teratur. Usianya mungkin sekitar 30an, tapi—dia memang cantik. Bahkan terlihat jauh lebih muda dari usia aslinya. Aku yakin dia pasti sangat populer saat masih SMA, dan waktu masih lebih muda dari sekarang, pasti sering jadi pusat perhatian para siswa laki-laki. “Sepertinya enak ya, tetap akur dengan pasangan setelah menikah.” “Iya, aku rasa aku beruntung dalam hal itu. …Tapi yah, kalau soal pasangan yang baik──” Kata Chiyoda-sensei sambil tersenyum geli, “Pasanganmu juga orang yang luar biasa, kan, Sakamoto-kun?” “…Eh!? Y-ya, begitulah.” Aku agak terkejut dengan godaan yang tidak terduga itu. “Kadang saya merasa dia terlalu baik untukku…” “Jaga baik-baik, ya~ Cinta masa SMA itu kadang bisa memengaruhi seumur hidup, lho.” “Eh, apa itu benar?” “Iya. Aku rasa begitu.” Dengan ekspresi serius yang mengejutkan, Chiyoda-sensei mengangguk. “Suamiku juga, dulu kakak kelas di klub waktu SMA.” “Sungguh!? Itu baru pertama kali saya mendengarnya!” Ternyata, ada juga kisah nyata menikah dengan senior klub! “Iya. Sampai sekarang, kadang aku masih salah sebut ‘Senpai’, lho.” “Heh~!” “Makanya, ini mungkin sedikit di luar tugas guru, sih.” Ucap Chiyoda-sensei sambil tertawa seperti anak kecil, “Tapi aku sungguh berharap, murid-muridku juga bisa mengalami cinta yang indah.” “…Begitu ya.” Chiyoda-sensei memang dikenal sebagai guru yang perhatian dan ramah di sekolah. Mungkin sikap seperti itu berasal dari cara berpikirnya yang seperti ini. Bukan cuma akademik, tapi dia juga ingin kehidupan pribadi kami ikut bahagia. Ngomong-ngomong, waktu festival budaya, dia juga sempat siaran dengan acara aneh bernama “Konsultasi Patah Hati oleh Momose”—mungkin itu juga karena pemikiran ini… “…Oh iya!” Tiba-tiba, wajah Chiyoda-sensei berubah seperti baru mengingat sesuatu. Dia membuka laptop yang sebelumnya tertutup dan mulai mengetik sesuatu. “Sakamoto-kun, kamu sedang mencari asteroid baru, kan?” “Ah, iya benar.” Selain sebagai wali kelasku, dia juga pembina klub astronomi. Setiap kali kami melakukan observasi bintang, dia selalu ikut, dan untuk urusan peralatan maupun perizinan, dia yang bertanggung jawab dan bernegosiasi dengan sekolah. Makanya dia tahu kalau aku sedang mencari asteroid, dan bahwa aku juga merasa frustrasi akhir-akhir ini. “Soal itu, suamiku memberi informasi yang bagus…” Katanya sambil menunjukkan layar laptop ke arahku. “Nah, lihat ini.” Yang terlihat di layar—adalah file PDF yang tampak sederhana. Sepertinya semacam pengumuman resmi untuk pers rilis, dengan tampilan yang sangat ringkas dan kaku. Dan di bagian atasnya tertulis: ──Pemberitahuan Penyelenggaraan “Kelompok Penelitian Astronomi Desa Langit Berbintang”, Disetujui oleh Kementerian Lingkungan Hidup. “…Hm?” Aku merasa tertarik, lalu mulai membaca isi tulisan itu. Ternyata ini adalah acara yang diselenggarakan di sebuah tempat bernama Desa Achi, Prefektur Nagano, untuk mempromosikan pariwisata dengan keindahan langit berbintang sebagai daya tariknya. Observatorium dan kantor desa akan menjadi penyelenggaranya, dan akan diadakan acara pengamatan langit malam. Targetnya adalah siswa-siswi berusia belasan tahun dari seluruh Jepang, dan hanya sejumlah kecil peserta yang akan dipilih lewat ujian seleksi. Sebagai percobaan pertama, acara ini akan digelar pada akhir tahun ini. Ke depannya, acara akan diperluas skalanya, dengan tujuan meningkatkan ketenaran desa tersebut dan menarik minat generasi muda terhadap astronomi. Dari Tokyo, direncanakan hanya dua orang siswa dari satu grup yang bisa mendaftar. Salah satu sponsor pendukung adalah penerbit tempat suami Chiyoda-sensei bekerja, dan tujuan akhir dari acara ini adalah… para siswa SMA peserta acara… menemukan asteroid baru… “──I-ini!” Setelah membaca sampai bagian itu—aku tidak bisa menahan diri dan berseru kencang. “Asteroid… akhir tahun ini!?” “Iya, benar.” Chiyoda-sensei mengangguk dengan senyum senang di wajahnya. “Kamu kelihatan seperti sudah tidak sabar menunggu sampai musim panas, ya?” “Iya, benar sekali.” “Waktu aku cerita soal itu ke suamiku, kebetulan ada temannya di divisi lain yang terlibat dalam acara ini…” “Benarkah!?” “Dan meski ini masih acara percobaan, seperti yang kamu lihat, pengumumannya juga kurang gencar. Sepertinya hampir tidak ada yang tahu soal ini.” Chiyoda-sensei menatap layar sambil tersenyum canggung. Iya juga… dari tampilan PDF ini memang terlihat minim informasi dan promosi. Pantas saja kami belum menemukan informasi soal ini meskipun sudah bolak-balik cari cara untuk ikut dalam pencarian asteroid. Mungkin karena benar-benar kurang promosi, jadinya luput dari perhatian. “Sekarang ini mereka sedang buru-buru cari peserta, katanya.” “Wah… ini benar-benar seperti kesempatan emas yang datang sendiri ya.” Ini benar-benar… terlalu kebetulan untuk jadi nyata. Pencarian asteroid, tepat di saat seperti ini. Dan mereka juga sedang mencari peserta. Pasangan suami istri Chiyoda-sensei… kalian benar-benar luar biasa. Aku tidak akan cukup berterima kasih… “Tentu saja, masih ada kemungkinan peserta lain akan mendaftar juga.” Dengan nada mengingatkan, Chiyoda-sensei menunjukkan ekspresi serius. “Dan peserta dari Tokyo hanya dibatasi satu grup, dua orang saja. Jadi, aku tidak bisa menjanjikanmu pasti terpilih.” “Ah, tentu saja tidak masalah!” Aku menjawab tegas sambil mengangguk mantap. “Saya ingin ikut ujiannya!” “Baiklah, aku mengerti.” Chiyoda-sensei berkata dengan senyum senang, lalu kembali menghadap ke laptop. “Kalau begitu, biar aku yang mengurus pendaftarannya, ya. Soal anggota yang ikut… bagaimana?” “Ah, satu grup dua orang saja, ya?” “Iya.” Kalau begitu… ini agak jadi dilema. Kalau bisa tiga orang atau lebih, aku pasti akan langsung mengajak Rokuyou-senpai dan Igarashi-san. Tapi kalau cuma dua orang… siapa yang harus kuajak? Aku tidak mau sampai kelihatan seperti sedang memilih-milih. Kalau begitu, lebih baik ikut sendiri saja… …Sebenarnya, akan sangat menyenangkan kalau bisa ikut bersama Nito. Pasti seru bisa mencari bintang bersamanya. Tapi dia sedang super sibuk dengan latihan. Bahkan kegiatan klub saja dia jarang datang, jadi ikut ujian seperti ini pasti lebih tidak memungkinkan lagi. “Untuk sekarang, aku akan coba diskusikan dulu.” Karena belum menemukan jawabannya, aku akhirnya mengambil keputusan seperti itu. “Batas pendaftarannya masih ada, kan?” “Iya, masih ada waktu beberapa hari lagi.” “Kalau begitu, saya akan segera memberi jawaban secepatnya.” “Baik, aku tunggu.” Setelah menyelesaikan pembicaraan itu, aku menerima print-out dari file PDF dan meninggalkan ruang guru. Fuhh… ini benar-benar di luar dugaan. Sama sekali tak menyangka hal seperti ini akan terjadi… tapi tidak diragukan lagi, ini adalah kesempatan besar. Aku kembali melihat lembaran print-out tersebut, dan di situ juga tertulis rincian ujian yang akan dilaksanakan. Hari ini juga, aku harus segera berdiskusi dengan yang lainnya, lalu langsung mulai belajar. Kesempatan emas yang Chiyoda-sensei temukan ini, harus bisa kuambil dengan baik. Dengan tekad baru dalam hati, aku melangkah cepat menuju kelas yang ramai saat jam makan siang. * Dan──malam itu. “Pada akhirnya… sendirian juga, ya…” Di kamar, menghadap meja belajar. Aku meratapi nasibku seorang diri. “Tidak kusangka… baik Rokuyou-senpai maupun Igarashi-san menolak…” Iya… mereka menolak. Sepulang sekolah, aku langsung bicara pada mereka berdua soal tawaran dari Chiyoda-sensei. Kuharap salah satu dari mereka bisa ikut… tapi mereka menolaknya begitu saja. “──Eh, ujian di akhir tahun!?” “──Observasi di Nagano!?” Mereka terbelalak, lalu menunjukkan ekspresi canggung. “Aku ada ujian akhir semester. Jadi, mungkin akan sedikit sulit buat ikut…” “Aku juga, di hari itu harus pulang ke kampung halaman Ayah…” …Yah, kalau dipikir-pikir dengan tenang, memang masuk akal. Acara itu diadakan dari tanggal 26 sampai 30 Desember—5 hari 4 malam. Ujiannya dijadwalkan sedikit sebelum itu. Itu pas sekali bersamaan dengan ujian akhir semester dan jadwal pulang kampung. Wajar kalau mereka kesulitan ikut. “…Ah, iya! Benar juga, ya!” Aku tertawa dengan semangat palsu, lalu menjawab mereka. “Baiklah, kalau begitu, aku coba ikut sendirian saja!” “Maaf ya…” “Maaf tidak bisa menemanimu…” “Tidak, tidak, tidak apa-apa kok!” Dengan semangat aku berkata begitu, lalu kami kembali ke kegiatan seperti biasa. Jujur, aku memang sudah mengira hasilnya bisa seperti ini. Tapi begitu sampai rumah dan duduk di depan meja… “…Ugh…” Aku merasa sedih. Setelah pulang ke rumah, aku benar-benar kecewa berat. Kupikir setidaknya salah satu dari mereka akan ikut… Jujur saja, Rokuyou-senpai dan Igarashi-san itu seperti sahabat karib bagiku. Kupikir kalau aku yang minta, mereka pasti akan mengusahakan untuk datang walau sedikit memaksakan… Sakit rasanya… Aku jadi teringat kehidupan SMA pertamaku dan… sakit rasanya… Dulu pun, aku memang selalu berada di pihak yang ditolak begini… “…Tapi ya, tetap harus kulakukan.” Kusapu jauh-jauh pikiran negatif yang tak ada ujungnya, dan kembali menatap meja. “Aku harus belajar untuk ujiannya…” Iya. Itu yang harus kulakukan. Kalau sampai ikut sendiri lalu gagal di ujian, itu benar-benar memalukan. Untungnya, di lembar informasi acara yang diberikan Chiyoda-sensei, tertera dengan jelas tingkat kesulitan ujiannya. Katanya, soalnya kira-kira setingkat dengan Sertifikasi Astronomi dan Antariksa Level 2. Secara garis besar, yang diujikan adalah pengetahuan setara pelajaran geosains SMA, informasi terbaru seputar astronomi, kalender dan penanggalan, serta sejarah astronomi. “…Oke!” Dengan semangat baru, aku menggenggam pulpen. Aku mulai membaca buku teks Astronomi dan Antariksa Level 2 yang baru kubeli dari toko buku. Aku merangkum isi materinya satu per satu ke dalam buku catatan, lalu mengecek ingatan dengan stabilo dan lembar penutup berwarna. Sambil melakukan semua itu… “…Fufufu…” Tanpa sadar, aku mulai tertawa kecil. “Bisa, aku pasti bisa menang…!” Soal-soalnya setara geosains SMA. Artinya, ini semua adalah materi yang sudah kupelajari saat kehidupan SMA pertamaku, dan bahkan sekarang, aku sedang mengulangnya untuk kedua kali. Tentu saja, saat pertama kali menjalani kehidupan SMA, aku tidak serius. Belajarnya jarang, nilainya pun hancur-hancuran. Tapi… geosains! Cuma geosains! Itu satu-satunya pelajaran yang cukup kutekuni! “Gerak semu planet… fufufu, ini bisa kuvisualisasikan dengan mudah di kepala…” Selain itu, aku juga sudah menonton banyak video dari YouTuber yang membahas trivia (fakta-fakta unik) tentang luar angkasa dan astronomi, jadi pengetahuanku di luar materi sekolah juga cukup luas. Pengetahuan tambahannya pun cukup lengkap. Sepertinya… aku bisa menang. Dengan pengalaman sebagai siswa SMA untuk kedua kalinya, ini pasti bukan masalah. Ujian ini, akan kujalani dengan penuh percaya diri! “Yah, meski ada wawancaranya juga sih.” Aku melirik kembali lembar informasi acara dan bergumam. “Kalau wawancara pun dipersiapkan dengan baik, seharusnya bisa lolos…” Mungkin nanti akan ditanya tentang alasan ingin menemukan asteroid, atau riwayat kegiatan sejauh ini. Motivasi? Jelas aku punya. Riwayat kegiatan pun terdokumentasi dengan baik dalam bentuk video. Kalau aku tambah aktif lagi dalam kegiatan observasi ke depannya, sisi ini juga pasti aman. “──Permisi…” Tiba-tiba, suara itu terdengar bersama dengan ketukan di pintu. Suara agak serak dari luar kamar, dari arah lorong. “Senpai, kamu ada di dalam?” “Ohh, ada. Ada apa?” Aku berdiri dan membuka pintu. “…Ah, sedang belajar, ya?” Seperti yang kuduga, itu adalah Makoto. Partnerku di kehidupan SMA pertamaku. Dan di kehidupan kedua ini, dia adalah teman dari adikku Mizuki, seorang siswi SMP. Sepertinya dia datang ke rumah hari ini untuk bermain game bersama Mizuki. Dari balik poni hitam yang mengilap, mata panjangnya memandangku dengan sedikit ragu. “Tidak apa-apa kok.” Aku tersenyum padanya dan menjawab. “Aku bukan sedang belajar pelajaran sekolah, tapi hal yang berhubungan dengan klub.” “Hee~… Astronomi, ya.” Sambil berkata begitu, Makoto masuk ke kamarku dengan sangat alami. Lalu, sambil memandangi buku teks di atas meja… “…Apa ini ada hubungannya dengan perjalanan waktu?” Dia bertanya begitu. “Ini juga… demi menolong Nito-senpai, ya?” “Yah, bisa dibilang begitu.” Setelah berpikir sebentar, aku mengangguk padanya. “Tapi sebenarnya, ini juga sesuatu yang memang ingin kulakukan sendiri. Jadi ya, untuk diriku sendiri juga.” “Hee~…” ──Perjalanan waktu. Di garis waktu ini, satu-satunya orang yang kuberitahu soal itu adalah Makoto. Kenapa aku kembali ke masa lalu, dan apa yang sedang coba kulakukan. Jika aku gagal, seperti apa masa depan yang akan dialami Nito—semuanya sudah aku ceritakan padanya. Selain Nito, yang juga sedang menjalani pengulangan masa SMA, Makoto adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran itu. Karena itu, sama seperti dulu di kehidupan SMA pertamaku, posisinya dalam hidupku perlahan kembali menjadi “partner”. Padahal dia hanya gadis SMP yang lebih muda dariku, tapi aku mulai merasa bisa mengandalkannya. “Aku ingin… menemukan asteroid.” Mengikuti alur pembicaraan, aku pun menjelaskan isi pembelajaranku saat ini. “Kalau mau memberi nama, bukan komet, tapi harus asteroid. Dan, ada acara di Nagano untuk mencari itu, jadi──” Kata-kata yang kulontarkan dengan nada lesu itu, didengarkan oleh Makoto dengan wajah datar. Entah dia tertarik atau tidak, sulit ditebak. Ia tampak agak bosan, tapi biasanya kalau memang tidak tertarik, Makoto akan langsung menghentikan pembicaraan dan pergi begitu saja. Jadi bisa jadi, meski sulit dibaca, sebenarnya dia lumayan memperhatikan. “Lalu, aku coba mengajak anggota klub, tapi dua-duanya menolak…” Tanpa sadar, aku mulai mengeluh. “Baik Rokuyou-senpai maupun Igarashi-san menolaknya… tidak, sakit sekali… Rasanya seperti diingatkan lagi kalau aku ini benar-benar sendirian… ugh…” Sambil berkata begitu, aku duduk di kursi dan menjatuhkan tubuh bagian atas ke meja. Saat itu, tanpa kusadari, Makoto yang sudah duduk di atas tempat tidur mengangguk sambil memasang ekspresi berpikir. “Hmm, begitu, ya.” “Yah, mau bagaimana lagi, akhirnya aku putuskan buat ikut sendirian. Ini, lihat, ini brosurnya… ‘Satu grup maksimal dua orang saja’, katanya. Jadi sendirian pun seharusnya tidak masalah.” “Hee~” Makoto menerima kertas itu, menatapnya sebentar, lalu bergumam pelan. “Diadakan di Nagano… untuk pelajar usia belasan tahun… jadi begitu…” “Tapi yang jelas, beruntung sekali ya. Bisa-bisanya ada acara seperti ini waktunya sangat pas──” “──Senpai.” Tiba-tiba, Makoto mengangkat wajah dan menatap lurus padaku. Matanya serius, menatap tajam ke arahku. Lalu── “──Aku juga ingin ikut.” Dengan suara jelas dan mantap, dia berkata begitu. “Aku juga… ingin ikut ujian itu bersamamu.” “Ah, Makoto mau ikut ujian juga… eh—EEEEEEHHH!?” Aku berteriak. Suara kagetku lepas tanpa bisa kutahan karena perkembangan yang sangat tidak terduga. Mizuki, yang mungkin penasaran karena mendengar suara itu, membuka pintu dan berkata, “Ada apa, sebenarnya?” Tapi Makoto langsung menjawab, “Bukan apa-apa,” dan Mizuki pun pergi sambil berkata, “Begitu ya~” Untung adikku tipe yang cepat paham. “Eh, jadi… Makoto mau ikut juga…?” Begitu Mizuki pergi, aku kembali bertanya untuk memastikan. “Ya, memangnya tidak boleh?” Makoto menjawab sambil memiringkan kepala, seolah itu hal yang lumrah. “Bukan tidak boleh sih, tapi ini kan acara untuk anak SMA…” “Tapi di sini, tertulis kan…” Makoto menunjuk bagian tertentu di lembaran brosur. “Yang disebutkan hanya ‘pelajar usia belasan tahun’. Kalau penulisannya seperti ini, bukankah artinya mahasiswa atau siswa SMP pun bisa ikut? Mungkin anak SD masih terlalu sulit, tapi tidak ada salahnya bertanya ke panitianya, kan?” “Yah, itu… mungkin bisa sih, tapi…” Dan memang benar. Kalau memang hanya untuk anak SMA, pasti akan tertulis secara jelas. Fakta bahwa itu tidak tertulis berarti mereka memang membuka kesempatan untuk siswa yang masih lebih muda atau lebih tua. Apalagi ini uji coba, jadi mungkin pihak penyelenggara sengaja membuatnya sedikit longgar untuk melihat respons peserta. “Tapi, apa boleh tim campuran antara SMP dan SMA…” Aku masih merasa ragu. Lagi pula, tawaran ini aku dapat dari Chiyoda-sensei—pembina klub astronomi SMA Amanuma. Makoto adalah siswa SMP dari sekolah lain. Apa benar dia bisa ikut…? “Kalau itu, mungkin harus ditanyakan juga.” Tapi Makoto tetap kalem dan tenang saja saat menjawab. “Maaf kalau jadi merepotkan. Tapi, di dalam persyaratannya juga tidak ada tulisan yang menyatakan ‘harus dari sekolah yang sama’, jadi aku rasa itu juga tidak masalah.” “Hmm… Iya juga, ya…” Apa yang dia katakan masuk akal. Memang belum ada jaminan pasti, tapi entah kenapa, aku mulai merasa ini bisa diwujudkan… Namun, meskipun semua itu masuk akal, ada satu hal yang mengganjal di dalam diriku. Bukan soal bisa atau tidak bisa… tapi kenapa? “Eh, tapi… kenapa tiba-tiba sekali?” Dengan nada agak berhati-hati, aku menanyakan hal itu pada Makoto. “Kau tidak pernah tertarik dengan astronomi, kan? Kenapa… tiba-tiba?” Itulah yang paling membingungkan. Di kehidupan SMA pertamaku, aku dan Makoto juga sering nongkrong di ruang klub astronomi. Tapi selama itu, dia hampir tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada bintang atau luar angkasa. Bahkan, saat aku menonton video-video bertema luar angkasa, dia sempat mencibir, “Lagi-lagi menonton hal berbau otaku…” padahal dia sendiri juga otaku. Intinya, dia benar-benar tidak tertarik pada luar angkasa. Jadi perubahan sikapnya ini sungguh aneh. “Itu karena…” Makoto membuka mulutnya. “Hmm?” “Aku… aku ingin ikut karena…” “Oh, kenapa, kenapa tiba-tiba?” Aku yakin pasti ada alasannya, hanya aku yang belum tahu saja. Pasti ada sesuatu yang bisa membuatku langsung paham dan berkata, “Ooooh, begitu toh!” Aku berpikir seperti itu, tapi── “…I-itu bukan urusanmu, kan!? Itu tidak penting!” “……!?” ──Suara yang keras. Tiba-tiba, dan tanpa konteks. “Aku cuma sedang mau saja! Memangnya salah kalau mau coba ikut!?” “Eh, t-tidak salah sih…” “Kalau begitu, ya sudah! Pembicaraannya selesai!” “Um, kenapa tiba-tiba teriak begitu…” “Aku tidak teriak!!” “Eh……” “Pokoknya! Tolong tanyakan ke panitianya ya! Apakah aku boleh ikut!” “Y-ya, kalau kau sampai segitunya… baiklah…” …Sungguh, apa yang dia rasakan sebenarnya? Barusan dia masih begitu tenang dan masuk akal, eh sekarang tiba-tiba meledak begitu… Memangnya semua gadis SMP memang begitu? Katanya anak muda emosinya memang labil… Sebagai kakak kelas yang lebih dewasa (kelas 1 SMA), mungkin aku harus menerima mereka dengan hati yang lapang… “──Nee nee, masih mengobrol dengan Onii?” Pintu terbuka, dan Mizuki mengintip dengan wajah bosan. Sepertinya Makoto ke sini tadi memang sedang main bersama Mizuki. Apa sebenarnya maksudnya datang ke kamarku sekarang ini…? Hari ini rasanya aku tidak bisa membaca pikiran Makoto sama sekali… “Yah, tapi aku juga sudah mau pulang, sih.” “Eh~ sudah mau pulang?” “Iya. Soalnya rumahku itu… ya begitulah.” “Kamu tidak apa-apa? Kalau mau, boleh kok menginap di sini?” “…Tidak, hari ini aku pulang saja.” “Begitu, ya.” Bahkan dengan Mizuki pun, percakapannya agak aneh. Apa maksudnya “rumahku itu…”? Yah, tapi aku juga sudah lelah untuk memikirkan itu semua… “Kalau begitu, Senpai, tolong ya.” Saat berjalan keluar kamar bersama Mizuki, Makoto menoleh padaku. “Mohon dicek, apakah aku boleh ikut.” “…Oke, akan aku pastikan.” Dan sebenarnya… aku juga senang dia mau ikut. Rasanya sepi kalau sendirian, jadi kata-katanya benar-benar menguatkanku. Dengan senyum getir, aku mengangguk dan berkata: “Terima kasih ya, sudah mau menemaniku.” Mendengar itu, Makoto tersenyum kecil, lalu keluar dari kamarku. **【Introduction 8.1】** POV: Nito Chika ──Aku berjalan sendirian, di tengah hujan kelopak bunga sakura. Ini adalah hari pertama sekolahku di SMA, untuk entah keberapa kalinya, setelah waktu berputar mundur dan membawaku kembali ke titik ini. Tepat di depan gerbang utama, sesaat sebelum upacara masuk dimulai. Pandangan mataku tertutupi oleh kelopak bunga berwarna merah muda. Angin meniup rambutku, dan aku buru-buru menahan rok dengan tangan kiri. Di tengah semua itu, pandanganku mengembara, mencari dirinya. Di mana dia? Pasti ada di suatu tempat dalam pemandangan ini. ──Sakamoto Meguri-kun. Anak laki-laki yang ingin aku dekati dalam putaran waktu kali ini── Langit yang dulu terlihat begitu indah, aroma bunga yang dulu terasa begitu harum. Teman-teman yang dulu terasa dekat, dan gedung sekolah tempatku menghabiskan waktu begitu lama. Perasaan terhadap hal-hal itu kini terasa memudar dengan jelas. Dalam banyak kali aku mengulang kehidupan SMA, berkali-kali pula aku merasakan akhir yang tak terhindarkan, membuat diriku terus-menerus terkikis. Terlalu terkikis hingga nyaris tak bersisa. Namun… “Sakamoto-kun…” Aku berbisik pelan menyebut namanya. Aku merasa bahwa sesuatu akan berubah jika bersamanya. Sakamoto-kun, yang menemukan bintang baru. Dia mengejar mimpinya di tempat yang berbeda denganku. Jika aku bisa bertemu dengannya, jika aku bisa berada di sisinya, mungkin aku bisa kembali menaruh harapan pada dunia ini. Itu adalah firasat yang jelas── Lalu saat itu── ──Duk. Sebuah benturan tumpul terasa di dadaku. Aku… menabrak seseorang. “Ah, maaf!” Secara refleks, aku berseru. “Bunga sakuranya terlalu banyak, jadi aku tidak bisa lihat ke depan…” Kurasa aku masih bisa mengeluarkan suara ceria. Suara seorang siswa teladan, seperti yang orang kenal sebagai Nito Chika di kelas── Namun di balik hujan kelopak bunga sakura yang perlahan mereda. Di balik kabut kelopak merah muda yang berputar di udara── ──dia berdiri di sana. Rambut hitam yang terlihat sedikit berantakan, dan wajah yang tampak cukup rupawan. Ekspresi yang aneh, seolah bisa terlihat sangat serius atau justru sebaliknya. Mata yang terbuka lebar karena terkejut, terlihat lembut── ──Itu Sakamoto-kun. Sakamoto Meguri-kun, yang selama ini kucari, berdiri tepat di sana. Ada sesuatu yang muncul dari dalam dadaku. Kebahagiaan, kegembiraan, rasa takjub karena bisa bertemu dengannya secara kebetulan seperti ini. Dan lebih dari semua itu──perasaan yang begitu kuat dan jelas. Perasaan yang belum kutahu namanya, namun mengalir tanpa henti. Maka aku pun berkata, “Salam kenal. Namaku Nito Chika.” Aku menyampaikan semua perasaan itu dalam sapaan itu. “Kamu juga siswa kelas 1, kan?” Dia menatapku lekat-lekat dengan mata terbelalak. Wajahnya yang seperti kucing terkejut, terlihat sangat lucu. Namun setelah beberapa saat hening, seolah baru tersadar, “A-aku kelas 1 juga. Namaku… Sakamoto Meguri…” Dia menjawab dengan suara malu-malu, agak canggung. “Meguri-kun. Sakamoto Meguri-kun. Wah, namamu bagus, ya.” Pasti, aku akan memanggil nama itu berkali-kali. Selama 3 tahun ke depan, aku akan berada di sisinya. Aku bahkan punya firasat bahwa kami akan menjadi sosok yang istimewa bagi satu sama lain. Karena itu, aku ingin terus memanggil namanya. Seperti waktu yang terus berputar, seperti musim yang terus berganti── “──Chika!” ──Suara yang memanggilku terdengar dari kejauhan. Itu suara Mone. Sepertinya dia memanggilku setelah melihatku berjalan mencari seseorang. “Ya~!” jawabku, lalu aku menoleh ke arah Sakamoto-kun. “Maaf, aku harus pergi.” “Ya… begitu ya…” Dia masih terlihat agak terdiam, seolah belum sadar sepenuhnya. Melihat ekspresinya itu, perasaanku kembali membuncah. Dan terhadap 3 tahun ke depan ini, aku mulai merasa ada harapan. “Tidak sabar ya. Menjalani kehidupan SMA ini.” Dengan segenap perasaan di hatiku, aku berkata padanya── “Semoga 3 tahun ke depan menyenangkan, ya, Meguri-kun──” **Previous Chapter** | **Next Chapter** Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Chapter 1 Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Chapter 1 - Orang Yang Melihat Bintang POV: Sakamoto Meguri “──Hee~ Tour keliling, ya……” 『Iya, begit...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Prolog **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena **Prolog** POV: Nito Chika ──2020YX78. Itulah nama yang diberikan pada benda langit baru yang ditemukan oleh dia, Sakamoto Meguri-kun. “Yaa, itu semacam… kode sementara begitu……” Di atas panggung aula olahraga, saat upacara sekolah yang memperkenalkan prestasinya, Sakamoto-kun berdiri menghadap mikrofon dengan wajah tegang. “Belum resmi diakui sebagai asteroid baru, sih. Sekarang masih seperti… ya, kemungkinan saja. Ehehe……” Senyumnya kaku, dan keringat membasahi dahinya. Dengan potongan rambut pendek dan wajah yang terlihat cukup rapi, caranya mengenakan seragam terlihat agak kuno—sama seperti biasanya saat terlihat di kelas. “Tapi nanti akan ada pemeriksaan orbit oleh International Astronomical Union. Kalau memang benar itu benda langit baru, aku bisa diberi kesempatan untuk memberikan nama… semoga saja begitu.” Melihatnya seperti itu, aku perlahan mengingat kembali── Hari-hari dalam kehidupan sekolah yang terus kujalani berulang kali. Hari-hari yang tak berjalan dengan baik, terus-menerus berputar dalam lingkaran tanpa akhir. Dan di dalamnya… ya, selalu begitu. Sakamoto-kun, teman sekelasku, setiap kali memasuki semester 3 tahun pertama SMA, selalu “menemukan asteroid baru”. Dan prestasinya selalu dipuji-puji di depan seluruh murid sekolah. …Aku tidak pernah terlalu banyak bicara dengannya. Aku juga tidak tahu seperti apa dia sebenarnya, dan tak ada ingatan lain tentangnya selain acara ini. Tapi kalau kupikir-pikir… itu mungkin benar-benar luar biasa. Menemukan benda langit baru di suatu tempat di luar angkasa. Menemukan “bintang” miliknya sendiri di semesta yang luas tanpa batas. Dan konon, dia bahkan bisa memberi nama sesuai keinginannya. Nama itu, mungkin saja, akan bertahan jauh lebih lama dari lagu yang pernah aku buat—bahkan sampai generasi-generasi mendatang. “…Itulah impianku sejak dulu.” Tiba-tiba, suaranya terdengar lebih lembut. “Menemukan bintangku sendiri. Memberikan nama padanya… itu sudah jadi mimpiku sejak lama.” Saat kulihat──dia, Sakamoto-kun di atas panggung tersenyum lembut, matanya menyipit, pandangannya menunduk. “Itulah sebabnya, aku sangat senang. Dan aku harap, ke depannya aku bisa terus hidup dengan tetap terlibat dalam astronomi……” Entah kenapa… melihatnya begitu membuat dadaku sedikit berdebar. Seolah ada perasaan baru yang tumbuh di dalam hatiku. Aku tak tahu harus menyebutnya apa. Tapi yang jelas, perasaan itu sungguh nyata, cerah, dan ringan. “Terima kasih karena telah memperkenalkanku seperti ini hari ini. Aku Sakamoto Meguri, dari kelas 1……” Ucapnya sambil menunduk dalam-dalam, lalu ia turun dari panggung. Tepuk tangan pun terdengar dari para murid, meski tidak bisa dibilang meriah. Namun, saat kusadari──aku sendiri sudah mengepalkan kedua tangan dan bertepuk tangan dengan lantang. * ──2 tahun kemudian. Sakamoto-kun kabarnya diterima di salah satu universitas ternama dalam negeri, dan kini sedang belajar demi menjadi seorang astronom. Sepertinya dia telah melangkah satu langkah lebih dekat ke impian yang pernah dia ucapkan waktu itu. Sementara itu, aku… Aku yang kali ini pun kembali menghancurkan segalanya karena obsesiku terhadap musik, “──Jadi, harus mengulang lagi, ya……” Hari kelulusan. Seperti biasa, aku datang ke ruang klub yang kecil dan kosong ini. Di salah satu sudutnya, aku duduk di depan piano, menaruh sepuluh jariku di atas tuts. Untuk sekali lagi memulai ulang kehidupan SMA-ku. Untuk menimpa akhir terburuk yang telah kutempuh── “…Ini sudah yang keberapa kali, ya?” Aku sudah lama berhenti menghitungnya. Aku bahkan tak bisa membayangkan lagi berapa tahun sebenarnya yang telah kulalui. Awalnya, aku sungguh berpikir──Dewa telah mengulurkan tangan penyelamat padaku. Pada akhir dari kehidupan SMA pertamaku, selama 3 tahun yang berakhir dengan kegagalan—baik dalam bermusik maupun dalam hubungan sosial. Saat aku menemukan cara untuk kembali ke masa lalu, aku percaya dengan polos bahwa aku akan diselamatkan. Dengan kekuatan ini, aku yakin bisa mendapatkan masa depan yang sempurna dan membahagiakan. Aku yakin bisa menggapai “besok” yang selalu kuimpikan. Tapi kenyataannya──yang menunggu diriku yang memulai kembali dari awal, hanyalah perang kelelahan tanpa akhir. Tak peduli berapa kali aku mengulang, aku tak pernah bisa membuat semua orang bahagia. Aku tak pernah bisa mencapai masa depan yang benar-benar memuaskan. Yang terjadi hanyalah diriku yang terus terkikis, dalam siklus yang tiada habisnya. Dan sekarang pun, bahkan setelah waktu yang terasa tak terbatas itu berlalu, aku masih terjebak dalam spiral itu── “……” Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa batas kemampuanku hampir tercapai. Aku takkan bisa terus mengulang 3 tahun ini lagi dan lagi. “…Apa yang akan terjadi padaku, ya.” Kata-kata itu terucap begitu saja. Apa yang akan terjadi jika aku terus mengulang dan akhirnya jiwaku benar-benar mencapai batasnya? Berbagai gambaran buruk bermunculan dalam benakku. Akhir yang tragis yang menanti diriku yang bodoh. Berbagai cabang kemungkinan akan akhir buruk. Aku takut. Aku merasa tak pasti dan kesepian. Meski begitu──aku tak punya pilihan lain. Untuk tetap bertahan. Untuk tak membuat siapa pun lagi jadi tidak bahagia── “…Haa.” Aku menghela napas, dan tanpa sadar mengarahkan pandangan ke luar jendela. Yang kulihat adalah kerumunan murid di sekitar gerbang utama. Mereka tertawa sambil menggenggam tabung berisi ijazah—teman-teman seangkatanku yang baru saja lulus. Dan di antara mereka, “──Sakamoto-kun……” Aku melihat sosoknya. “Sakamoto… Meguri-kun……” Dia sedang berbincang dengan seorang gadis berambut pirang. Mungkin temannya? Dia, anak lelaki yang menemukan bintang baru, dan akan terus memandang ke luar angkasa. Dan saat itulah── ──Di dalam hatiku yang telah lapuk, lahirlah sebuah keinginan kecil. Sebuah rasa ingin tahu yang lembut—entah itu harapan, ekspektasi, atau sesuatu yang serupa. Salah satu dari sedikit “hal yang masih ingin kulakukan” yang tersisa dalam diriku sekarang. Dan sebelum kusadari, aku pun berkata, “…Aku ingin coba berteman dengannya.” Itulah tujuan baruku. Dalam 3 tahun ke depan, aku ingin menjadi teman Sakamoto-kun. Menghabiskan masa SMA di sisinya. Kalau masa depan seperti itu bisa terwujud, aku merasa aku akan sanggup melalui 3 tahun ke depan ini juga. “Begitu saja, ya. Iya, sudah diputuskan……” Dengan senyum kecil di wajahku, aku meletakkan tangan di atas tuts. Lalu, setelah menarik napas dalam-dalam──aku membayangkan dengan kuat. 3 tahun SMA yang kuhabiskan di sisinya. Langit senja yang kami pandang bersama, rasa murung yang kami rasakan bersama, aroma bunga kinmokusei di udara. TL/N: Kinmokusei (金木犀): Bunga osmanthus harum berwarna oranye yang mekar di musim gugur di Jepang, sering diasosiasikan dengan kenangan dan nostalgia. Lalu, aku memanjatkan harapan. Agar aku bisa menjalani hari-hariku di sisinya── Aku menekan jari-jariku dengan penuh keyakinan. Aku memainkan laguku. Dunia mulai menjauh… dan sekali lagi, aku kembali ke titik awal 3 tahun SMA-ku. * ──Dan begitulah aku jatuh cinta, dan masa depannya pun mulai runtuh satu per satu. ** ** **Previous Chapter** | Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Prolog Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Prolog POV: Nito Chika ──2020YX78. Itulah nama yang diberikan pada benda langit baru yang ditemukan ole...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Preview
Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Prolog **Penerjemah** : Sena **Proffreader** : Sena **Prolog** POV: Nito Chika ──2020YX78. Itulah nama yang diberikan pada benda langit baru yang ditemukan oleh dia, Sakamoto Meguri-kun. “Yaa, itu semacam… kode sementara begitu……” Di atas panggung aula olahraga, saat upacara sekolah yang memperkenalkan prestasinya, Sakamoto-kun berdiri menghadap mikrofon dengan wajah tegang. “Belum resmi diakui sebagai asteroid baru, sih. Sekarang masih seperti… ya, kemungkinan saja. Ehehe……” Senyumnya kaku, dan keringat membasahi dahinya. Dengan potongan rambut pendek dan wajah yang terlihat cukup rapi, caranya mengenakan seragam terlihat agak kuno—sama seperti biasanya saat terlihat di kelas. “Tapi nanti akan ada pemeriksaan orbit oleh International Astronomical Union. Kalau memang benar itu benda langit baru, aku bisa diberi kesempatan untuk memberikan nama… semoga saja begitu.” Melihatnya seperti itu, aku perlahan mengingat kembali── Hari-hari dalam kehidupan sekolah yang terus kujalani berulang kali. Hari-hari yang tak berjalan dengan baik, terus-menerus berputar dalam lingkaran tanpa akhir. Dan di dalamnya… ya, selalu begitu. Sakamoto-kun, teman sekelasku, setiap kali memasuki semester 3 tahun pertama SMA, selalu “menemukan asteroid baru”. Dan prestasinya selalu dipuji-puji di depan seluruh murid sekolah. …Aku tidak pernah terlalu banyak bicara dengannya. Aku juga tidak tahu seperti apa dia sebenarnya, dan tak ada ingatan lain tentangnya selain acara ini. Tapi kalau kupikir-pikir… itu mungkin benar-benar luar biasa. Menemukan benda langit baru di suatu tempat di luar angkasa. Menemukan “bintang” miliknya sendiri di semesta yang luas tanpa batas. Dan konon, dia bahkan bisa memberi nama sesuai keinginannya. Nama itu, mungkin saja, akan bertahan jauh lebih lama dari lagu yang pernah aku buat—bahkan sampai generasi-generasi mendatang. “…Itulah impianku sejak dulu.” Tiba-tiba, suaranya terdengar lebih lembut. “Menemukan bintangku sendiri. Memberikan nama padanya… itu sudah jadi mimpiku sejak lama.” Saat kulihat──dia, Sakamoto-kun di atas panggung tersenyum lembut, matanya menyipit, pandangannya menunduk. “Itulah sebabnya, aku sangat senang. Dan aku harap, ke depannya aku bisa terus hidup dengan tetap terlibat dalam astronomi……” Entah kenapa… melihatnya begitu membuat dadaku sedikit berdebar. Seolah ada perasaan baru yang tumbuh di dalam hatiku. Aku tak tahu harus menyebutnya apa. Tapi yang jelas, perasaan itu sungguh nyata, cerah, dan ringan. “Terima kasih karena telah memperkenalkanku seperti ini hari ini. Aku Sakamoto Meguri, dari kelas 1……” Ucapnya sambil menunduk dalam-dalam, lalu ia turun dari panggung. Tepuk tangan pun terdengar dari para murid, meski tidak bisa dibilang meriah. Namun, saat kusadari──aku sendiri sudah mengepalkan kedua tangan dan bertepuk tangan dengan lantang. * ──2 tahun kemudian. Sakamoto-kun kabarnya diterima di salah satu universitas ternama dalam negeri, dan kini sedang belajar demi menjadi seorang astronom. Sepertinya dia telah melangkah satu langkah lebih dekat ke impian yang pernah dia ucapkan waktu itu. Sementara itu, aku… Aku yang kali ini pun kembali menghancurkan segalanya karena obsesiku terhadap musik, “──Jadi, harus mengulang lagi, ya……” Hari kelulusan. Seperti biasa, aku datang ke ruang klub yang kecil dan kosong ini. Di salah satu sudutnya, aku duduk di depan piano, menaruh sepuluh jariku di atas tuts. Untuk sekali lagi memulai ulang kehidupan SMA-ku. Untuk menimpa akhir terburuk yang telah kutempuh── “…Ini sudah yang keberapa kali, ya?” Aku sudah lama berhenti menghitungnya. Aku bahkan tak bisa membayangkan lagi berapa tahun sebenarnya yang telah kulalui. Awalnya, aku sungguh berpikir──Dewa telah mengulurkan tangan penyelamat padaku. Pada akhir dari kehidupan SMA pertamaku, selama 3 tahun yang berakhir dengan kegagalan—baik dalam bermusik maupun dalam hubungan sosial. Saat aku menemukan cara untuk kembali ke masa lalu, aku percaya dengan polos bahwa aku akan diselamatkan. Dengan kekuatan ini, aku yakin bisa mendapatkan masa depan yang sempurna dan membahagiakan. Aku yakin bisa menggapai “besok” yang selalu kuimpikan. Tapi kenyataannya──yang menunggu diriku yang memulai kembali dari awal, hanyalah perang kelelahan tanpa akhir. Tak peduli berapa kali aku mengulang, aku tak pernah bisa membuat semua orang bahagia. Aku tak pernah bisa mencapai masa depan yang benar-benar memuaskan. Yang terjadi hanyalah diriku yang terus terkikis, dalam siklus yang tiada habisnya. Dan sekarang pun, bahkan setelah waktu yang terasa tak terbatas itu berlalu, aku masih terjebak dalam spiral itu── “……” Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa batas kemampuanku hampir tercapai. Aku takkan bisa terus mengulang 3 tahun ini lagi dan lagi. “…Apa yang akan terjadi padaku, ya.” Kata-kata itu terucap begitu saja. Apa yang akan terjadi jika aku terus mengulang dan akhirnya jiwaku benar-benar mencapai batasnya? Berbagai gambaran buruk bermunculan dalam benakku. Akhir yang tragis yang menanti diriku yang bodoh. Berbagai cabang kemungkinan akan akhir buruk. Aku takut. Aku merasa tak pasti dan kesepian. Meski begitu──aku tak punya pilihan lain. Untuk tetap bertahan. Untuk tak membuat siapa pun lagi jadi tidak bahagia── “…Haa.” Aku menghela napas, dan tanpa sadar mengarahkan pandangan ke luar jendela. Yang kulihat adalah kerumunan murid di sekitar gerbang utama. Mereka tertawa sambil menggenggam tabung berisi ijazah—teman-teman seangkatanku yang baru saja lulus. Dan di antara mereka, “──Sakamoto-kun……” Aku melihat sosoknya. “Sakamoto… Meguri-kun……” Dia sedang berbincang dengan seorang gadis berambut pirang. Mungkin temannya? Dia, anak lelaki yang menemukan bintang baru, dan akan terus memandang ke luar angkasa. Dan saat itulah── ──Di dalam hatiku yang telah lapuk, lahirlah sebuah keinginan kecil. Sebuah rasa ingin tahu yang lembut—entah itu harapan, ekspektasi, atau sesuatu yang serupa. Salah satu dari sedikit “hal yang masih ingin kulakukan” yang tersisa dalam diriku sekarang. Dan sebelum kusadari, aku pun berkata, “…Aku ingin coba berteman dengannya.” Itulah tujuan baruku. Dalam 3 tahun ke depan, aku ingin menjadi teman Sakamoto-kun. Menghabiskan masa SMA di sisinya. Kalau masa depan seperti itu bisa terwujud, aku merasa aku akan sanggup melalui 3 tahun ke depan ini juga. “Begitu saja, ya. Iya, sudah diputuskan……” Dengan senyum kecil di wajahku, aku meletakkan tangan di atas tuts. Lalu, setelah menarik napas dalam-dalam──aku membayangkan dengan kuat. 3 tahun SMA yang kuhabiskan di sisinya. Langit senja yang kami pandang bersama, rasa murung yang kami rasakan bersama, aroma bunga kinmokusei di udara. TL/N: Kinmokusei (金木犀): Bunga osmanthus harum berwarna oranye yang mekar di musim gugur di Jepang, sering diasosiasikan dengan kenangan dan nostalgia. Lalu, aku memanjatkan harapan. Agar aku bisa menjalani hari-hariku di sisinya── Aku menekan jari-jariku dengan penuh keyakinan. Aku memainkan laguku. Dunia mulai menjauh… dan sekali lagi, aku kembali ke titik awal 3 tahun SMA-ku. * ──Dan begitulah aku jatuh cinta, dan masa depannya pun mulai runtuh satu per satu. ** ** **Previous Chapter** | Related Posts * * * *

Ashita Hadashi de Koi Volume 4 Prolog Penerjemah : Sena Proffreader : Sena Prolog POV: Nito Chika ──2020YX78. Itulah nama yang diberikan pada benda langit baru yang ditemukan ole...

#Ashita #Hadashi #de #Koi

Origin | Interest | Match

0 0 0 0
Post image

#barefoot #toes #minimalistic #barefootlovers #soles #barefootlife #barefootliving #hadashi #nelipot #earthing #piedsnus #barfuss #barfuß #freefeet #footlovers #feet #voeten #tenen #blootvoets #barefeet #boso #barefootlifestylephotography #mood #baresoles #feetinart #art #blootsvoets #ticklish

3 0 0 0